Internasional

Volvo Bakal PHK 2.500 Karyawan Global, 2.000 Pekerjaan Terdampak di Swedia

121
×

Volvo Bakal PHK 2.500 Karyawan Global, 2.000 Pekerjaan Terdampak di Swedia

Sebarkan artikel ini

Volvo to Cut 2,500 Jobs Worldwide, Including 2,000 Positions in Sweden

Volvo mengumumkan PHK 2.500 karyawan global, dengan 2.000 di antaranya di Swedia, untuk menekan biaya di tengah persaingan ketat dan permintaan menurun. (FOTOREUTERSANDREW KELLY)
STOCKHOLM – Produsen kendaraan asal Swedia, Volvo, mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 2.500 karyawan secara global. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.000 pekerjaan akan dikurangi di Swedia, negara asal perusahaan.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya Volvo menekan biaya operasional di tengah meningkatnya persaingan industri otomotif global, tekanan tarif perdagangan, serta melemahnya permintaan kendaraan di Amerika Serikat (AS).

Mengutip laporan Reuters yang dilansir CNN Indonesia, Jumat (23/10/2026), Volvo menyatakan bahwa pengurangan tenaga kerja akan dilakukan melalui sejumlah mekanisme. Di antaranya, mengakhiri kontrak konsultan, tidak mengganti karyawan yang keluar atau memasuki masa pensiun, serta menawarkan paket pengunduran diri khusus kepada pekerja.

Rencana PHK terbaru tersebut menambah tekanan terhadap tenaga kerja Volvo setelah perusahaan sebelumnya mengumumkan pemangkasan 3.000 posisi pada 2025, tidak lama setelah Hakan Samuelsson kembali menjabat sebagai CEO.

BACA JUGA:  Pabrik Sepatu PT PWI di Lebak Tutup, Sekitar 1.100 Pekerja Kehilangan Pekerjaan

Saat itu, Volvo juga menerapkan program penghematan senilai 18 miliar krona Swedia dan memperdalam kerja sama dengan sejumlah merek di bawah naungan Geely.

Kinerja Keuangan Tertekan

Tekanan terhadap perusahaan tercermin dalam kinerja keuangan kuartal III 2026. Volvo mencatatkan kerugian operasional yang disesuaikan sebesar 3,7 miliar krona Swedia atau sekitar US$373 juta.

Hasil tersebut berbalik tajam dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika perusahaan masih membukukan laba operasional yang disesuaikan sebesar 5,8 miliar krona Swedia.

CEO Volvo Hakan Samuelsson mengatakan kinerja pada kuartal III 2026 jauh dari harapan dan menunjukkan kondisi bisnis yang lebih sulit daripada perkiraan sebelumnya.

“Kuartal III 2026 sangat mengecewakan dan mencerminkan tahun yang jauh lebih menantang daripada yang diperkirakan sebelumnya. Oleh karena itu, rencana pemulihan yang sedang berjalan memerlukan penguatan yang tegas,” ujar Samuelsson.

BACA JUGA:  Alhamdulillah, Konvensi ILO Nomor 193 tentang Ekonomi Platform Disepakati di ILC 114: Tonggak Sejarah Perlindungan Pekerja Digital Dunia

Pada awal Oktober 2026, Volvo juga membatalkan proyeksi volume penjualan dan arus kas untuk setahun penuh. Keputusan tersebut diambil karena kondisi pasar semakin menantang dan prospek bisnis jangka pendek memburuk.

Tekanan Tarif dan Lesunya Permintaan Mobil Listrik

Selain kerugian operasional, margin laba kotor Volvo turut mengalami penurunan. Pada kuartal III 2026, margin laba kotor perusahaan tercatat sebesar 14,7 persen, turun dari 20,4 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor untuk menilai dampak tarif perdagangan dan kebijakan pemberian diskon terhadap kinerja perusahaan.

Harga saham Volvo juga mencatatkan rekor terendah pada pekan ini, dengan penurunan mencapai 54 persen sepanjang 2026 hingga waktu laporan tersebut diterbitkan.

BACA JUGA:  KBRI Paris Imbau WNI Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Gelombang Unjuk Rasa di Prancis

Kinerja saham yang tertekan mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap berbagai tantangan yang dihadapi perusahaan, mulai dari beban tarif, lemahnya permintaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV), hingga tingginya biaya pengembangan.

Volvo, yang mayoritas sahamnya dimiliki Geely Holding asal China, kini menghadapi tantangan untuk memulihkan kinerja keuangan sekaligus menyesuaikan struktur biaya di tengah persaingan industri otomotif yang semakin ketat.

Rencana pengurangan 2.500 pekerjaan tersebut menjadi bagian dari langkah efisiensi terbaru perusahaan untuk menghadapi tekanan pasar dan memperkuat program pemulihan bisnisnya. (Sumber : CNN indonesia)