Internasional

Starbucks Tutup 250 Gerai di Amerika Utara, PHK Mengintai Pekerja

96
×

Starbucks Tutup 250 Gerai di Amerika Utara, PHK Mengintai Pekerja

Sebarkan artikel ini

Starbucks to Close 250 Stores in North America, Workers Face Potential Layoffs

ILUSTRASI-Starbucks Tutup 250 Gerai Siap-Siap PHK Massal

JAKARTA – Starbucks mengumumkan rencana menutup sekitar 250 gerai kafe di Amerika Utara sebagai bagian dari strategi pemulihan bisnis perusahaan. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 1% dari total sekitar 18.000 gerai Starbucks di kawasan tersebut.

Penutupan terutama menyasar gerai yang dinilai memiliki kinerja kurang baik dan tidak lagi memenuhi target pengalaman pelanggan maupun prospek keuangan perusahaan.

Chief Operating Officer Starbucks, Mike Grams, menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil setelah perusahaan melakukan peninjauan terhadap portofolio gerai di Amerika Utara.

“Kami telah meninjau secara cermat portofolio gerai kopi kami di Amerika Utara dan mengidentifikasi lokasi-lokasi yang menurut kami tidak dapat secara konsisten memberikan pengalaman yang kami inginkan bagi pelanggan dan mitra, atau lokasi yang tidak memiliki prospek kinerja keuangan yang memadai,” tulis Mike Grams dalam surat kepada karyawan, dikutip CNBC International, Jumat (25/9/2026).

Sebagian besar penutupan gerai dijadwalkan berlangsung sebelum berakhirnya tahun fiskal 2026 Starbucks. Tahun fiskal perusahaan tersebut berakhir pada akhir September.

BACA JUGA:  Buruh Indonesia Minta Regulasi AI Berkeadilan: Kemajuan Teknologi Tak Boleh Mengorbankan Pekerja

Fokus Pemulihan Bisnis

Kebijakan penutupan gerai tersebut merupakan bagian dari upaya Starbucks melakukan perombakan bisnis di Amerika Serikat di bawah kepemimpinan CEO Brian Niccol.

Manajemen Starbucks sebelumnya menempatkan peningkatan pengalaman pelanggan sebagai salah satu fokus utama pemulihan bisnis. Strategi tersebut antara lain diarahkan untuk memperkuat interaksi langsung antara pelanggan dan pekerja di gerai.

Di sisi lain, Starbucks memproyeksikan pembukaan bersih sekitar 440 gerai baru pada tahun fiskal 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran 600 hingga 650 gerai.

Pembukaan gerai baru tersebut terutama akan dilakukan di pasar internasional.

“Perusahaan terus melihat peluang pertumbuhan jangka panjang yang signifikan di Amerika Utara dan secara aktif mengembangkan rencana pembukaan gerai kopi baru yang kuat,” ungkap Starbucks dalam dokumen laporan resminya.

Biaya Restrukturisasi Capai Rp5,28 Triliun

Penutupan gerai diperkirakan menimbulkan biaya restrukturisasi sekitar US$300 juta atau sekitar Rp5,28 triliun.

BACA JUGA:  9 Pekerja Tewas Akibat Terowongan Proyek PLTA Runtuh di India, Operasi Penyelamatan Terus Berlangsung

Dari jumlah tersebut, sekitar US$200 juta berkaitan dengan pengakhiran kontrak sewa lebih awal serta pembayaran pesangon bagi karyawan yang terdampak.

Sementara itu, sekitar US$100 juta lainnya merupakan biaya non-tunai yang berasal dari pelepasan dan penurunan nilai aset restoran milik perusahaan.

Dengan adanya penutupan gerai, pekerja Starbucks juga berpotensi terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sebelumnya, pada Mei 2026, Starbucks telah melakukan PHK terhadap sekitar 300 karyawan korporat di Amerika Serikat serta menutup sejumlah kantor regional.

Langkah tersebut melanjutkan kebijakan restrukturisasi yang sebelumnya dilakukan perusahaan pada September 2025.

Penutupan sekitar 250 gerai di Amerika Utara kini menjadi bagian terbaru dari rangkaian restrukturisasi Starbucks dalam upaya memperbaiki kinerja bisnis sekaligus mengarahkan kembali strategi pertumbuhan perusahaan.  (Sumber : CNBC indonesia)

BACA JUGA:  Kanada Bersiap Hadapi Tarif hingga 50 Persen dari AS, Industri Terancam dan PHK Membayangi