Internasional

Serikat Baru SK Hynix Diluncurkan, Pekerja Perkuat Daya Tawar di Tengah Rekor Laba

59
×

Serikat Baru SK Hynix Diluncurkan, Pekerja Perkuat Daya Tawar di Tengah Rekor Laba

Sebarkan artikel ini

New SK Hynix Union Launched as Workers Strengthen Bargaining Power Amid Record Profits

para peserta menghadiri unjuk yg diselenggarakan oleh konfederasi serikat buruh korea kctupada hari buruh-Kim Soo-hyeon

SEOUL — Gejolak hubungan industrial melanda raksasa pembuat chip memori asal Korea Selatan, SK Hynix. Para pekerja resmi meluncurkan serikat buruh baru pada Kamis (13/8) waktu setempat sebagai upaya menyatukan karyawan dari berbagai divisi dan lokasi sekaligus memperkuat posisi tawar dalam perundingan dengan manajemen.

Pembentukan serikat baru tersebut berlangsung ketika negosiasi upah tahunan perusahaan tengah memanas. Perselisihan semakin mencuat setelah SK Hynix membukukan rekor laba kuartalan, didorong lonjakan permintaan global terhadap infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Mengutip situs resmi perusahaan, hampir 2.500 pekerja SK Hynix telah bergabung dengan serikat baru setelah memperoleh izin dari pemerintah setempat. Jumlah tersebut masih relatif kecil dibandingkan total sekitar 35.000 karyawan SK Hynix di Korea Selatan.

Serikat baru ini memiliki cakupan yang berbeda dibandingkan serikat-serikat pekerja sebelumnya yang cenderung terfragmentasi berdasarkan jenis pekerjaan maupun lokasi pabrik. Organisasi baru tersebut berupaya mewakili seluruh kelompok pekerja SK Hynix, mulai dari pekerja pabrik di Icheon dan Cheongju hingga tenaga teknis dan staf perkantoran.

BACA JUGA:  Jawa Tengah Tawarkan Kawasan Industri Baru kepada Investor Singapura, Bidik Penguatan Investasi dan Penciptaan Lapangan Kerja

Target jangka pendeknya pun cukup ambisius. Serikat baru tersebut menargetkan keanggotaan lebih dari 50% dari total tenaga kerja perusahaan agar dapat memperoleh status sebagai serikat mayoritas dan memiliki posisi lebih kuat dalam menentukan arah perundingan kolektif dengan manajemen.

Perebutan Kendali atas Bonus Laba

Perselisihan antara pekerja dan manajemen salah satunya berakar pada perubahan skema bonus karyawan.

Pada tahun lalu, SK Hynix menyepakati alokasi sebesar 10% dari laba operasional tahunan sebagai bonus tunai bagi karyawan. Kesepakatan tersebut memiliki masa berlaku selama 10 tahun.

Namun, tahun ini manajemen mengusulkan perubahan skema dengan membayarkan sebagian besar bonus dalam bentuk saham perusahaan, bukan uang tunai. Kebijakan tersebut mengikuti langkah pesaing utamanya, Samsung Electronics.

Profesor Hukum Jaminan Sosial dari Korea University’s School of Law, Park Ji-soon, menilai kehadiran serikat baru berpotensi memicu persaingan sengit antarserikat dalam memperebutkan anggota.

Menurutnya, status sebagai serikat mayoritas menjadi faktor penting karena memberikan posisi strategis dalam proses perundingan kolektif dengan perusahaan.

BACA JUGA:  Indonesia dan India Perkuat Kerja Sama Pengembangan Talenta Digital dan AI untuk Hadapi Transformasi Dunia Kerja

Perubahan bonus dari uang tunai menjadi saham juga berpotensi memunculkan tuntutan tambahan dari pekerja. Salah satunya terkait fasilitas kesejahteraan, termasuk kemungkinan tuntutan fasilitas pinjaman perumahan yang setara dengan yang diterima pekerja Samsung Electronics.

Sementara itu, Profesor Manajemen Sogang University, Kim Yong-jin, menilai kekhawatiran pekerja terhadap kompensasi berbasis saham cukup beralasan. Pasalnya, nilai saham sangat dipengaruhi volatilitas pasar modal Korea Selatan.

Meski demikian, ia mencatat bahwa pemberian bonus dalam bentuk saham sebenarnya telah menjadi praktik yang cukup umum di Amerika Serikat.

Investor Ikut Cermati Beban Bonus

Perselisihan ketenagakerjaan di SK Hynix juga menarik perhatian investor. Pemegang saham mulai mempertanyakan dampak alokasi 10% laba operasional untuk bonus pekerja terhadap kemampuan perusahaan membiayai investasi sekaligus memberikan imbal hasil kepada pemegang saham.

Kekhawatiran tersebut muncul ketika industri semikonduktor tengah membutuhkan investasi besar untuk mengejar pertumbuhan permintaan chip yang berkaitan dengan pengembangan AI.

SK Hynix sendiri menjadi salah satu perusahaan yang mendapat manfaat besar dari meningkatnya permintaan chip memori berperforma tinggi untuk pusat data dan sistem AI.

BACA JUGA:  Delegasi Buruh Indonesia di ILC 114 Hadiri Jamuan Makan Malam Bersama Direksi dan Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan

Berkaca pada Samsung Electronics

Persoalan bonus di SK Hynix tidak dapat dilepaskan dari perkembangan hubungan industrial di Samsung Electronics.

Samsung dan serikat pekerjanya sebelumnya mencapai kesepakatan mengenai bonus kinerja pada Mei lalu. Kesepakatan tersebut sekaligus meredakan ancaman aksi mogok kerja massal yang sempat dikhawatirkan dapat mengganggu rantai pasokan chip global.

Dalam kesepakatan tersebut, Samsung mengalokasikan 10,5% laba operasional divisi semikonduktor sebagai bonus khusus bagi pekerja. Bonus diberikan dalam bentuk saham perusahaan dan disertai ketentuan pembatasan penjualan atau lock-up period untuk sebagian besar saham.

Perkembangan di kedua perusahaan menunjukkan bahwa melonjaknya keuntungan industri chip tidak otomatis mengakhiri perselisihan mengenai distribusi hasil produksi. Bagi pekerja SK Hynix, pembentukan serikat baru menjadi langkah strategis untuk mengonsolidasikan kekuatan pekerja.

Jika berhasil mencapai status mayoritas, serikat tersebut berpotensi memainkan peran penting dalam menentukan masa depan skema bonus, upah, dan berbagai hak kesejahteraan pekerja SK Hynix.

(Sumber : CNBC indonesia)