JAKARTA – Bekerja di depan komputer selama berjam-jam telah menjadi rutinitas bagi banyak pekerja kantoran. Namun, kebiasaan menatap layar terlalu lama tanpa jeda dapat memicu berbagai gangguan penglihatan, mulai dari mata lelah, mata kering, pandangan kabur, hingga sakit kepala yang berpotensi mengganggu kenyamanan dan produktivitas kerja.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui artikel bertajuk “Mata Sehat, Produktivitas Terjaga” yang diterbitkan pada 12 Oktober 2023 menekankan pentingnya menjaga kesehatan mata, terutama bagi pekerja yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar digital.
Dalam artikel tersebut, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Eva Susanti, menyoroti pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan agar masalah pada mata dapat diketahui dan ditangani sebelum mengganggu aktivitas sehari-hari.
Salah satu gangguan yang perlu diwaspadai adalah Computer Vision Syndrome (CVS), yakni sekumpulan keluhan pada mata dan penglihatan yang berkaitan dengan penggunaan komputer, laptop, maupun perangkat digital lainnya dalam waktu lama.
Gejala CVS dapat berupa mata terasa tegang, kering, perih, pandangan kabur, hingga sakit kepala setelah bekerja. Keluhan tersebut dapat semakin mengganggu apabila pekerja jarang beristirahat, memiliki pencahayaan ruangan yang kurang sesuai, atau menggunakan layar dengan jarak dan posisi yang tidak tepat.
Penelitian yang dilakukan Waode Sitti Nurul Aulyah, Atjo Wahyu, dan Syamsiar S. Russeng dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, yang diterbitkan dalam Hasanuddin Journal of Public Health pada 2023, turut membahas faktor-faktor yang berhubungan dengan CVS pada pekerja pengguna komputer.
Penelitian tersebut menyoroti pentingnya memperhatikan kondisi kerja dan berbagai faktor yang berkaitan dengan munculnya keluhan mata selama penggunaan komputer. Karena itu, menjaga kesehatan penglihatan perlu menjadi bagian dari kebiasaan kerja sehari-hari, bukan hanya dilakukan ketika gangguan sudah muncul.
Terapkan Aturan 20-20-20
Salah satu langkah sederhana untuk mengurangi ketegangan mata adalah menerapkan aturan 20-20-20. Caranya, setiap 20 menit menatap layar, pekerja mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 6 meter selama 20 detik.
Kebiasaan ini membantu memberikan jeda dari aktivitas melihat dekat secara terus-menerus. Meski demikian, aturan tersebut bukan jaminan untuk mencegah seluruh gangguan penglihatan sehingga tetap perlu disertai kebiasaan kerja yang sehat.
Selain itu, jarak antara mata dan layar komputer sebaiknya dijaga sekitar 40–75 sentimeter. Posisi layar juga perlu disesuaikan agar nyaman dilihat, sementara pencahayaan ruangan harus memadai untuk mengurangi silau dan kontras yang berlebihan.
Pekerja juga dianjurkan untuk berkedip secara berkala. Saat berkonsentrasi menatap layar, frekuensi berkedip dapat berkurang sehingga permukaan mata lebih mudah mengalami kekeringan.
Mengambil jeda untuk berdiri, berjalan sebentar, dan melakukan peregangan juga penting. Langkah tersebut tidak hanya membantu mengurangi ketegangan akibat aktivitas melihat dekat, tetapi juga memberikan kesempatan bagi tubuh untuk bergerak setelah duduk dalam waktu lama.
Jangan Abaikan Keluhan Mata
Pekerja perlu memperhatikan gejala yang muncul selama menggunakan komputer. Apabila mata terus terasa nyeri, mengalami kemerahan, atau pandangan tetap kabur meskipun sudah beristirahat, pemeriksaan oleh dokter mata perlu dilakukan untuk mengetahui penyebabnya.
Pemeriksaan mata secara berkala juga dapat membantu mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini, terutama bagi pekerja yang setiap hari bergantung pada perangkat digital untuk menyelesaikan tugas.
Menjaga kesehatan mata tidak selalu membutuhkan langkah yang rumit. Mengatur jarak layar, memperbaiki pencahayaan, berkedip secara teratur, dan mengambil jeda secara konsisten merupakan kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan di tempat kerja.
Dengan membangun kebiasaan kerja yang lebih sehat, pekerja diharapkan dapat menjaga kenyamanan penglihatan sekaligus mempertahankan produktivitas tanpa mengabaikan kesehatan dalam jangka panjang. (Sumber : RRI.co.id)











