Internasional

Penjualan BMW Anjlok di China, 1.800 Karyawan Terancam PHK, Persaingan Mobil Lokal Jadi Tekanan

101
×

Penjualan BMW Anjlok di China, 1.800 Karyawan Terancam PHK, Persaingan Mobil Lokal Jadi Tekanan

Sebarkan artikel ini

BMW Sales Plunge in China, 1,800 Employees Face Layoffs as Local Automakers Intensify Competition

BMW at Dusk in the City-Foto ilustrasi AI
JAKARTA – Raksasa otomotif asal Jerman, BMW, dikabarkan mulai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.800 karyawan di China. Kebijakan pengurangan tenaga kerja tersebut dilakukan di tengah penurunan penjualan kendaraan BMW yang semakin dalam di pasar otomotif terbesar dunia itu.

Jumlah pekerja yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 10 persen dari total tenaga kerja BMW Brilliance Automotive (BBA), perusahaan patungan BMW Group dengan Brilliance Group di China.

Berdasarkan laporan yang dikutip dari CarNewsChina, pengurangan karyawan tersebut mulai diberlakukan pada 2 November 2026. Informasi mengenai PHK ini diperoleh dari sejumlah karyawan yang mengonfirmasi adanya pemangkasan tenaga kerja di perusahaan.

PHK dilaporkan menyasar berbagai bagian pekerjaan, mulai dari lini produksi hingga administrasi. Namun, mayoritas pekerja yang terdampak berasal dari bagian produksi di fasilitas utama BMW di Shenyang, Provinsi Liaoning, China.

Karyawan yang terkena PHK memiliki masa kerja beragam. Mereka terdiri atas pekerja dengan masa kerja sekitar tiga hingga lima tahun, karyawan senior dengan pengalaman lebih dari satu dekade, hingga sejumlah manajemen lini depan.

BMW Tawarkan Pesangon dengan Skema N+5

Dalam proses pengurangan tenaga kerja tersebut, BMW dikabarkan menawarkan paket kompensasi atau pesangon menggunakan skema N+5.

Skema N dihitung berdasarkan gaji bulanan sebelum pajak sesuai masa kerja karyawan. Sementara itu, tambahan lima bulan dihitung berdasarkan gaji pokok dan tidak memasukkan bonus kinerja.

Meski demikian, hingga 4 November 2026, BMW belum mengeluarkan pernyataan resmi yang secara khusus mengonfirmasi jumlah 1.800 pekerja terdampak PHK di China maupun rincian kompensasi tersebut.

Pengurangan karyawan ini juga bukan menjadi langkah efisiensi pertama yang dilakukan perusahaan. Dalam beberapa tahun terakhir, BMW dilaporkan telah membatasi perekrutan tenaga kerja baru serta tidak memperpanjang sejumlah kontrak kerja yang berakhir.

BACA JUGA:  60 Pekerja Korban PHK Tanpa Pesangon di Bangka Barat Dapat Pendampingan Hukum

Penjualan BMW di China Anjlok 21,8 Persen

Tekanan terhadap tenaga kerja BMW tidak terlepas dari kondisi pasar otomotif China yang semakin kompetitif.

Berdasarkan data penjualan sembilan bulan pertama 2026, pengiriman kendaraan BMW dan MINI di China tercatat sekitar 376.000 unit. Angka tersebut turun 21,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan di China jauh lebih tajam dibandingkan kinerja penjualan BMW secara global.

Sepanjang Januari hingga September 2026, BMW Group mencatat pengiriman kendaraan sebanyak 1.707.802 unit atau turun 4,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 1.795.734 unit.

Pertumbuhan penjualan di sejumlah kawasan belum mampu mengimbangi pelemahan pasar China. Pengiriman kendaraan BMW Group di Eropa masih tumbuh 4,5 persen, sedangkan pasar Amerika Serikat meningkat 3,4 persen selama sembilan bulan pertama tahun ini.

Kondisi tersebut memperlihatkan besarnya tekanan yang dihadapi BMW di China, yang selama ini menjadi salah satu pasar utama bagi produsen mobil premium asal Jerman tersebut.

Persaingan dengan produsen otomotif lokal menjadi salah satu tantangan besar. Konsumen China semakin banyak mempertimbangkan kendaraan merek domestik yang menawarkan harga lebih kompetitif, teknologi modern, serta pilihan kendaraan listrik yang semakin beragam.

Situasi ini membuat produsen mobil premium asing harus menghadapi persaingan harga sekaligus perubahan preferensi konsumen.

