Internasional

AI dan Robot Jadi Tantangan Baru Buruh Otomotif, UAW Khawatir Lapangan Kerja Menyusut

99
×

AI dan Robot Jadi Tantangan Baru Buruh Otomotif, UAW Khawatir Lapangan Kerja Menyusut

Sebarkan artikel ini

AI and Robots Present New Challenges for Auto Workers, UAW Worries Job Opportunities Will Shrink

Perakitan oleh Robot di Pabrik Mobil

Jakarta – Perselisihan antara produsen mobil dan serikat pekerja yang selama puluhan tahun didominasi isu kenaikan upah, tunjangan, hingga penutupan pabrik kini memasuki babak baru. Ancaman terbesar yang mulai menjadi perhatian kalangan buruh bukan lagi sekadar efisiensi perusahaan, melainkan pesatnya penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan robot di industri otomotif.

Pemanfaatan AI dan robot dinilai mampu mengubah wajah industri manufaktur kendaraan. Teknologi tersebut membuat proses produksi berlangsung lebih cepat, efisien, dan presisi. Namun, di balik berbagai keuntungan itu, muncul kekhawatiran bahwa semakin banyak pekerjaan manusia yang akan digantikan oleh mesin.

Kekhawatiran tersebut disuarakan oleh serikat pekerja industri otomotif Amerika Serikat, United Auto Workers (UAW). Organisasi buruh itu menilai perkembangan otomatisasi harus diimbangi dengan perlindungan terhadap pekerja agar transformasi industri tidak berujung pada berkurangnya kesempatan kerja.

BACA JUGA:  Mensesneg Prasetyo Hadi Ditunjuk Pimpin Satgas Mitigasi PHK

Dalam beberapa tahun terakhir, produsen otomotif memang semakin gencar mengadopsi teknologi robotika di fasilitas produksinya. Dengan bantuan robot, berbagai pekerjaan yang bersifat berulang dapat diselesaikan lebih cepat dan akurat. Selain meningkatkan kualitas produk, penggunaan robot juga membantu perusahaan menekan biaya operasional sehingga mampu menjaga daya saing di tengah ketatnya persaingan industri global.

Salah satu perusahaan yang telah menerapkan teknologi tersebut adalah General Motors. Pabrikan asal Amerika Serikat itu menggunakan sekitar 50 robot kolaboratif atau collaborative robots (cobot) di fasilitas Factory ZERO.

Robot-robot tersebut dirancang untuk bekerja berdampingan dengan pekerja manusia, bukan sepenuhnya menggantikan mereka. Kehadiran cobot diklaim mampu meningkatkan efisiensi proses produksi sekaligus memperkuat aspek keselamatan kerja karena mengambil alih pekerjaan yang berat, berulang, atau berisiko tinggi.

BACA JUGA:  Delegasi Serikat Pekerja Indonesia Bertemu Presiden ILC, Bahas Penguatan Kerja Sama Indonesia–Turki

Meski demikian, serikat pekerja menilai perkembangan teknologi tetap harus diiringi kebijakan yang melindungi tenaga kerja, termasuk melalui peningkatan keterampilan (reskilling dan upskilling), pelatihan teknologi baru, serta jaminan bahwa otomatisasi tidak menjadi alasan untuk melakukan pengurangan tenaga kerja secara besar-besaran.

Transformasi industri otomotif menuju era AI dan otomatisasi diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi tersebut menjadikan dialog antara perusahaan, pemerintah, dan serikat pekerja semakin penting agar inovasi teknologi dapat berjalan seiring dengan perlindungan terhadap hak dan masa depan para pekerja. @kg_krd