DaerahPendidikan

Program Sekolah Kemitraan Buka Harapan Baru, Anak Pengemudi Ojek dan Buruh Tani Kini Bisa Bersekolah Gratis

197
×

Program Sekolah Kemitraan Buka Harapan Baru, Anak Pengemudi Ojek dan Buruh Tani Kini Bisa Bersekolah Gratis

Sebarkan artikel ini

Partnership School Program Brings New Hope, Children of an Ojol Driver and a Farm Laborer Gain Access to Free High School Education

Foto - Ahmad Luthfi - Jangan Pernah Minder - kabarjateng.id

SEMARANG – Hari pertama masuk sekolah menjadi momen yang tak terlupakan bagi Rafa Fidianto. Putra seorang pengemudi ojek itu akhirnya dapat mengenakan seragam SMA setelah sebelumnya gagal lolos seleksi sekolah negeri karena nilai akademiknya belum memenuhi persyaratan.

Harapan Rafa untuk melanjutkan pendidikan akhirnya terwujud melalui Program Sekolah Kemitraan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Berkat program tersebut, ia kini resmi menjadi siswa di SMA Laboratorium UPGRIS, Kota Semarang.

Pada hari pertama sekolah, Senin (13/7/2026), Rafa bersama para siswa lainnya mendapat kunjungan langsung dari Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Dalam kesempatan tersebut, gubernur berdialog dengan para peserta didik mengenai latar belakang keluarga, cita-cita, hingga semangat mereka dalam menempuh pendidikan.

BACA JUGA:  Said Iqbal Ungkap Alasan KSPI Tak Gabung Koalisi Besar Perjuangan Buruh

Rafa mengaku sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah meskipun sebelumnya tidak berhasil diterima di sekolah negeri.

“Saya senang akhirnya bisa sekolah di sini dan punya banyak teman,” ujar Rafa.

Kisah serupa juga dialami Noval Surya Saputra. Bersama sang ibu, Mutiari Setyawati, ia mengaku Program Sekolah Kemitraan menjadi jalan keluar bagi keluarganya untuk memperoleh pendidikan tanpa harus terbebani biaya.

Mutiari mengatakan, pada awalnya Noval bercita-cita masuk sekolah negeri. Namun setelah mempertimbangkan jarak dari tempat tinggal mereka di Bandungan, keluarga memutuskan memilih SMA Laboratorium UPGRIS melalui program kemitraan tersebut.

“Alhamdulillah, kami sangat terbantu. Saya selalu mengingatkan anak supaya tetap percaya diri dan tidak merasa rendah diri,” kata Mutiari.

BACA JUGA:  Pengusaha, Petani, dan Serikat Pekerja Tolak Aturan Turunan PP 28/2024, Kirim Pesan ke Presiden Prabowo

Perjuangan serupa juga dirasakan seorang ibu yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari. Sebagai orang tua tunggal, ia mengaku kesulitan membiayai pendidikan anak bungsunya.

Melalui Program Sekolah Kemitraan, anaknya kini dapat melanjutkan pendidikan di tingkat SMA tanpa harus memikirkan biaya sekolah.

“Harapan saya sederhana, semoga anak saya memiliki kehidupan yang lebih baik dibanding ibunya,” tuturnya.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak, tanpa memandang latar belakang ekonomi keluarganya. Menurutnya, pemerintah harus hadir agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena keterbatasan biaya.

BACA JUGA:  Koalisi Buruh Peringatkan Parpol DPR, Siap Buka Daftar Partai yang Tak Berpihak pada Pekerja

“Boleh berasal dari keluarga yang berbeda, tetapi masa depan ditentukan oleh usaha kalian sendiri. Ora usah minder, tetap semangat,” pesan Ahmad Luthfi kepada para siswa.

Program Sekolah Kemitraan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah diharapkan menjadi solusi bagi siswa dari keluarga kurang mampu yang belum berhasil masuk sekolah negeri. Melalui program ini, pemerintah membuka akses pendidikan yang lebih luas sehingga seluruh anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita dan masa depan yang lebih baik.

(Sumber : Kabarjateng.id)