Internasional

Microsoft Luncurkan Program PHK Sukarela Pertama dalam Sejarah Perusahaan, 60.000 Karyawan Memenuhi Syarat

91
×

Microsoft Luncurkan Program PHK Sukarela Pertama dalam Sejarah Perusahaan, 60.000 Karyawan Memenuhi Syarat

Sebarkan artikel ini

Microsoft Launches First-Ever Voluntary Layoff Program in Company History, 60,000 Employees Eligible

60.000 Karyawan Microsoft Ditawarkan PHK Sukarela-Gambar ilustrasi AI
JAKARTA – Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Microsoft, meluncurkan program pemutusan hubungan kerja (PHK) sukarela yang disebut sebagai program pertama dalam sejarah perusahaan. Kebijakan ini hadir ketika Microsoft meningkatkan investasi untuk pembangunan pusat data guna mendukung pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Program tersebut membuka kesempatan bagi sekitar 23 persen karyawan Microsoft di Amerika Serikat untuk mengajukan pengunduran diri dengan paket pesangon yang disediakan perusahaan. Secara global, sekitar 60.000 karyawan atau 27 persen dari total tenaga kerja Microsoft disebut memenuhi syarat untuk mengikuti program tersebut.

Meski demikian, angka 60.000 orang bukan berarti Microsoft telah memastikan akan melakukan PHK terhadap seluruh karyawan tersebut. Jumlah itu merujuk pada karyawan yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti program pemisahan kerja secara sukarela.

Program ini memberikan pilihan kepada karyawan yang ingin meninggalkan perusahaan dengan memperoleh kompensasi sesuai ketentuan yang berlaku. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari perubahan kebijakan sumber daya manusia Microsoft di tengah meningkatnya kebutuhan investasi pada infrastruktur AI.

Microsoft Siapkan Paket Pesangon bagi Karyawan

Wakil Presiden Eksekutif sekaligus Kepala Sumber Daya Manusia Microsoft, Amy Coleman, mengatakan program tersebut dirancang untuk memberikan fleksibilitas kepada karyawan dalam menentukan langkah selanjutnya dalam kehidupan dan karier mereka.

Menurut Coleman, program ini memberikan kesempatan bagi karyawan yang ingin melanjutkan perjalanan hidup di luar perusahaan melalui mekanisme yang telah disiapkan Microsoft.

Microsoft belum mengumumkan secara terperinci nilai keseluruhan anggaran pesangon yang dialokasikan untuk program tersebut. Namun, perusahaan menyatakan akan menyediakan paket kompensasi yang layak dan mendukung karyawan yang memilih untuk berpisah.

BACA JUGA:  Buruh Indonesia Minta Regulasi AI Berkeadilan: Kemajuan Teknologi Tak Boleh Mengorbankan Pekerja

Besaran pesangon akan dihitung berdasarkan masa kerja serta ketentuan yang berlaku di masing-masing negara. Untuk karyawan yang memenuhi syarat di Amerika Serikat, paket pesangon disebut memiliki nilai minimum setara dengan delapan minggu gaji.

Ketentuan tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat dipertimbangkan karyawan sebelum memutuskan apakah akan mengikuti program PHK sukarela atau tetap bekerja di Microsoft.

Besaran Pesangon Berdasarkan Jenjang Jabatan

Mengutip laporan Business Insider, besaran pesangon bagi karyawan Microsoft di Amerika Serikat juga dapat berbeda berdasarkan jenjang jabatan dan masa kerja.

Karyawan dengan level jabatan 64 ke bawah umumnya memperoleh pesangon setara satu bulan gaji untuk setiap enam bulan masa kerja. Sementara itu, karyawan pada level 65 hingga 67 umumnya mendapatkan pesangon setara dua minggu gaji untuk setiap enam bulan masa kerja.

Berdasarkan skema tersebut, karyawan senior dengan masa kerja 10 tahun pada level yang memperoleh ketentuan dua minggu gaji per enam bulan masa kerja dapat menerima pesangon setara 40 minggu gaji, atau sekitar sembilan hingga sepuluh bulan gaji.

Besaran aktual tetap bergantung pada ketentuan program dan persyaratan yang berlaku bagi masing-masing karyawan.

Paket pesangon tersebut diharapkan menjadi pertimbangan bagi pekerja yang ingin mengambil kesempatan untuk meninggalkan perusahaan secara sukarela, terutama mereka yang telah memiliki masa kerja panjang.

