Internasional

Porsche Restrukturisasi Besar-Besaran: Pangkas 9.000 Karyawan Hingga 2035 Tanpa PHK Paksa

111
×

Porsche Restrukturisasi Besar-Besaran: Pangkas 9.000 Karyawan Hingga 2035 Tanpa PHK Paksa

Sebarkan artikel ini

Porsche Undertakes Major Restructuring: To Cut 9,000 Jobs by 2035 Without Forced Layoffs

Foto Ilustrasi (Porche.com)

JAKARTA — Produsen mobil mewah asal Jerman, Porsche, mengumumkan rencana restrukturisasi besar-besaran dengan memangkas sekitar 9.000 tenaga kerja—atau nyaris seperlima dari total karyawannya—secara bertahap hingga tahun 2035. Langkah strategis ini diambil guna merespons merosotnya permintaan di pasar vital seperti China serta lambatnya transisi industri menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Mengutip Reuters, Selasa (28/7/2026), manajemen Porsche dan perwakilan serikat pekerja telah menyepakati pemangkasan tambahan sebanyak 5.000 posisi. Langkah ini dilakukan melalui skema penuaan alami (pensiun) dan program pengunduran diri sukarela, sehingga perusahaan tidak perlu melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara paksa.

Pengurangan 5.000 posisi ini melengkapi program efisiensi yang telah direncanakan sebelumnya, yakni efisiensi 3.900 tenaga kerja yang disepakati pada Februari 2025, serta penutupan sejumlah anak usaha yang memangkas 500 posisi lainnya di bawah kepemimpinan CEO Michael Leiters. Secara keseluruhan, pemangkasan ini menyasar sekitar 9.000 dari total 42.600 pekerja Porsche per akhir tahun 2024.

BACA JUGA:  Microsoft PHK 5.700 Karyawan, Divisi Xbox hingga Penjualan Terdampak

Michael Leiters, yang baru menduduki kursi CEO awal tahun ini, mengemban tugas berat untuk memulihkan kinerja Porsche. Penjualan Porsche di China—yang selama bertahun-tahun menjadi penyumbang keuntungan terbesar—mengalami penurunan tajam. Di saat yang sama, strategi penetrasi pasar EV perusahaan belum mencapai target yang diharapkan.

Analis otomotif dari Metzler Bank, Daniel Schwarz, menilai efisiensi skala besar ini sebagai langkah yang tidak terhindarkan.

“Pemangkasan ini sejalan dengan penurunan volume penjualan. Langkah tersebut tidak terelakkan untuk menekan biaya karena pasar China diperkirakan tidak akan kembali tumbuh kuat dalam waktu dekat,” ungkap Schwarz.

Kondisi sulit ini tak hanya dialami Porsche. Raksasa otomotif Jerman lainnya seperti Mercedes-Benz dan BMW juga tengah gencar memangkas biaya operasional akibat ketatnya persaingan dengan pabrikan lokal China, ditambah tingginya beban tarif impor di beberapa wilayah.

BACA JUGA:  Siapkan Kader Profesional untuk Lembaga Negara, FSP LEM SPSI Gelar ToT Pengupahan di Bekasi

Komitmen Investasi dan Tekanan Grup Volkswagen

Kendati harus merumahkan ribuan pekerja, Porsche memastikan operasional pabrik utamanya akan tetap berjalan setidaknya hingga akhir 2035. Perusahaan bahkan mengalokasikan investasi senilai €2,1 miliar untuk modernisasi pabrik utama di Stuttgart-Zuffenhausen serta pusat riset dan pengembangan (R&D) di Weissach.

Restrukturisasi di tubuh Porsche ini merupakan bagian dari gelombang efisiensi yang lebih besar di dalam Grup Volkswagen. CEO Volkswagen, Oliver Blume, dilaporkan mendorong pemangkasan hingga 100.000 tenaga kerja di seluruh lini grup demi membendung ekspansi agresif produsen EV asal China di Eropa. Blume bahkan memperingatkan bahwa empat pabrik Volkswagen—termasuk satu fasilitas milik merek premium Audi—berpotensi ditutup setelah tahun 2030 jika kondisi pasar global tak kunjung membaik (Sumber : CNBC Indonesia)

BACA JUGA:  Peserta ToT Pengupahan FSP LEM SPSI : Dorong Keberlanjutan Pelatihan dan Implementasi Struktur Skala Upah