EkonomiNasional

Industri Pengolahan Tetap Ekspansif, PMI-BI Kuartal II-2026 Capai 51,43

89
×

Industri Pengolahan Tetap Ekspansif, PMI-BI Kuartal II-2026 Capai 51,43

Sebarkan artikel ini

Indonesia's Manufacturing Sector Remains in Expansion as BI Manufacturing PMI Reaches 51.43 in Q2 2026

ILUSTRASI - Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia

JAKARTA – Kinerja sektor industri pengolahan Indonesia tetap menunjukkan tren positif pada kuartal II-2026. Hal ini tercermin dari Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) yang berada di level 51,43, atau masih berada pada fase ekspansi karena berada di atas ambang batas 50.

Capaian tersebut mengindikasikan aktivitas manufaktur nasional masih terjaga di tengah dinamika perekonomian global. Bahkan, Bank Indonesia memperkirakan momentum pertumbuhan sektor industri pengolahan akan semakin menguat pada kuartal III-2026.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny, mengatakan hasil survei menunjukkan sektor industri pengolahan tetap memiliki daya tahan yang baik dan diproyeksikan melanjutkan ekspansinya pada triwulan berikutnya.

“Kinerja Lapangan Usaha Industri Pengolahan pada kuartal II-2026 tetap terjaga dan berada pada fase ekspansi, tercermin dari PMI-BI sebesar 51,43. Pada kuartal III-2026, kinerja industri pengolahan diprakirakan meningkat dan tetap berada pada fase ekspansi dengan PMI-BI sebesar 52,32,” ujar Ramdan dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (19/7/2026).

Menurut Bank Indonesia, prospek peningkatan PMI-BI pada kuartal III-2026 menunjukkan optimisme pelaku industri terhadap peningkatan permintaan dan aktivitas produksi dalam beberapa bulan ke depan.

BACA JUGA:  DTKJ Usulkan Korban PHK hingga Pencari Kerja Masuk Daftar Penerima Transportasi Umum Gratis di Jakarta

Dari sisi subsektor atau sublapangan usaha (Sub-LU), mayoritas industri pengolahan juga mencatatkan kinerja ekspansif. Industri Mesin dan Perlengkapan menjadi sektor dengan indeks tertinggi, mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi dan investasi pada sektor tersebut.

Selain itu, ekspansi juga tercatat pada Industri Makanan dan Minuman, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama manufaktur nasional, disusul oleh Industri Logam Dasar serta Industri Barang Galian Bukan Logam.

Kinerja positif berbagai subsektor tersebut menjadi sinyal bahwa sektor manufaktur masih berperan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan prospek PMI-BI yang diperkirakan meningkat menjadi 52,32 pada kuartal III-2026, industri pengolahan diharapkan mampu terus mendorong investasi, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat daya saing industri Indonesia di pasar domestik maupun internasional. (Sumber : Suara.com)

BACA JUGA:  Kabel Bawah Laut Nongsa–Changi Resmi Mendarat, Batam Perkuat Posisi sebagai Gerbang Digital Indonesia