Internasional

Canva PHK 1.271 Karyawan atau 22 Persen dari Total Staf, CEO Melanie Perkins Sebut Perlu Rombak Perusahaan

81
×

Canva PHK 1.271 Karyawan atau 22 Persen dari Total Staf, CEO Melanie Perkins Sebut Perlu Rombak Perusahaan

Sebarkan artikel ini

Canva Lays Off 1,271 Employees, Cutting 22% of Its Workforce as CEO Melanie Perkins Says Company Needs an Overhaul

Canva Cartoon Design Studio
JAKARTA – Perusahaan teknologi desain grafis global Canva mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 1.271 karyawan atau sekitar 22 persen dari total tenaga kerja perusahaan. Kebijakan perampingan besar-besaran tersebut diumumkan langsung oleh Co-founder sekaligus CEO Canva, Melanie Perkins.

Keputusan ini menjadikan Canva sebagai salah satu perusahaan teknologi yang melakukan pengurangan tenaga kerja dalam jumlah besar. Pengumuman tersebut muncul hanya sehari setelah perusahaan teknologi Squarespace mengumumkan PHK terhadap 19 persen dari total karyawannya.

Dalam catatan yang disampaikan kepada seluruh karyawan, Perkins menjelaskan bahwa restrukturisasi tidak hanya berdampak pada pengurangan jumlah pekerja, tetapi juga perubahan posisi dan kebijakan penempatan karyawan.

Sebagian karyawan akan mengalami perubahan peran atau diminta untuk pindah ke pusat operasional perusahaan. Namun, bagi sebagian lainnya, keputusan ini berarti harus meninggalkan Canva.

“Sayangnya, ini juga berarti harus mengucapkan selamat tinggal kepada rekan kerja dan sahabat yang telah membantu membangun Canva hingga menjadi seperti sekarang,” demikian pernyataan Perkins.

Ia mengungkapkan bahwa keputusan PHK tersebut diambil setelah perusahaan mengevaluasi berbagai alternatif. Menurutnya, perubahan berskala kecil tidak lagi cukup untuk mempersiapkan Canva menghadapi tantangan bisnis selama satu dekade mendatang.

“Setelah mengeksplorasi berbagai alternatif, saya sampai pada kesimpulan sulit bahwa perubahan kecil tidak akan cukup. Untuk mempersiapkan perusahaan menghadapi dekade berikutnya, kita perlu membangun kembali Canva,” ujar Perkins.

Ia menegaskan, perusahaan ingin kembali pada prinsip awal pembentukan Canva, yakni mengembangkan tim-tim kecil yang memiliki kewenangan, kebebasan mengambil keputusan, tanggung jawab, serta fokus pada kebutuhan komunitas pengguna.

BACA JUGA:  Puluhan Buruh Korban PHK PT SGS Jombang Dirikan Tenda di Depan Disnaker, Desak Mediasi Segera Digelar

Restrukturisasi Organisasi dan Perubahan Sistem Kerja

Selain melakukan PHK, Canva juga akan merombak struktur organisasi, khususnya pada bagian pengembangan produk.

Perusahaan berencana menggabungkan tim Product, Growth, dan Platform ke dalam satu organisasi produk. Penggabungan ini bertujuan menyederhanakan jenjang organisasi sekaligus mengurangi tumpang tindih tanggung jawab antarbagian.

Canva juga akan menjadikan Sydney, Australia, sebagai pusat utama bagi lebih banyak tim produk. Sejumlah posisi dari divisi lain juga akan dipusatkan di lokasi tersebut, terutama pekerjaan yang membutuhkan koordinasi dan kolaborasi secara intensif.

Perubahan lainnya menyangkut kebijakan kerja hybrid. Mulai Januari mendatang, sebagian besar karyawan yang menerapkan sistem kerja hybrid akan diharapkan bekerja dari kantor selama dua hingga tiga hari setiap minggu, menyesuaikan kebutuhan masing-masing divisi.

BACA JUGA:  Volkswagen Pangkas 100.000 Pekerjaan, Jadi PHK Terbesar dalam Sejarah Industri Otomotif

Kebijakan tersebut menjadi penyesuaian terhadap sistem kerja fleksibel yang selama ini diterapkan Canva.

Karyawan Terdampak Mendapat Gaji Enam Bulan

Di tengah keputusan PHK tersebut, Canva menyatakan telah menyiapkan paket kompensasi dan dukungan bagi karyawan yang harus meninggalkan perusahaan.

Paket tersebut mencakup pembayaran gaji minimal selama enam bulan, perlindungan kesehatan selama 12 bulan, serta berbagai fasilitas dan sumber daya untuk membantu proses pencarian pekerjaan berikutnya.

Perusahaan menyebut pemberian benefit tersebut sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi para karyawan yang selama ini ikut membangun dan mengembangkan Canva.

Canva Tetap Berinvestasi pada Teknologi AI

PHK terhadap 1.271 karyawan menjadi perhatian karena Canva selama ini dikenal sebagai salah satu platform desain grafis paling populer di dunia, termasuk di Indonesia.

Di tengah restrukturisasi organisasi, perusahaan justru terus mengembangkan berbagai inovasi teknologi, terutama kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah Canva Craft, model AI internal pertama Canva untuk mendukung proses pembuatan gambar.

Perusahaan juga memperkuat ekosistem produknya melalui Canva ProSuite yang mengintegrasikan Affinity, Cavalry, dan AI Assistant.

Sepanjang 2026, Canva tercatat telah merilis 100 pembaruan Visual Suite. Berbagai pembaruan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan produk dan teknologi masih menjadi salah satu fokus utama perusahaan.

BACA JUGA:  Hari ke dua ILC ke-114, Delegasi Buruh Indonesia Asal Banten Ikuti Pembahasan Berbagai Komite Strategis di Jenewa

Sementara itu, tingginya adopsi teknologi AI di Indonesia turut menjadi pasar potensial bagi Canva. Survei perusahaan mengungkapkan bahwa 98 persen profesional Indonesia telah menggunakan AI untuk membantu pembuatan presentasi.

Gelombang PHK Perusahaan Teknologi

Langkah Canva melakukan PHK terhadap lebih dari seribu karyawan juga memperlihatkan berlanjutnya tren efisiensi di industri teknologi global.

Sehari sebelumnya, Squarespace juga mengumumkan pengurangan 19 persen tenaga kerjanya. Dua keputusan tersebut memperlihatkan bagaimana perusahaan teknologi mulai menata ulang struktur organisasi, mengonsolidasikan tanggung jawab, dan menyesuaikan kebutuhan sumber daya manusia.

Bagi Canva, restrukturisasi ini disebut sebagai upaya membangun kembali fondasi perusahaan atau “refound Canva” untuk menghadapi tantangan satu dekade mendatang.

Namun, bagi 1.271 karyawan yang terdampak, keputusan tersebut menjadi pukulan tersendiri di tengah perubahan industri teknologi yang semakin kompetitif.

Meski perusahaan telah menyiapkan kompensasi dan perlindungan kesehatan, gelombang PHK ini kembali menjadi pengingat bahwa perusahaan teknologi besar sekalipun tidak luput dari kebijakan efisiensi tenaga kerja.(Sumber : telset.id)