Perubahan Sistem Bonus dan Penghargaan Kinerja

Selain meluncurkan program PHK sukarela, Microsoft juga melakukan perubahan pada sistem penghargaan kinerja karyawan.

BACA JUGA:  Jawa Tengah Tawarkan Kawasan Industri Baru kepada Investor Singapura, Bidik Penguatan Investasi dan Penciptaan Lapangan Kerja

Perusahaan memisahkan komponen penghargaan berupa saham dan bonus tunai. Perubahan ini dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan lebih besar kepada para manajer dalam memberikan penghargaan kepada karyawan berdasarkan kinerja dan kontribusi mereka.

Kebijakan tersebut menunjukkan adanya penyesuaian dalam pengelolaan sumber daya manusia Microsoft, baik melalui pemberian insentif maupun penyediaan pilihan bagi karyawan yang ingin mengakhiri hubungan kerja.

Di tengah persaingan industri teknologi dan pengembangan AI, perusahaan teknologi global menghadapi kebutuhan untuk mengatur kembali prioritas investasi, struktur organisasi, serta alokasi sumber daya.

Investasi AI dan Riwayat PHK Microsoft

Peluncuran program PHK sukarela ini berlangsung setelah Microsoft melakukan beberapa gelombang pengurangan tenaga kerja dalam periode sebelumnya, termasuk pada 2025 hingga Juni tahun tersebut.

Pada periode itu, Microsoft tercatat mempekerjakan sekitar 228.000 orang di seluruh dunia, dengan sekitar 125.000 karyawan berada di Amerika Serikat.

Peningkatan investasi pada pusat data menjadi salah satu konteks penting dalam perkembangan bisnis perusahaan. Infrastruktur tersebut diperlukan untuk mendukung layanan komputasi awan, pengoperasian model AI, serta berbagai produk berbasis kecerdasan buatan yang dikembangkan Microsoft.

Pembangunan dan pengoperasian pusat data membutuhkan investasi besar, termasuk untuk server, jaringan, sistem pendingin, pasokan energi, dan infrastruktur pendukung lainnya.

Meski demikian, peluncuran program PHK sukarela tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa investasi pusat data menjadi satu-satunya penyebab kebijakan tersebut. Microsoft juga melakukan penyesuaian pada sistem penghargaan kinerja dan pengelolaan tenaga kerja.

BACA JUGA:  Di Forum Buruh Dunia, Menaker Paparkan Jurus Prabowo Agar Pekerja Tak Tertinggal oleh AI

Bukan PHK Massal yang Dipastikan Menyasar 60.000 Orang

Program yang diluncurkan Microsoft perlu dibedakan dari keputusan PHK massal yang menetapkan jumlah pekerja terdampak secara langsung.

Dalam program sukarela, karyawan yang memenuhi persyaratan diberikan pilihan untuk mengikuti skema pemisahan kerja dengan kompensasi yang telah ditentukan. Karena itu, jumlah peserta akhirnya dapat berbeda dari jumlah karyawan yang memenuhi syarat.

Hingga terdapat pengumuman lebih lanjut mengenai jumlah peserta yang benar-benar menerima tawaran tersebut, angka sekitar 60.000 karyawan sebaiknya dipahami sebagai jumlah tenaga kerja yang memenuhi persyaratan, bukan jumlah pasti pekerja yang akan kehilangan pekerjaan.

Kebijakan ini menjadi perkembangan penting dalam industri teknologi global, ketika perusahaan-perusahaan besar terus memperluas investasi pada AI sekaligus menyesuaikan strategi bisnis dan pengelolaan tenaga kerja mereka.

Bagi para pekerja, program tersebut memperlihatkan pentingnya memahami secara menyeluruh ketentuan pesangon, manfaat kerja yang masih berlaku, serta konsekuensi finansial sebelum mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan kerja secara sukarela.

Catatan redaksi: Dalam bahan awal terdapat ketidaksesuaian perhitungan pesangon. Jika ketentuannya adalah dua minggu gaji untuk setiap enam bulan masa kerja, maka karyawan dengan masa kerja 10 tahun memperoleh perhitungan dasar 40 minggu gaji, bukan 10 minggu. Angka ini setara sekitar sembilan hingga sepuluh bulan gaji. Sebelum diterbitkan, rincian skema pesangon dan angka kelayakan peserta sebaiknya diverifikasi kembali melalui sumber asli Microsoft dan laporan Business Insider. (Sumber : cnbc.com)