Internasional

Mercedes-Benz Ancam Tutup Dua Pabrik di Jerman, Tertekan Biaya Produksi dan Persaingan China

74
×

Mercedes-Benz Ancam Tutup Dua Pabrik di Jerman, Tertekan Biaya Produksi dan Persaingan China

Sebarkan artikel ini

Mercedes-Benz Threatens to Close Two German Plants Amid Rising Production Costs and Growing Competition from China

Mercedes-Benz Krisis, 2 Pabrik Terancam Tutup- Foto ILUSTRASI

JERMAN – Mercedes-Benz menghadapi tekanan berat terhadap kegiatan produksinya di Jerman. Setelah Volkswagen melakukan restrukturisasi besar-besaran, kini Mercedes-Benz juga membuka kemungkinan penutupan dua fasilitas produksi di negara asalnya.

Direktur Produksi Mercedes-Benz, Michael Schiebe, mengatakan perusahaan sebenarnya memiliki tujuan untuk mempertahankan seluruh fasilitas produksi di Jerman. Namun, jika upaya meningkatkan daya saing dan menekan biaya tidak berhasil, perusahaan dapat menutup satu pabrik perakitan kendaraan dan satu fasilitas produksi powertrain.

Pernyataan tersebut disampaikan Schiebe saat berbicara dengan para pekerja di pabrik Mercedes-Benz di Sindelfingen. Menurut laporan Reuters, Mercedes belum menentukan fasilitas mana yang berpotensi ditutup. (Reuters)

“Tujuan jelas kami adalah mempertahankan semua lokasi kami di Jerman. Jika kami tidak dapat melakukan hal tersebut, kami harus menutup satu pabrik perakitan dan satu pabrik powertrain di Jerman,” kata Schiebe.

Saat ini Mercedes-Benz memiliki tiga fasilitas perakitan kendaraan dan tujuh pabrik powertrain di Jerman. Perusahaan tengah bernegosiasi dengan serikat pekerja untuk mencari langkah penghematan biaya sekaligus meningkatkan produktivitas produksi dalam negeri.

BACA JUGA:  Ford Matangkan Rencana Produksi Lokal di Indonesia, Target Perakitan Kendaraan Dimulai 2028

Mercedes menyebut tingginya biaya tenaga kerja menjadi salah satu faktor yang membuat produksi di Jerman dinilai kurang kompetitif dibandingkan standar internasional. Perusahaan menegaskan bahwa keberlangsungan fasilitas dan lapangan kerja di Jerman membutuhkan kondisi yang mampu meningkatkan produktivitas. (Reuters)

Ditentang Serikat Pekerja

Rencana tersebut mendapat penolakan dari perwakilan pekerja dan IG Metall. Serikat pekerja menilai ancaman penutupan pabrik bukan merupakan cara untuk menentukan masa depan industri otomotif Jerman.

Perwakilan dewan pekerja Mercedes-Benz bahkan memperingatkan bahwa ancaman penutupan fasilitas akan menghadapi perlawanan dari pekerja. Perselisihan ini berlangsung di tengah aksi protes pekerja otomotif di berbagai wilayah Jerman yang menentang pemangkasan tenaga kerja dan menuntut kebijakan untuk memperkuat industri otomotif nasional. (Reuters)

BACA JUGA:  Indonesia Mulai Menjadi Basis Produksi Global, Modal Besar Menuju Indonesia Incorporated

Tertekan Persaingan Produsen China

Mercedes-Benz menghadapi tantangan yang juga dirasakan produsen otomotif Jerman lainnya. Industri otomotif Eropa kini menghadapi persaingan yang semakin kuat dari produsen China, termasuk BYD, Geely, dan Changan.

Tekanan tersebut semakin terasa di pasar China, yang selama ini menjadi salah satu pasar penting bagi produsen mobil premium Jerman. Pada saat yang sama, produsen Eropa juga menghadapi dampak tarif Amerika Serikat serta tingginya biaya produksi di dalam negeri.

Kondisi tersebut membuat produsen otomotif Jerman melakukan berbagai langkah restrukturisasi untuk mempertahankan daya saing. Volkswagen, misalnya, juga tengah mempercepat program restrukturisasi dan menghadapi tekanan terkait pengurangan tenaga kerja serta kapasitas produksi di Jerman. (Reuters)

BACA JUGA:  Puluhan Ribu Buruh Hyundai Motor Korea Selatan Mogok, Tuntut Usia Pensiun Naik dan Perlindungan dari AI

Mercedes-Benz sendiri belum menyebutkan pabrik mana yang akan ditutup. Dengan demikian, ancaman tersebut saat ini masih berupa opsi yang akan ditempuh apabila perusahaan dan pekerja tidak mencapai kesepakatan mengenai langkah peningkatan produktivitas dan penghematan biaya.

Perkembangan ini menunjukkan tekanan yang semakin besar terhadap industri otomotif Jerman, terutama terkait biaya produksi, transisi kendaraan listrik, persaingan dari produsen Asia, serta perubahan kondisi perdagangan global.  (Sumber : oto.detik.com)