HukumNasionalOpini

Raslinna Rasidin: Kesetiaan dalam Perjuangan dan Kemaslahatan Gender Bukan Proyek Lima Tahunan

96
×

Raslinna Rasidin: Kesetiaan dalam Perjuangan dan Kemaslahatan Gender Bukan Proyek Lima Tahunan

Sebarkan artikel ini

Raslinna Rasidin: Loyalty in the Struggle and Gender Equity Are Not Five-Year Projects

Ilustrasi Memperjuangkan Kemaslahatan Gender, Menjaga Api Kesetiaan ( dok Raslinna Rasidin )
JAKARTA — Kesetiaan dan konsistensi dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat menjadi pesan utama yang disampaikan Raslinna Rasidin dalam refleksinya mengenai perjalanan aktivisme, persahabatan, dan perjuangan buruh perempuan di Indonesia.

Dalam tulisannya yang akan diterbitkan secara bertahap melalui platform Kompasiana, Raslinna menekankan bahwa kesetiaan dalam politik tidak semestinya ditentukan oleh siapa yang sedang berkuasa atau berada di puncak jabatan. Menurutnya, kesetiaan merupakan komitmen untuk tetap mengawal visi perjuangan, termasuk ketika perhatian publik mulai berkurang.

Raslinna mengingat kembali pengalaman aktivismenya pada era 1990-an, ketika gerakan mahasiswa berhadapan dengan kekuasaan Orde Baru. Pada masa itu, ia mengaku ditempa melalui mimbar bebas kampus dan diskusi yang dilakukan secara terbatas demi menyuarakan keadilan.

Pengalaman tersebut menjadi landasan pandangannya bahwa politik bukan semata-mata persoalan panggung dan jabatan, melainkan juga keberanian mempertahankan prinsip serta memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Persahabatan Lama dan Etika dalam Politik

Dalam refleksinya, Raslinna turut menyinggung persahabatannya dengan Ferry Juliantono, yang kini menjabat Menteri Koperasi dalam Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

BACA JUGA:  FSP PAREKRAF KSPSI Perjuangkan Hak Karyawan PT Mitra Ogan, Tolak Rencana PHK 470 Pekerja dan Tuntut Tunggakan Upah 28 Bulan

Ia mengenang keduanya pernah berada dalam gerakan mahasiswa yang menyuarakan keadilan. Pertemuan mereka di kantor Ferry Juliantono, menurut Raslinna, menjadi pengingat bahwa persahabatan yang dibangun melalui perjuangan tidak semestinya luntur karena perbedaan posisi dan jabatan.

Raslinna menyebut prinsip tersebut sebagai “Etika Sahabat Lama”, yakni hubungan persahabatan yang tetap memberi ruang bagi sikap kritis, saling mengingatkan, dan kerja sama untuk kepentingan masyarakat.

Baginya, kedekatan personal dengan pejabat tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mengawasi jalannya pemerintahan. Sebaliknya, hubungan yang dibangun melalui pengalaman perjuangan dapat menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi dan mengingatkan pentingnya konsistensi terhadap visi kesejahteraan rakyat.

Perjuangan Buruh Perempuan dan Isu Gender

Selain merefleksikan perjalanan aktivismenya, Raslinna menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan isu gender bersama kawan-kawan di Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) dan Federasi Serikat Pekerja Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (FSP Parekraf).

BACA JUGA:  KBPBI Tolak Anggapan Tuntutan Buruh Sudah Terakomodasi dalam RUU Pelindungan Ketenagakerjaan

Ia memandang perjuangan dari aktivisme mahasiswa pada era 1990-an hingga gerakan buruh perempuan saat ini sebagai bagian dari perjalanan panjang melawan ketidakadilan.

Menurut Raslinna, persoalan yang dihadapi masyarakat dapat berubah seiring perkembangan zaman, tetapi prinsip dasar perjuangan untuk mewujudkan keadilan harus tetap dipertahankan.

Ia juga menegaskan bahwa tulisannya bukan sekadar upaya mengenang masa lalu ataupun mencari jabatan. Ia ingin mengingatkan bahwa pembangunan membutuhkan orang-orang yang konsisten mengawal visi kesejahteraan masyarakat.

Dalam refleksinya, Raslinna menggunakan perumpamaan seorang panglima yang membutuhkan perwira-perwira untuk menuntaskan misi. Ia mengibaratkan Presiden Prabowo Subianto sebagai panglima, sementara para pejuang akar rumput merupakan pihak yang diharapkan terus bekerja untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan kemaslahatan bangsa.

Kemaslahatan Gender Bukan Proyek Lima Tahunan

Raslinna menekankan bahwa perjuangan perempuan tidak seharusnya diperlakukan sebagai program yang hanya muncul menjelang atau mengikuti siklus pemilihan umum.

BACA JUGA:  GAPKI Dorong Riset Sawit Berorientasi Solusi Industri, Perkuat Sinergi Beasiswa dan Inovasi

Bersama para aktivis serikat pekerja KSPSI dan FSP Parekraf, ia mengaku terus mengawal agenda kesejahteraan perempuan, terutama buruh perempuan, perempuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta perempuan tani.

Baginya, perjuangan tersebut merupakan amanah jangka panjang yang membutuhkan konsistensi, bukan sekadar kegiatan sesaat yang bergantung pada perubahan situasi politik.

Melalui tulisan-tulisannya di Kompasiana, Raslinna berharap dapat mendokumentasikan perjalanan pemikiran dan perjuangannya dalam bentuk artikel yang kelak dihimpun menjadi sebuah buku.

Ia menutup refleksinya dengan menegaskan bahwa kesetiaan merupakan sesuatu yang semakin langka dalam politik, tetapi tetap menjadi prinsip yang ingin dipertahankannya.

“Kesetiaan adalah mata uang yang langka dalam politik. Dan saya masih menyimpannya,” tulis Raslinna.

Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa perjuangan untuk kesejahteraan rakyat dan kemaslahatan gender, menurutnya, membutuhkan komitmen yang terus dijaga melampaui pergantian kekuasaan dan perubahan zaman. (Sumber : kompasiana.com)