Di tengah kondisi tersebut, jutaan orang masih menghadapi persoalan ketenagakerjaan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penganggur di Indonesia mencapai 7,22 juta orang dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 4,65 persen berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026.
Sementara itu, jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 155,41 juta orang, dengan 148,19 juta orang di antaranya telah bekerja. Dibandingkan Februari 2026, jumlah penganggur berkurang sekitar 24 ribu orang, sedangkan penduduk yang bekerja bertambah sekitar 522 ribu orang.
Meski menunjukkan perbaikan dalam penyerapan tenaga kerja, data tersebut memperlihatkan bahwa jutaan orang masih belum memperoleh pekerjaan. Di sisi lain, sebagian pekerja yang sudah memiliki pekerjaan terpaksa mencari pemasukan tambahan untuk menjaga kondisi keuangan keluarga.
Pengemudi Ojol Harus Berjuang dari Pendapatan Harian
Tekanan ekonomi salah satunya dirasakan pengemudi ojol yang mengandalkan pendapatan harian untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Angga Yudistia (38), pengemudi ojol yang memiliki tiga anak, memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp100 ribu per hari.
Penghasilan tersebut masih harus dikurangi biaya bahan bakar, makan, dan berbagai kebutuhan operasional lainnya. Dengan demikian, uang yang dapat dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga jauh lebih kecil dibandingkan pendapatan kotornya.
Kondisi tersebut menggambarkan tantangan pekerja sektor informal yang penghasilannya bergantung pada jumlah pesanan dan harus menanggung biaya operasional sendiri.
Situasi serupa juga dialami sebagian pekerja kantoran yang memilih menjadi pengemudi ojol setelah menyelesaikan pekerjaan utama. Langkah tersebut dilakukan untuk menambah pemasukan, meskipun konsekuensinya adalah waktu istirahat dan kesempatan berkumpul bersama keluarga menjadi semakin terbatas.
Bagi pekerja yang harus memenuhi kebutuhan rumah tangga setiap bulan, pekerjaan tambahan menjadi salah satu pilihan untuk menutup selisih antara pendapatan dan pengeluaran.
Pekerja Menghemat Pengeluaran, Pedagang Hadapi Pembeli Selektif
Tekanan biaya hidup turut mengubah kebiasaan belanja masyarakat. Sebagian pekerja memilih membawa bekal makan siang dari rumah untuk mengurangi pengeluaran harian. Ada pula yang membeli makanan di warung tegal (warteg) karena harganya relatif terjangkau.
Penghematan juga dilakukan dengan memperbaiki pakaian yang rusak agar masih dapat digunakan, alih-alih membeli pakaian baru. Langkah-langkah sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga anggaran rumah tangga tetap mencukupi hingga akhir bulan.
Perubahan pola konsumsi juga dirasakan pedagang di pasar tradisional. Ketika harga sejumlah kebutuhan pokok meningkat, pembeli cenderung lebih selektif dalam membelanjakan uangnya.
Masyarakat membandingkan harga antarpedagang, mengurangi jumlah barang yang dibeli, atau membatalkan pembelian yang dinilai belum mendesak. Bagi pedagang, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena daya beli konsumen turut memengaruhi aktivitas perdagangan sehari-hari.
Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga sebagai konsumen, tetapi juga oleh pelaku usaha kecil yang bergantung pada transaksi harian.
Inflasi dan Kemiskinan Menjadi Tantangan Rumah Tangga
Berdasarkan data BPS, inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 0,30 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).
Inflasi tersebut mencerminkan perubahan harga barang dan jasa secara umum. Kenaikan harga tidak terjadi secara seragam pada seluruh komoditas, tetapi dampaknya terhadap setiap rumah tangga dapat berbeda, bergantung pada jenis barang yang dikonsumsi dan besarnya pendapatan.
Bagi keluarga yang sebagian besar penghasilannya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, perubahan harga pangan dapat memengaruhi kemampuan membayar kebutuhan lain, seperti transportasi, pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal.
Tantangan ekonomi juga tercermin dalam data kemiskinan. BPS mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2026 mencapai 22,93 juta orang atau 8,07 persen dari total penduduk.
Pada periode yang sama, garis kemiskinan nasional tercatat sebesar Rp669.235 per kapita per bulan. Angka ini merupakan batas minimum pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan dasar menurut metodologi BPS, bukan ukuran biaya hidup layak bagi seluruh masyarakat.
Bagi keluarga berpenghasilan rendah, keterbatasan pemasukan membuat kebutuhan pangan sering kali menjadi prioritas utama. Sementara itu, pengeluaran untuk pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan yang tersedia.
Penghasilan yang langsung habis untuk kebutuhan mendasar juga membatasi kemampuan keluarga untuk menabung atau menyediakan dana darurat ketika muncul pengeluaran tak terduga.
Jutaan Lowongan Tercatat, Persaingan Kerja Tetap Menjadi Tantangan
Di tengah persoalan tersebut, data Pusat Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan melalui platform Pasker ID mencatat sebanyak 2.052.460 lowongan pekerjaan dipublikasikan selama Januari 2025 hingga September 2026, dengan kebutuhan tenaga kerja mencapai 2.737.793 orang.
Namun, data tersebut hanya mencakup lowongan yang tercatat melalui Pasker ID dan tidak menggambarkan keseluruhan kesempatan kerja di Indonesia. Ketersediaan lowongan juga tidak serta-merta berarti seluruh pencari kerja dapat langsung terserap, karena terdapat faktor kesesuaian keterampilan, persyaratan pekerjaan, lokasi, dan persaingan antarpelamar.
Di Jakarta, persoalan ekonomi juga terlihat dari pengalaman Romi (44), yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) sejak Juli. Sementara itu, keterbatasan biaya turut menjadi persoalan bagi sebagian keluarga, termasuk Aini dan Dinda yang dilaporkan putus sekolah akibat kendala ekonomi.
Berbagai situasi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan ekonomi dapat berdampak luas, mulai dari kemampuan pekerja memenuhi kebutuhan keluarga hingga keberlanjutan pendidikan anak.
Di tengah keterbatasan, masyarakat terus berupaya mempertahankan kondisi keuangan melalui berbagai cara. Sebagian mencari pekerjaan informal, memperpanjang jam kerja, mengurangi belanja, hingga memperbaiki barang yang masih dapat digunakan.
Bagi banyak keluarga, upaya tersebut bukan semata-mata pilihan untuk meningkatkan pendapatan atau menekan pengeluaran, melainkan cara agar kebutuhan mendasar tetap terpenuhi di tengah ketidakpastian ekonomi.
Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pertumbuhan kesempatan kerja dapat diikuti oleh akses pekerjaan yang memadai serta pendapatan yang mampu menopang kebutuhan hidup. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memiliki pekerjaan, tetapi juga kesempatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara layak tanpa harus terus-menerus menambah jam kerja atau mengorbankan kebutuhan penting lainnya. (Sumber : suaraindependentnews.id)











