Nasional

Enam Tahun Menganggur, Suci Jadi Korban Penipuan Lowongan Kerja hingga Rp4,3 Juta

161
×

Enam Tahun Menganggur, Suci Jadi Korban Penipuan Lowongan Kerja hingga Rp4,3 Juta

Sebarkan artikel ini

After Six Years of Unemployment, Suci Falls Victim to Job Scam, Losing Rp4.3 Million

Suci (24), warga Jakarta Barat- Gambar ilustrasi AI
JAKARTA – Perjuangan mendapatkan pekerjaan setelah enam tahun menganggur harus dilalui Suci (24), warga Jakarta Barat, dengan berbagai tantangan. Selain menghadapi ketatnya persaingan di pasar kerja, ia juga pernah menjadi korban penipuan lowongan kerja hingga mengalami kerugian sebesar Rp4,3 juta.

Suci mendatangi bursa kerja atau job fair di gedung SMESCO, Jakarta Selatan, pada Jumat (23/10/2026), untuk kembali mencari peluang kerja. Meski pernah tertipu saat melamar pekerjaan, ia tidak menyerah dan tetap berusaha mengajukan lamaran ke sejumlah perusahaan.

Suci mengaku belum bekerja sejak menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada 2020. Selama enam tahun terakhir, ia terus berupaya mendapatkan pekerjaan dan kini bersedia melamar berbagai posisi demi memperoleh kesempatan bekerja.

“Saya selama 6 tahun belum bekerja, saya berusaha saat ini untuk bekerja, untuk bisa dapat kerjaan, apa pun kerjaannya saya mau daftar,” ujar Suci saat ditemui di lokasi bursa kerja, Jumat (23/10/2026).

Dua Kali Tertipu Lowongan Kerja

Di tengah perjuangannya mencari pekerjaan, Suci mengaku pernah menjadi korban penipuan di dua lokasi berbeda, yakni Jakarta Timur dan Cengkareng.

Pada pengalaman pertama, ia mengeluarkan uang sebesar Rp2,5 juta. Sementara itu, pada kejadian kedua, ia kembali kehilangan Rp1,8 juta. Dengan demikian, total kerugian yang dialaminya mencapai Rp4,3 juta.

BACA JUGA:  Disnaker Balikpapan Ubah Pola Pelatihan Kerja, Peserta Disiapkan Sesuai Kebutuhan Dunia Usaha

Besarnya biaya yang telah dikeluarkan menunjukkan betapa kuat keinginannya untuk mendapatkan pekerjaan. Namun, harapan tersebut justru berujung kerugian.

“Saya pernah ketipu di dua perusahaan. Pertama di daerah Jakarta Timur bayar Rp2,5 juta, yang kedua di Cengkareng bayar Rp1,8 juta. Sudah ingin sekali, apa pun syaratannya ingin sekali saya daftar kerja,” kata Suci.

Pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti mencari pekerjaan. Ia tetap mendatangi bursa kerja dan mencoba berbagai kesempatan yang tersedia, dengan harapan dapat segera memperoleh pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ikuti Pelatihan untuk Meningkatkan Keterampilan

Untuk meningkatkan daya saing di pasar kerja, Suci juga mengikuti pelatihan di Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

Pelatihan tersebut menjadi bekal untuk meningkatkan keterampilan sekaligus menambah pengalaman yang dapat ditawarkan kepada perusahaan. Ia berharap kemampuan yang diperolehnya selama mengikuti pelatihan dapat menjadi pertimbangan bagi bagian sumber daya manusia atau human resources (HR) dalam proses rekrutmen.

Suci meminta perusahaan tidak semata-mata melihat lamanya seseorang menganggur, tetapi juga mempertimbangkan kompetensi dan kemauan untuk terus belajar.

“Tolong ya untuk HR Indonesia, walaupun saya 6 tahun belum bekerja, saya memiliki pengalaman yaitu yang di PPKD. PPKD Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Saya punya skill dan pengalamannya,” ucapnya.

Di bursa kerja SMESCO, Suci mengirimkan lamaran ke sejumlah perusahaan ritel yang membuka stan rekrutmen. Selain memanfaatkan kesempatan bertemu langsung dengan perusahaan, ia juga aktif mencari lowongan secara mandiri melalui platform digital Jobstreet dan Glints.

BACA JUGA:  Usia 47 Tahun Usai Kena PHK, Syarif Berburu Kerja di Jakarta: Berharap Perusahaan Tak Pandang Umur

Sudah Wawancara, tetapi Belum Mendapat Panggilan

Meski telah melamar ke sejumlah perusahaan dan menjalani wawancara, Suci mengaku belum mendapatkan panggilan lanjutan. Kondisi tersebut membuatnya bingung karena tidak mengetahui alasan perusahaan belum memberikan kabar mengenai hasil seleksi.

“Saya lihat-lihat, ‘oh nggak ada panggilan’, saya sudah daftar ke beberapa perusahaan, saya sudah wawancara, sudah interview, tapi belum dipanggil juga. Saya heran itu kenapa,” katanya.

Bagi pencari kerja seperti Suci, ketidakjelasan informasi setelah wawancara menjadi salah satu hambatan dalam memperoleh pekerjaan. Kepastian mengenai hasil seleksi, baik berupa penerimaan maupun penolakan, dinilai penting agar pelamar dapat menentukan langkah berikutnya.

Di sisi lain, tekanan dari keluarga dan kerabat turut menambah beban yang dirasakannya setelah bertahun-tahun belum bekerja. Ia berharap perusahaan memberikan kesempatan kepada pencari kerja yang memiliki keterampilan dan kesungguhan untuk bekerja, meskipun belum mempunyai pengalaman kerja formal yang panjang.

BACA JUGA:  Pencari Kerja Keluhkan Persaingan Makin Ketat di Job Fair, Fresh Graduate dan Batas Usia Jadi Tantangan

Suci pun meminta perusahaan tidak membiarkan pelamar menunggu tanpa kepastian setelah mengikuti proses rekrutmen. Ia berharap segera mendapatkan kesempatan untuk bekerja, berapa pun besaran gaji yang ditawarkan.

“Tolong panggil saya, saya sudah capek, sudah lelah, sering diomongin keluarga dan saudara. Ya jangan ghosting intinya. Saya pengin banget kerja, walaupun duitnya itu sekecil apa pun,” pungkas Suci.

Kisah Suci menjadi gambaran tantangan yang dihadapi sebagian pencari kerja, mulai dari sulitnya memperoleh kesempatan kerja, risiko penipuan berkedok lowongan pekerjaan, hingga ketidakpastian dalam proses rekrutmen.

Di tengah kondisi tersebut, pencari kerja diharapkan semakin waspada terhadap lowongan yang meminta pembayaran di muka dengan alasan biaya administrasi atau jaminan penerimaan. Perusahaan juga diharapkan menjalankan proses rekrutmen secara transparan serta memberikan informasi yang jelas kepada pelamar mengenai tahapan dan hasil seleksi.(Sumber : demokratis.co.id)