DaerahPendidikan

Melawan Batas Keterbatasan: Kisah Dua Putri Buruh Serabutan Asal Ponorogo Lolos UGM Lewat Beasiswa 100%

113
×

Melawan Batas Keterbatasan: Kisah Dua Putri Buruh Serabutan Asal Ponorogo Lolos UGM Lewat Beasiswa 100%

Sebarkan artikel ini

Breaking Boundaries: The Story of Two Daughters of Casual Laborers from Ponorogo Admitted to UGM on Full Scholarship

mahmuda dan rikah- ugm.ac.id

PONOROGO — Memasuki area persawahan Dukuh Klitik, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, jalanan aspal perlahan terputus. Medan berganti menjadi jalan tanah berbatu yang berdebu. Di sepanjang jalan, pemandangan rumah-rumah warga tampak timpang. Ada bangunan megah bertingkat hasil kiriman sanak keluarga yang menjadi buruh migran di luar negeri, namun tak sedikit pula rumah dengan lantai tanah dan dinding bata ekspos yang belum diaci.

Desa ini menyimpan sejarah panjang yang kelam. Dahulu, isolasi geografis, kemiskinan ekstrem, serta minimnya akses pendidikan memicu maraknya perkawinan sedarah yang berdampak pada keterbelakangan mental sebagian warganya. Julukan menyakitkan seperti “kampung idiot” sempat melekat, sebelum akhirnya bergeser menjadi “kampung TKI” seiring banyaknya warga yang memilih mengadu nasib ke luar negeri.

Meski remitansi TKI mampu mengubah wajah rumah-rumah di desa, hal itu tak selalu menjadi jalan keluar yang berkelanjutan bagi generasi mudanya. Namun, dari sebuah rumah bata ekspos di ujung gang persawahan, lahir sebuah harapan baru.

BACA JUGA:  Hampir Dua Tahun Berlalu, Korban Kecelakaan Kerja di PT TSM Kampar Masih Menunggu Kepastian Hak

Dua anak perempuan kembar, Mahmudah Lathif dan Muzdrickah Lathif (Rikah), memilih jalan berbeda. Dibanding mengikuti jejak mayoritas anak muda desanya yang langsung bekerja atau merantau menjadi buruh migran, mereka berdua memilih memperjuangkan mimpi mengenyam pendidikan tinggi di universitas ternama.

Komitmen Orang Tua dan Panen Prestasi

Lahir dari pasangan Meseri (48), seorang buruh serabutan dan bangunan, serta Siti Rokhayati (43), seorang ibu rumah tangga, kehidupan keluarga ini jauh dari kata mewah. Penghasilan yang tak pasti tak menyurutkan tekad Meseri dan Siti untuk memberikan masa depan terbaik bagi kedua putri kembarnya.

Sejak kecil, Mahmudah dan Rikah sudah dikenalkan pada buku dan pentingnya pendidikan. “Setidaknya jangan sampai seperti orang tua, tidak punya penghasilan tetap untuk menjamin kesejahteraan keluarga,” ujar Siti penuh harap.

Untuk menghemat biaya dan mempermudah akomodasi, kedua saudara kembar ini selalu mengenyam pendidikan di sekolah yang sama, mulai dari SDN 3 Krebet, MTsN 5 Ponorogo, hingga lulus dari SMAN 1 Badegan.

Di sekolah, mereka bukan sekadar murid biasa. Keduanya langganan masuk posisi tiga besar di kelas dan saling melengkapi dalam berbagai ajang kompetisi. Secara akumulatif, puluhan penghargaan berhasil diraih: 18 prestasi untuk Mahmudah dan 14 untuk Rikah, mulai dari olimpiade tingkat karesidenan hingga kejuaraan esai dan poster tingkat nasional.

BACA JUGA:  PHK Massal PT SGS Dipertanyakan, Serikat Buruh Sebut Produksi Tetap Normal dan Perusahaan Masih Rekrut Karyawan Baru

Jatuh Bangun Mengejar Kampus Impian

Mimpi untuk berkuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) sebenarnya sudah tersimpan sejak lama di hati mereka masing-masing. Namun, jalan menuju Kampus Kerakyatan tersebut tidaklah mulus. Keduanya sempat menelan pil pahit kegagalan berulang kali di berbagai jalur seleksi PTN—Rikah bahkan mencatat hingga tujuh kali kegagalan.

Meski sempat bangkit dan diterima di salah satu perguruan tinggi di Malang, rasa penasaran dan tekad menuju UGM tak pernah padam. Kesempatan terakhir pun diambil melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM) UGM.

Perjuangan pantang menyerah itu akhirnya membuahkan hasil manis. Mahmudah dan Rikah dinyatakan lulus bersamaan dengan subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) 100 persen. Mahmudah diterima pada program D4 Manajemen dan Penilaian Properti, sedangkan Rikah di D4 Teknologi Veteriner Sekolah Vokasi UGM.

BACA JUGA:  Semangat Membara di Balik Dinginnya Subuh: Perjalanan Ega, Tulang Punggung Keluarga yang Tembus Biologi UI

“Setelah penantian yang panjang, perjuangan saya untuk belajar dan prestasi yang saya kumpulkan akhirnya membuahkan hasil,” kata Mahmudah penuh rasa syukur.

Membawa Terang untuk Desa

Keberhasilan ini mendatangkan haru dan bangga bagi sang ayah, Meseri, meski ia sempat ragu membayangkan kedua putrinya harus merantau jauh ke Yogyakarta.

Bagi Rikah dan Mahmudah, ilmu yang akan mereka serap di Yogyakarta bukan hanya untuk diri sendiri. Rikah bercita-cita kelak dapat membentuk komunitas penyuluhan peternakan untuk membantu warga di desanya.

Di saat mayoritas anak muda setempat memilih jalur cepat dengan menjadi buruh migran, si kembar dari Desa Sidoharjo ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan isolasi geografis bukanlah vonis mati bagi sebuah cita-cita. Dari rumah sederhana di ujung gang persawahan, mimpi mereka kini melenting tinggi, siap membawa terang bagi desa tercinta. (Sumber : ugm.ac.id)