JAKARTA – Kisah Siti Kristina dan Adi Hariyanto menjadi gambaran nyata bahaya paparan asbes di lingkungan kerja yang dampaknya baru dirasakan bertahun-tahun setelah masa kerja berakhir. Keduanya merupakan mantan pekerja pabrik berbahan asbes yang kini hidup dengan penyakit paru kronis akibat paparan serat asbes selama puluhan tahun.
Siti Kristina menghabiskan 22 tahun bekerja sebagai operator mesin pemintal asbes di sebuah pabrik di Cibinong, Jawa Barat. Saat pertama kali bekerja pada April 1991, ia bertugas mengoperasikan mesin pemintalan campuran asbes dan polyester untuk memproduksi kain asbes peredam panas yang digunakan di kilang minyak.
Menurut Siti, hampir seluruh proses produksi berlangsung di ruangan yang dipenuhi debu halus bercampur bubuk asbes. Meski menggunakan masker kain yang bahkan dilapisi sapu tangan, perlindungan tersebut tidak mampu mencegah serat asbes masuk ke saluran pernapasan.
“Sama sekali enggak menyangka bisa terkena asbestosis. Waktu itu kita pakai maskernya masker kain, meski dilapisi sapu tangan masih tembus,” ujar Siti.
Selama satu dekade pertama bekerja, ia mengaku tidak mengalami gangguan kesehatan berarti. Namun setelah lebih dari 10 tahun terpapar debu asbes setiap hari, Siti mulai mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, serta penurunan berat badan secara drastis.
Ironisnya, pemeriksaan kesehatan rutin yang dilakukan perusahaan melalui rontgen dada tidak pernah menunjukkan adanya kelainan.
“Pemeriksaan kesehatan dari perusahaan tidak terdeteksi adanya penyakit karena hanya rontgen biasa. Semua karyawan saat itu sehat semua,” katanya.
Baru pada 2010, melalui pendampingan LION Indonesia, organisasi yang fokus pada isu keselamatan dan kesehatan kerja, Siti menjalani pemeriksaan CT-Scan di RS Cipto Mangunkusumo. Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter mendiagnosis dirinya menderita asbestosis stadium awal.
Sejak saat itu, Siti harus menjalani pengobatan rutin untuk mengurangi gejala penyakit yang hingga kini belum memiliki obat penyembuh.
Kondisinya sempat memburuk pada 2012 hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit selama enam bulan. Meski demikian, ia tetap bekerja hingga pabrik tempatnya bekerja berhenti beroperasi pada 2013.
Setelah kembali ke kampung halamannya di Berbah, Sleman, Yogyakarta, Siti tetap menjalani kontrol kesehatan secara berkala. Kondisinya kembali memburuk pada akhir 2024 hingga awal 2025 ketika mengalami batuk darah.
Pemeriksaan awal di puskesmas tidak menemukan kelainan. Ia kemudian dirujuk menjalani rontgen untuk memastikan kemungkinan tuberkulosis (TBC), namun hasilnya negatif.
Gejala penyakit kembali kambuh pada Januari 2026. Sejak itu, Siti rutin menjalani pengobatan menggunakan BPJS Kesehatan di RSIY PDHI. Berat badannya kini tinggal sekitar 40 kilogram, turun dari sebelumnya 52 kilogram sebelum sakit.
Nasib serupa dialami Adi Hariyanto, yang bekerja selama 24 tahun sebagai operator forklift di pabrik atap asbes di Karawang. Meski telah lama pensiun, ia baru-baru ini didiagnosis menderita penyakit terkait asbestos (Asbestos Related Disease/ARD), menunjukkan bahwa dampak paparan asbes dapat muncul bertahun-tahun bahkan puluhan tahun setelah seseorang berhenti bekerja.
Pakar toksikologi okupasi, Dr. Anna Suraya, MKK, SpOk, Subsp. ToksiKO (K), Ph.D., menjelaskan bahwa serat asbes yang terhirup sangat sulit dikeluarkan oleh tubuh. Serat tersebut dapat menetap di paru-paru dan memicu peradangan kronis yang menyebabkan jaringan paru mengeras secara permanen.
Akibatnya, pekerja yang terpapar memiliki risiko tinggi mengalami berbagai penyakit serius seperti asbestosis, kanker paru, hingga mesothelioma. Yang menjadi tantangan, gejala penyakit tersebut sering kali baru muncul bertahun-tahun hingga puluhan tahun setelah paparan terjadi.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Ferry Noor menyatakan bahwa asbestosis beserta penyakit terkait asbes, termasuk kanker paru dan mesothelioma, telah diakui secara internasional sebagai penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh paparan serat asbes di lingkungan kerja.
Meski lebih dari 70 negara telah melarang penggunaan seluruh jenis asbes karena risiko kesehatannya, Indonesia hingga kini masih mengizinkan penggunaan krisotil atau asbes putih dalam sejumlah sektor industri.
Kasus yang dialami Siti Kristina dan Adi Hariyanto menjadi pengingat bahwa bahaya paparan asbes tidak selalu langsung terlihat. Dampaknya dapat muncul bertahun-tahun kemudian dan berujung pada penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan, sehingga penguatan perlindungan keselamatan kerja, deteksi dini, serta pengawasan penggunaan bahan berbahaya menjadi hal yang semakin mendesak. (Sumber : bbc.com)











