Nasional

Sherina Munaf Prihatin dengan Maraknya PHK, Sebut Banyak Orang Berpendidikan Tinggi Ikut Terdampak

136
×

Sherina Munaf Prihatin dengan Maraknya PHK, Sebut Banyak Orang Berpendidikan Tinggi Ikut Terdampak

Sebarkan artikel ini

Sherina Munaf Expresses Concern Over Widespread Layoffs, Says Many Highly Educated People Are Also Affected

Sherina Munaf-detik.com
JAKARTA — Penyanyi dan aktris Sherina Munaf menyampaikan keprihatinannya terhadap maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berdampak pada pekerja di Indonesia. Menurutnya, kehilangan pekerjaan merupakan situasi yang sulit dan menyedihkan, terutama bagi mereka yang harus menghadapi ketidakpastian penghasilan dan masa depan.

Sherina menegaskan bahwa tidak ada orang yang merasa bahagia melihat kondisi tersebut. Ia menilai, persoalan PHK perlu disikapi dengan empati karena di balik setiap pekerja yang kehilangan pekerjaan terdapat kehidupan, keluarga, serta kebutuhan ekonomi yang harus tetap dipenuhi.

Pernyataan itu disampaikan Sherina saat ditemui di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (27/10/2026).

Pekerja Berpendidikan Tinggi Juga Terdampak PHK

Sherina menyoroti bahwa gelombang PHK tidak hanya berdampak pada pekerja dengan latar belakang pendidikan atau pengalaman kerja tertentu. Orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi, ijazah yang baik, serta kemampuan dan rekam jejak mumpuni juga dapat mengalami kehilangan pekerjaan.

Menurutnya, pendidikan dan kemampuan yang dimiliki seseorang tidak selalu menjamin keamanan dalam dunia kerja. Situasi tersebut menunjukkan bahwa risiko PHK dapat menimpa berbagai kalangan, termasuk mereka yang memiliki kompetensi dan potensi besar.

BACA JUGA:  Kemnaker Catat 53.490 Pekerja Terkena PHK hingga Agustus 2026

Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa kehilangan pekerjaan bukan semata-mata persoalan individu yang tidak memiliki keterampilan. Berbagai faktor dapat memengaruhi keberlangsungan pekerjaan seseorang, sementara dampaknya tetap harus dihadapi oleh pekerja yang bersangkutan.

Bagi pekerja yang terkena PHK, ketidakpastian mengenai pekerjaan berikutnya dapat menimbulkan tekanan ekonomi dan mengganggu rencana kehidupan. Situasi semakin berat bagi mereka yang memiliki tanggungan keluarga serta kebutuhan sehari-hari yang bergantung pada penghasilan rutin.

Ajak Publik Terus Membicarakan Dampak PHK

Sherina juga mendorong agar persoalan PHK terus menjadi perhatian publik. Menurut pesan yang disampaikannya, isu tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai urusan pribadi pekerja semata, melainkan sebagai persoalan yang memiliki dampak sosial lebih luas.

Kehilangan pekerjaan dapat memengaruhi kondisi ekonomi keluarga, rasa aman, hingga rencana masa depan seseorang. Karena itu, pengalaman pekerja yang terdampak perlu mendapat ruang dalam percakapan publik.

BACA JUGA:  Inspeksi Mendadak ke PT Namnam Fashion Industries, Pemerintah Temukan Kejanggalan Penghitungan Pesangon Pekerja

Ia berharap masyarakat tidak berhenti membicarakan persoalan ketenagakerjaan, termasuk dampak yang dirasakan oleh mereka yang kehilangan pekerjaan maupun pekerja yang masih diliputi kecemasan mengenai keberlangsungan pekerjaannya.

Percakapan yang terbuka dan berkelanjutan dapat membantu masyarakat memahami persoalan yang dihadapi pekerja, mulai dari proses pemberhentian hingga kebutuhan dukungan setelah kehilangan penghasilan.

Selain itu, dialog yang melibatkan pekerja, komunitas, pemberi kerja, dan pemangku kebijakan dapat menjadi ruang untuk menyampaikan berbagai persoalan serta membahas kemungkinan langkah perbaikan.

Namun, upaya tersebut membutuhkan perhatian dan tindakan nyata dari berbagai pihak agar pembahasan mengenai PHK tidak berhenti pada ungkapan keprihatinan.

Sampaikan Simpati kepada Pekerja Terdampak

Sherina turut menyampaikan simpati kepada orang-orang yang telah mengalami PHK maupun mereka yang sedang menghadapi keresahan terkait pekerjaan.

BACA JUGA:  Ford Matangkan Rencana Produksi Lokal di Indonesia, Target Perakitan Kendaraan Dimulai 2028

Ia mengakui tidak mudah menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan situasi yang sedang mereka alami. Menurutnya, ungkapan simpati dari orang lain tidak serta-merta dapat mewakili seluruh pengalaman dan beban yang dirasakan seseorang ketika kehilangan pekerjaan.

Sherina juga menyadari bahwa dirinya tidak berada langsung dalam posisi yang sama dengan para pekerja terdampak. Karena itu, ia memilih menyampaikan keprihatinannya tanpa mengklaim memahami sepenuhnya kesulitan yang mereka hadapi.

Meski demikian, ia ingin para pekerja mengetahui bahwa kondisi mereka mendapat perhatian dan simpati.

Kepada mereka yang kehilangan pekerjaan maupun yang masih diliputi ketidakpastian, Sherina berharap agar mereka diberi kekuatan untuk melewati masa sulit dan bangkit menghadapi keadaan.

Pesan tersebut menegaskan pentingnya melihat persoalan PHK secara manusiawi. Di balik angka pengurangan tenaga kerja, terdapat individu yang berusaha mempertahankan kehidupan, memenuhi kebutuhan keluarga, dan mencari kepastian untuk melanjutkan masa depan. (Sumber : patrolihukumindonesia.com)