Internasional

Canva Restrukturisasi Perusahaan, 1.271 Pekerja Terdampak, 22 Persen Tenaga Kerja Alami Perubahan

68
×

Canva Restrukturisasi Perusahaan, 1.271 Pekerja Terdampak, 22 Persen Tenaga Kerja Alami Perubahan

Sebarkan artikel ini

Canva Restructures Business, 1,271 Employees Affected as 22 Percent of Workforce Faces Changes

Canva Layoffs_ 22% Workforce Impact- pict ilustrasi AI
JAKARTA – Perusahaan teknologi desain asal Australia, Canva, melakukan restrukturisasi besar-besaran yang berdampak terhadap 1.271 pekerja atau sekitar 22 persen dari total tenaga kerjanya. Perubahan tersebut mencakup pemutusan hubungan kerja (PHK), relokasi karyawan, hingga perubahan posisi dan tanggung jawab pekerjaan.

Keputusan tersebut menjadi salah satu langkah restrukturisasi terbesar dalam perjalanan perusahaan yang telah berdiri selama 13 tahun. Co-founder sekaligus CEO Canva, Melanie Perkins, mengakui kebijakan tersebut merupakan keputusan yang sangat berat bagi manajemen maupun karyawan.

Dikutip dari BBC, Kamis (5/11/2026), Perkins menyampaikan keputusan restrukturisasi itu melalui surat kepada seluruh karyawan.

“Tanpa diragukan lagi, ini merupakan momen tersulit dalam 13 tahun sejarah kami,” kata Perkins.

Ia menjelaskan, restrukturisasi akan membawa perubahan signifikan terhadap struktur organisasi dan pola kerja perusahaan. Sebagian karyawan akan mengalami perubahan jabatan, sementara lainnya diminta pindah ke pusat kerja yang lebih terpusat.

Namun, tidak semua pekerja dapat melanjutkan kariernya di perusahaan tersebut. Sebagian karyawan harus menerima keputusan untuk meninggalkan Canva.

“Bagi sebagian orang, ini berarti perubahan pada peran mereka atau diminta untuk pindah ke pusat kerja terpusat. Sayangnya, ini juga berarti kita harus mengucapkan selamat tinggal kepada rekan kerja dan teman yang telah membantu membangun Canva hingga menjadi seperti sekarang,” ujarnya.

Canva saat ini memiliki karyawan yang tersebar di 37 negara. Melalui restrukturisasi tersebut, Sydney akan ditetapkan sebagai pusat utama bagi lebih banyak tim produk perusahaan.

BACA JUGA:  AI Belum Dongkrak Produktivitas, tetapi PHK Terus Berjalan

Selain perubahan struktur organisasi, Canva juga akan mengubah kebijakan kerja karyawan. Mulai tahun depan, pekerja yang selama ini menjalankan sistem kerja hybrid diwajibkan bekerja dari kantor selama dua hingga tiga hari setiap pekan.

Pertumbuhan Melambat Setelah Satu Dekade

Langkah restrukturisasi dilakukan ketika Canva menghadapi tekanan bisnis setelah mengalami perlambatan pertumbuhan untuk pertama kalinya dalam satu dekade.

Perkins mengakui tahun ini menjadi periode yang sangat menantang bagi perusahaan, terutama dalam mempertahankan momentum pertumbuhan bisnis.

“Ini merupakan tahun tersulit bagi kami, dan seperti yang kami sampaikan sebelumnya tahun ini, pertumbuhan kami melambat untuk pertama kalinya dalam satu dekade,” tulis Perkins dalam suratnya kepada karyawan.

Canva didirikan oleh Melanie Perkins pada 2013. Ia memulai perusahaan tersebut setelah meninggalkan bangku kuliah pada usia 19 tahun untuk membangun usaha pertamanya.

Platform Canva kemudian berkembang menjadi salah satu layanan desain digital populer di dunia. Melalui berbagai templat dan perangkat desain yang mudah digunakan, platform ini memungkinkan masyarakat membuat beragam materi visual tanpa harus memiliki kemampuan teknis maupun latar belakang profesional di bidang desain.

