Internasional

Buruh Hyundai Korea Selatan Mogok Kerja, Tolak Rencana Penggunaan 25.000 Robot Humanoid

98
×

Buruh Hyundai Korea Selatan Mogok Kerja, Tolak Rencana Penggunaan 25.000 Robot Humanoid

Sebarkan artikel ini

South Korea's Hyundai workers go on strike to oppose plans to deploy 25,000 humanoid robots.

ilustrasi : Pekerja Robot Humanoid

SEOUL – Ribuan pekerja Hyundai Motor di Korea Selatan menggelar aksi mogok kerja sebagai bentuk protes terhadap rencana perusahaan mengadopsi robot humanoid dalam skala besar di fasilitas produksinya. Langkah tersebut memicu kekhawatiran bahwa otomatisasi akan mengancam keberlangsungan lapangan kerja para buruh.

Hyundai diketahui berencana mengerahkan sekitar 25.000 unit robot humanoid Atlas yang dikembangkan oleh Boston Dynamics untuk mendukung proses manufaktur di berbagai pabriknya. Perusahaan menilai penggunaan robot tersebut akan meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta keselamatan kerja di lini produksi.

Namun, serikat pekerja Hyundai memandang kebijakan tersebut berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia. Mereka menuntut agar pekerja memiliki hak suara dalam setiap keputusan terkait otomatisasi serta meminta bonus kinerja sebesar USD 27.000 untuk setiap pekerja sebagai bentuk kompensasi atas kontribusi mereka terhadap keuntungan perusahaan.

BACA JUGA:  Mensesneg Prasetyo Hadi Ditunjuk Pimpin Satgas Mitigasi PHK

Kekhawatiran buruh semakin menguat seiring perkembangan teknologi robot humanoid yang dinilai semakin cekatan dalam menjalankan berbagai pekerjaan yang sebelumnya hanya dapat dilakukan manusia. Dalam beberapa demonstrasi teknologi terbaru, robot Atlas mampu melakukan berbagai tugas industri secara mandiri, mulai dari memindahkan komponen, mengangkat beban, hingga melakukan pekerjaan dengan tingkat presisi tinggi.

Serikat pekerja menilai transformasi menuju pabrik yang semakin otomatis tidak boleh dilakukan tanpa adanya perlindungan terhadap tenaga kerja. Mereka meminta perusahaan memberikan jaminan bahwa penggunaan robot tidak akan berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal maupun pengurangan hak-hak pekerja.

Perselisihan ini menjadi salah satu konflik hubungan industrial terbesar di Hyundai dalam beberapa tahun terakhir. Mogok kerja penuh terakhir di perusahaan otomotif tersebut terjadi pada 2018. Namun, kali ini tensi dinilai jauh lebih tinggi karena isu yang dipersoalkan bukan lagi sekadar kenaikan upah, melainkan masa depan pekerjaan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan robotika.

BACA JUGA:  Delegasi Buruh Indonesia di ILC 114 Hadiri Jamuan Makan Malam Bersama Direksi dan Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan

Pengamat hubungan industrial menilai konflik di Hyundai menjadi gambaran tantangan baru yang dihadapi dunia kerja global. Seiring semakin luasnya penerapan AI dan robot humanoid di sektor manufaktur, perusahaan dituntut untuk menjaga keseimbangan antara peningkatan produktivitas dan perlindungan terhadap tenaga kerja agar transformasi industri dapat berlangsung secara adil dan berkelanjutan. (Sumber:telset.id ) @kg_krd