Laba dan Margin Bisnis Otomotif BMW Ikut Tertekan

Tekanan bisnis BMW juga tercermin dalam laporan keuangan perusahaan.

BACA JUGA:  Starbucks Tutup 250 Gerai di Amerika Utara, PHK Mengintai Pekerja

Pada kuartal III 2026, BMW Group membukukan pendapatan sebesar 30,45 miliar euro, turun 5,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba sebelum pajak (EBT) perusahaan tercatat sebesar 2,083 miliar euro, turun 10,6 persen secara tahunan.

Kinerja segmen otomotif bahkan menunjukkan tekanan yang lebih besar. Margin EBIT bisnis otomotif BMW pada kuartal III 2026 turun menjadi 3,4 persen, dibandingkan 5,2 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara kumulatif, selama sembilan bulan pertama 2026, margin EBIT segmen otomotif berada di level 3,5 persen, turun dari 5,9 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Menghadapi kondisi tersebut, BMW kembali menurunkan proyeksi margin EBIT bisnis otomotif untuk sepanjang 2026 menjadi minus 0,5 persen hingga positif 0,5 persen. Sebelumnya, perusahaan memperkirakan margin tersebut berada di kisaran 1 hingga 3 persen.

Perusahaan menyebut peningkatan biaya restrukturisasi dan langkah penyesuaian bisnis menjadi salah satu faktor yang memengaruhi proyeksi keuangan tersebut.

Restrukturisasi Juga Menyasar Ribuan Pekerja di Jerman

Pengurangan sekitar 1.800 karyawan di China terjadi ketika BMW juga menjalankan program restrukturisasi di negara asalnya, Jerman.

BMW sebelumnya dikabarkan merencanakan pengurangan sekitar 8.000 posisi pekerjaan secara global, atau sekitar 5 persen dari total tenaga kerja perusahaan yang mencapai lebih dari 154.000 orang.

Di Jerman, program efisiensi tersebut lebih banyak menyasar posisi administrasi, penelitian dan pengembangan (R&D), serta perencanaan proyek.

Perusahaan juga menawarkan program pengunduran diri sukarela dengan kompensasi kepada karyawan. Program tersebut dilaporkan mendapat respons tinggi, dengan sekitar 5.000 kuota pengajuan terisi hanya dalam tiga hari.

BACA JUGA:  Dilema EV Thailand: Serbuan Mobil Tiongkok Ancam Industri dan Rantai Pasok Lokal

Dalam perkembangan terbaru, BMW menyatakan akan mempercepat dan memperluas langkah penataan organisasi serta mengurangi fungsi-fungsi manajemen lebih cepat dari rencana sebelumnya.

CEO BMW, Milan Nedeljkovic, memimpin upaya penyesuaian struktur perusahaan di tengah perubahan kondisi industri otomotif global.

BMW Tetap Lanjutkan Transformasi Kendaraan Listrik di China

Di tengah tekanan penjualan dan efisiensi tenaga kerja, BMW tetap melanjutkan investasi serta transformasi teknologi kendaraan listrik di China.

Salah satu langkah strategisnya adalah pengembangan platform kendaraan generasi terbaru Neue Klasse.

Pada 15 Oktober 2026, BMW mengumumkan dimulainya produksi massal baterai tegangan tinggi generasi keenam (Gen 6) di Shenyang. Investasi proyek tersebut mencapai sekitar 10 miliar yuan atau setara dengan sekitar 1,49 miliar dolar AS.

Baterai tersebut dipersiapkan untuk mendukung produksi kendaraan listrik generasi terbaru BMW, termasuk iX3 dan i3.

BMW juga menyiapkan peluncuran iX3 versi wheelbase panjang khusus pasar China pada November 2026.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa meskipun perusahaan menghadapi tekanan penjualan dan melakukan pengurangan tenaga kerja, China tetap menjadi bagian penting dalam strategi bisnis dan pengembangan teknologi BMW.

Tantangan BMW saat ini bukan hanya mempertahankan penjualan, tetapi juga menyesuaikan struktur biaya, strategi produk, dan teknologi agar mampu bersaing dengan produsen otomotif lokal yang semakin agresif.

Pengurangan sekitar 1.800 pekerja di China menjadi gambaran tekanan yang tengah dihadapi industri otomotif global, khususnya produsen kendaraan premium asing yang harus beradaptasi dengan perubahan pasar dan persaingan kendaraan listrik. (Sumber: Suara.com)