Penggunaannya mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari pembuatan undangan pernikahan, presentasi bisnis, konten media sosial, hingga materi pemasaran perusahaan.

BACA JUGA:  Mercedes-Benz Ancam Tutup Dua Pabrik di Jerman, Tertekan Biaya Produksi dan Persaingan China

Valuasi Canva Tertekan di Tengah Persaingan AI

Restrukturisasi Canva juga berlangsung di tengah meningkatnya tekanan terhadap industri teknologi akibat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Perkembangan teknologi tersebut mengubah cara masyarakat menggunakan perangkat lunak desain sekaligus meningkatkan kebutuhan investasi perusahaan untuk mengembangkan fitur-fitur berbasis AI.

Tekanan terhadap prospek bisnis Canva turut tercermin dari penurunan valuasi perusahaan dalam setahun terakhir.

Dua investor Canva, Blackbird Ventures dan Airtree, dilaporkan menurunkan valuasi perusahaan dari sekitar 60 miliar dolar Australia atau setara US$41,8 miliar pada akhir tahun lalu menjadi sekitar 49 miliar dolar Australia pada tahun ini.

Canva juga dilaporkan melakukan penyesuaian terhadap valuasi internalnya seiring meningkatnya biaya pengembangan dan penerapan teknologi AI dalam produk-produk baru.

Perkins mengakui perkembangan teknologi baru telah mengubah ekspektasi pengguna terhadap perangkat lunak desain.

“Teknologi baru mengubah apa yang dapat dibuat orang, bagaimana mereka membuatnya, dan apa yang mereka harapkan dari produk yang mereka gunakan,” ujarnya.

Situasi tersebut membuat Canva menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, perusahaan harus terus mengembangkan teknologi AI agar tetap kompetitif. Namun, di sisi lain, investasi untuk pengembangan teknologi tersebut membutuhkan biaya yang semakin besar.

Canva selama ini dikenal sebagai salah satu perusahaan rintisan paling sukses asal Australia. Perusahaan tersebut bahkan kerap disebut sebagai salah satu kandidat perusahaan teknologi Australia yang berpotensi melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) berskala besar di Nasdaq.

BACA JUGA:  Universitas Serikat Buruh Sambut 300 Mahasiswa Baru Program Kuliah Jarak Jauh

Bukan Hanya Canva, Perusahaan Teknologi Ramai-Ramai Pangkas Pekerja

Gelombang restrukturisasi di Canva menambah daftar perusahaan teknologi global yang melakukan pengurangan tenaga kerja di tengah perubahan industri perangkat lunak.

Dilansir dari The Guardian, perusahaan perangkat lunak Atlassian sebelumnya memangkas sekitar 1.600 pekerjaan. Pengurangan karyawan juga dilakukan Block, perusahaan induk Afterpay, serta WiseTech Global.

Perkembangan AI menjadi salah satu faktor yang mengubah strategi perusahaan teknologi dalam mempertahankan model bisnis dan efisiensi operasional.

Muncul pula istilah “SaaS-pocalypse”, yang menggambarkan kekhawatiran bahwa perkembangan AI dapat mengurangi kebutuhan terhadap sejumlah perangkat lunak khusus atau Software as a Service (SaaS).

Meski demikian, sebagian perusahaan perangkat lunak menepis anggapan bahwa teknologi AI akan sepenuhnya menggantikan layanan mereka. Sejumlah perusahaan justru mempercepat integrasi AI untuk meningkatkan kemampuan produk dan mempertahankan daya saing.

Canva sendiri tidak secara langsung menyebut kecerdasan buatan sebagai alasan utama dalam pengumuman restrukturisasi terbarunya.

Namun, langkah pengurangan dan penataan ulang tenaga kerja tersebut memperlihatkan besarnya tantangan yang dihadapi perusahaan teknologi global dalam menyesuaikan struktur organisasi, biaya operasional, serta strategi bisnis di tengah perubahan teknologi yang berlangsung semakin cepat. (Sumber : fortuneidn.com)