DaerahPendidikan

Semangat Membara di Balik Dinginnya Subuh: Perjalanan Ega, Tulang Punggung Keluarga yang Tembus Biologi UI

121
×

Semangat Membara di Balik Dinginnya Subuh: Perjalanan Ega, Tulang Punggung Keluarga yang Tembus Biologi UI

Sebarkan artikel ini

Burning Spirit in the Chilling Dawn: Ega’s Journey from Family Breadwinner to Universitas Indonesia’s Biology Student

Muhammad Ega Arya Rizky, anak penjual bandeng yang juga buruh panggul ekspedisi, berhasil membuktikan tekadnya dengan lolos SIMAK UI di Jurusan Biologi FMIPA UI

SURABAYA — Malam belum sepenuhnya usai di Pasar Keputran, Surabaya. Di saat remaja seusianya masih terlelap dalam tidur, Muhammad Ega Arya Rizky (19) sudah harus membelah dinginnya angin subuh. Sebagai anak kedua yang menjadi tulang punggung keluarga, Ega telah terbiasa memikul beban hidup berat sejak usia muda.

Setiap dini hari, ia dengan setia membantu ibunya berbelanja bahan dagangan, mengantar pesanan bandeng presto, hingga bekerja sebagai buruh panggul di jasa ekspedisi demi memenuhi kebutuhan dapur.

Bertarung dengan Keadaan Demi Keluarga

Sejak sang ayah meninggal dunia pada tahun 2019, beban keluarga jatuh sepenuhnya ke pundak Ega dan ibunya, Nur Hidayah (47), yang kini memiliki keterbatasan fisik pascaoperasi. Demi menyambung hidup dan membayar berbagai kewajiban seperti token listrik, tagihan PDAM, hingga cicilan, Ega harus mengorbankan waktu istirahatnya.

Tak jarang, siswa yang bercita-cita menjadi peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini terlambat datang ke sekolah. Akibatnya, ia beberapa kali harus menerima teguran dari pihak sekolah. Namun, di balik berbagai keterbatasan tersebut, Ega tidak pernah menyerah. Ia justru membuktikan kapasitasnya melalui sejumlah prestasi, salah satunya di ajang Olimpiade Generasi Emas Indonesia cabang Biologi, serta aktif mengembangkan bakat di bidang musik.

“Kalau melihat ibu bangun pagi-pagi untuk menggoreng ikan dan jualan, hati rasanya trenyuh. Dari situ muncul motivasi: aku harus bisa, aku harus sukses untuk menaikkan derajat orang tua,” ungkap Ega.

Titik Balik Lewat Beasiswa Youth Ekselensia Scholarship (YES)

Perjalanan hidup Ega mulai mengalami titik balik yang cerah setelah ia bergabung dalam program beasiswa Youth Ekselensia Scholarship (YES) dari Dompet Dhuafa.

BACA JUGA:  Jawa Tengah Tawarkan Kawasan Industri Baru kepada Investor Singapura, Bidik Penguatan Investasi dan Penciptaan Lapangan Kerja

Program pembinaan selama 12 bulan ini tidak hanya menyediakan bantuan finansial berupa uang saku dan buku persiapan UTBK, tetapi juga membentuk karakter melalui:

  • Quranic Mentorship dan hafalan Juz 30 serta 24 hadis pilihan

  • Leadership Booster dan Campus Prepared

  • Kegiatan Focus Group Discussion (FGD), book sharing, hingga sesi bersama tokoh dan alumni

Awalnya, Ega sempat meragukan arti penting pendidikan tinggi dan berniat langsung bekerja demi membantu keluarga. Namun, setelah mendapat pembinaan intensif dari YES, pandangannya terbuka secara luas.

“Setelah masuk YES dan lihat perjuangan teman-teman lain, cara pandangku terbuka luas. Pendidikan adalah faktor kunci untuk memutus rantai kemiskinan keluarga,” ujarnya.

Buktikan Keterbatasan Bukan Halangan, Sukses Melenggang ke UI

Sempat diremehkan oleh lingkungan sekitar karena diragukan bisa menembus kampus impian, tekad Ega justru semakin membaja. Ketertarikannya pada dunia sains—khususnya riset hidrogel berbasis bahan alami untuk pemulihan jaringan tubuh pascaoperasi yang terinspirasi dari kecelakaan yang pernah ia alami—membawanya memilih Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI).

BACA JUGA:  Buruh Perempuan di Jepara Di-PHK Usai Tertidur Kurang dari Dua Menit, Kini Bertahan Hidupi Dua Anak dari Rumah

Kerja keras, doa sang ibu, serta ketekunannya akhirnya terbayar lunas ketika pengumuman seleksi menyatakan dirinya resmi diterima di kampus almamater kuning tersebut. Keberhasilan ini sekaligus mengubah pribadinya yang dahulu pemalu dan kurang percaya diri menjadi sosok yang berani bermimpi besar.

“Jangan jadikan keterbatasan atau ketidaklengkapan orang tua sebagai alasan untuk down. Jadikan itu motivasi utama untuk mengangkat derajat orang tua dan keluarga,” pesan Ega penuh haru.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada sang ibu serta para donatur Dompet Dhuafa yang telah membuka jalan bagi anak-anak prasejahtera untuk mengenyam pendidikan tinggi.

Mendengar kabar bahagia tersebut, Nur Hidayah tak kuasa menahan rasa bangganya. Ia menitipkan pesan mendalam bagi sang putra yang bersiap merantau ke ibu kota.

“Kamu laki-laki, harus kuat merantau dan mengolah dirimu menjadi sukses, jangan seperti Bunda. Jaga etika, ibadah, dan agama. Saya yakin Ega anak yang kuat dan mandiri,” tutur Nur Hidayah.

Melalui program seperti YES, Dompet Dhuafa terus berkomitmen mendampingi generasi muda dari keluarga prasejahtera agar mampu melompati batas kemiskinan struktural, merajut asa, dan menggapai cita-cita setinggi langit. (Sumber : kompas.com)

BACA JUGA:  Pemkot Balikpapan Targetkan TPT Tetap di Level 5,8 Persen di Tengah Ancaman PHK dan Perlambatan Ekonomi