NasionalOpini

Saat Ribuan Buruh Kehilangan Pekerjaan, Tiket Konser Rp5 Juta Tetap Laris Manis

58
×

Saat Ribuan Buruh Kehilangan Pekerjaan, Tiket Konser Rp5 Juta Tetap Laris Manis

Sebarkan artikel ini

While Thousands of Workers Lose Their Jobs, $300 Concert Tickets Still Sell Like Hotcakes

Antara PHK dan tiket konser ludes

JAKARTA – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di sejumlah daerah pada awal Agustus 2026. Pekerja di sektor industri garmen, media, teknologi hingga pertambangan ikut terdampak. Secara nasional, sekitar 32.389 pekerja kehilangan pekerjaan sepanjang semester pertama 2026.

Namun, di tengah tekanan ekonomi tersebut, tiket konser dengan harga mencapai Rp2 juta hingga Rp5 juta justru tetap diburu. Sejumlah konser artis internasional bahkan dilaporkan sold out dalam hitungan menit dan menyisakan antrean panjang calon pembeli.

Fenomena ini sekilas terlihat bertolak belakang. Di satu sisi, sebagian masyarakat harus menghadapi PHK dan mengetatkan pengeluaran. Di sisi lain, masih ada kelompok masyarakat yang mampu mengalokasikan jutaan rupiah untuk menikmati hiburan.

Industri Konser Kembali Bergairah

President Director PT Java Festival Production (JFP) Dewi Gontha mengatakan industri konser musik nasional kembali bergairah pada 2026 setelah mengalami perlambatan sepanjang 2025.

Menurut Dewi, kebangkitan industri sebenarnya telah mulai terlihat sejak 2022, ketika aktivitas hiburan perlahan pulih setelah pandemi Covid-19. Antusiasme masyarakat untuk kembali menikmati pertunjukan secara langsung turut mendorong munculnya berbagai konser dan penyelenggara baru.

Kondisi tersebut kembali membaik pada 2026. Sejumlah musisi internasional dijadwalkan tampil di Indonesia sepanjang Juli hingga Desember, antara lain The Neighbourhood, Mitski, BABYMONSTER, LANY, Guns N’ Roses, My Chemical Romance, 5 Seconds of Summer hingga BTS.

BACA JUGA:  PT Agrinas Palma Nusantara Buka Lebih dari 20 Ribu Lowongan Kerja untuk Perkuat Pengelolaan Perkebunan Sawit

Tingginya minat masyarakat juga terlihat dari penyelenggaraan berbagai festival musik. Prambanan Jazz Festival 2026, misalnya, mencatat sekitar 85.000 penonton selama tiga hari pada 3-5 Juli 2026. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang 12 tahun penyelenggaraan festival.

Ekonomi Sulit, Masyarakat Tetap Membutuhkan Hiburan

Dewi menilai ramainya konser tidak otomatis menunjukkan bahwa daya beli seluruh masyarakat sedang kuat. Menurutnya, penonton konser berasal dari berbagai kelompok ekonomi.

Sebagian anak muda masih memiliki kemampuan membeli tiket karena telah menabung atau mendapatkan dukungan finansial dari orang tua.

Selain itu, konser bagi sebagian orang tidak sekadar dianggap sebagai aktivitas konsumtif. Hiburan dapat menjadi sarana melepas stres, memperoleh energi positif dan menjaga keseimbangan psikologis setelah menghadapi rutinitas sehari-hari.

Karena itu, pengeluaran untuk konser oleh sebagian masyarakat dipandang sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan pengalaman, bukan sekadar membeli barang.

Daya Beli Masyarakat Tidak Seragam

Perencana keuangan sekaligus Founder Finante.id Rista Zwestika mengatakan fenomena tiket konser yang ludes tidak dapat dijadikan ukuran bahwa seluruh masyarakat Indonesia memiliki daya beli tinggi.

Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat sangat beragam. Ada kelompok yang mampu membeli tiket konser tanpa mengganggu kondisi keuangannya. Namun, ada pula yang rela mengorbankan pos keuangan lain, bahkan menggunakan cicilan atau paylater demi mendapatkan pengalaman yang dianggap berharga.

BACA JUGA:  Eksekusi Hotel Sultan Tinggal Hitungan Hari, Pekerja Siap Hadang Pengosongan

Dalam perspektif perencanaan keuangan, persoalan utamanya bukan pada konser yang didatangi, melainkan bagaimana seseorang membiayai pembelian tiket tersebut.

Pembelian tiket masih tergolong sehat apabila menggunakan dana yang memang telah dialokasikan untuk hiburan, bonus atau penghasilan yang mencukupi. Sebaliknya, keputusan tersebut menjadi berisiko apabila harus mengurangi dana darurat, mencairkan investasi jangka panjang atau menggunakan utang konsumtif.

Pengalaman Semakin Dianggap Berharga

Perubahan pola konsumsi juga ikut menjelaskan fenomena tersebut. Jika sebelumnya nilai seseorang lebih sering dikaitkan dengan barang yang dimiliki, kini pengalaman semakin dianggap memiliki nilai tersendiri.

Konser, perjalanan dan berbagai bentuk hiburan dapat memberikan kebahagiaan, memperluas relasi sosial serta menciptakan kenangan. Namun, Rista mengingatkan bahwa pengalaman tersebut tetap merupakan konsumsi dan tidak dapat disamakan dengan investasi finansial.

Menurutnya, konser baru dapat dikategorikan sebagai investasi apabila pengeluaran tersebut secara langsung berpotensi meningkatkan kemampuan seseorang menghasilkan pendapatan. Sementara itu, tiket konser lebih tepat disebut konsumsi yang memberikan manfaat psikologis.

Waspadai FOMO dan Utang Konsumtif

Rista mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan istilah YOLO, healing atau self-reward sebagai pembenaran untuk melakukan pengeluaran secara impulsif.

Sebelum membeli tiket konser dengan harga mahal, terdapat tiga pertanyaan penting yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, apakah tiket tersebut dapat dibayar tanpa berutang? Kedua, apakah dana darurat dan tabungan tetap aman setelah pembelian? Ketiga, apakah keputusan membeli tiket tetap akan diambil jika tidak ada tekanan dari media sosial atau lingkungan pertemanan?

BACA JUGA:  Banjir Plastik Impor Murah Ancam Industri Nasional, Ekonom Ingatkan Risiko PHK dan Perlambatan Investasi

Jika seluruh pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan “ya”, keputusan membeli tiket kemungkinan masih berada dalam batas yang sehat.

Sebaliknya, apabila pembelian harus mengorbankan kebutuhan pokok, dana darurat atau tujuan keuangan jangka panjang, keputusan tersebut perlu dipertimbangkan kembali.

Menikmati Hidup Tanpa Mengorbankan Masa Depan

Ludesnya tiket konser di tengah maraknya PHK menunjukkan bahwa kondisi ekonomi masyarakat tidak seragam. Sebagian masyarakat masih memiliki daya beli kuat, sementara kelompok lainnya menghadapi tekanan ekonomi yang jauh lebih berat.

Dari sisi ekonomi, tingginya aktivitas konser juga memberikan dampak terhadap sektor lain, seperti hotel, transportasi, kuliner, pariwisata dan UMKM.

Namun, dari sisi rumah tangga, pengeluaran untuk hiburan tetap harus disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Menikmati konser atau hiburan bukan sesuatu yang otomatis salah. Persoalannya adalah memastikan pengeluaran tersebut tidak mengorbankan kebutuhan yang lebih penting maupun kondisi keuangan di masa depan.

Dengan demikian, menikmati hidup dan menyiapkan masa depan sebenarnya bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya tetap dapat berjalan bersama selama setiap pengeluaran dilakukan secara terukur dan sesuai kemampuan finansial.

(Sumber : kompas.com)