EkonomiNasional

Indonesia Siapkan Pabrik Gula Fleksibel Ala Brasil untuk Dukung Program Bioetanol E10–E20

167
×

Indonesia Siapkan Pabrik Gula Fleksibel Ala Brasil untuk Dukung Program Bioetanol E10–E20

Sebarkan artikel ini

Indonesia to Adopt Brazil-Style Flexible Sugar Mills to Support E10–E20 Bioethanol Program

ILUSTRASI - Pabrik Bioetanol

JAKARTA – Pemerintah terus mematangkan strategi pengembangan industri bioetanol nasional sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Salah satu langkah yang akan diterapkan adalah mengadopsi model pabrik gula fleksibel (swappable) seperti yang telah diterapkan di Brasil.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan konsep tersebut memungkinkan pabrik pengolahan tebu mengalihkan produksi secara dinamis antara gula dan bioetanol, menyesuaikan perkembangan harga komoditas di pasar global.

Menurut Bahlil, sistem ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi industri dalam merespons kondisi pasar sehingga dapat menjaga efisiensi sekaligus meningkatkan daya saing sektor agroindustri nasional.

“Contoh di Brasil, di sana semua menggunakan mekanisasi dan industrinya bisa dibuat dua model. Begitu harga etanolnya naik, produksi akan dialihkan ke etanol. Namun, begitu harga gulanya naik, akan di-switch ke gula,” ujar Bahlil kepada awak media usai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2026).

Ia menjelaskan, model produksi ganda tersebut menjadi solusi strategis untuk mendukung implementasi program pencampuran bioetanol pada bahan bakar, mulai dari E10 hingga E20, tanpa mengganggu ketersediaan gula untuk kebutuhan domestik.

BACA JUGA:  Industri Maritim Khawatir Dampak B50, Minta Pemerintah Lakukan Implementasi Bertahap

Dengan sistem swappable, pabrik dapat menyesuaikan komposisi produksinya sesuai kondisi ekonomi. Ketika harga bioetanol lebih menguntungkan, kapasitas produksi dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan energi. Sebaliknya, ketika harga gula meningkat, produksi dapat kembali difokuskan pada komoditas pangan tersebut.

Pemerintah menilai pendekatan ini mampu menciptakan keseimbangan antara ketahanan energi dan ketahanan pangan. Selain memberikan nilai tambah bagi industri gula nasional, model tersebut juga diharapkan meningkatkan pendapatan petani tebu melalui perluasan pasar hasil panen.

Program bioetanol E10 hingga E20 sendiri merupakan bagian dari agenda transisi energi nasional. Kebijakan ini diharapkan dapat memperbesar pemanfaatan energi terbarukan, menekan emisi karbon, sekaligus mengurangi impor bahan bakar minyak.

BACA JUGA:  Anak Buruh Penambang Timah Jadi Calon Paskibraka Nasional, Furqoen Bawa Tekad Hidupkan Nilai Pancasila

Ke depan, pemerintah akan mendorong pembangunan dan modernisasi pabrik gula agar memiliki kemampuan memproduksi gula maupun bioetanol secara fleksibel. Dengan mengadopsi teknologi dan sistem yang telah terbukti berhasil di Brasil, Indonesia diharapkan mampu membangun industri bioetanol yang lebih kompetitif, efisien, dan berkelanjutan.