TEGAL — Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat kini menghadapi tekanan cukup berat. Perlambatan ekonomi, penurunan belanja negara, hingga melemahnya daya beli masyarakat kelas bawah disebut turut berdampak terhadap penurunan omzet pelaku UMKM.
Ketua Forum UMKM Kota Tegal, Elang Merayu Sukma, mengatakan kondisi tersebut dirasakan hampir di seluruh sektor usaha, mulai dari kuliner, fesyen, hingga kerajinan.
“Situasi UMKM hari ini memang seperti kondisi ekonomi negara, ya. Cukup lesu dari segi omzet dan lain-lain,” ujar Elang saat ditemui di kawasan Jalan Gatot Subroto, Kota Tegal.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi pelaku UMKM yang selama ini menggantungkan pendapatan dari aktivitas perdagangan harian.
Di Kota Tegal sendiri terdapat sekitar 20.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 UMKM merupakan binaan dinas terkait, sementara sekitar 200 pelaku usaha tergabung dalam Forum UMKM.
Pembeli Berkurang, Pedagang Bertambah
Di tengah penurunan omzet, muncul fenomena lain yang cukup mencolok. Jumlah pedagang, terutama Pedagang Kaki Lima (PKL), justru semakin bertambah di sejumlah kawasan yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Sejumlah titik seperti kawasan Pujasera, Alun-Alun, Taman Pancasila, serta koridor Jalan Slamet Riyadi, Jalan Soetomo, dan Jalan Veteran kini dipenuhi semakin banyak pelaku usaha.
Kondisi tersebut menciptakan anomali di lapangan. Di satu sisi jumlah konsumen yang berbelanja mengalami penurunan, tetapi di sisi lain jumlah penjual terus meningkat. Akibatnya, persaingan untuk mendapatkan konsumen menjadi semakin ketat.
Elang menilai bertambahnya jumlah pedagang tidak terlepas dari dampak pemutusan hubungan kerja (PHK) yang membuat sebagian pekerja sektor formal beralih menjadi pelaku usaha mandiri.
Bagi sebagian masyarakat yang kehilangan pekerjaan, membuka usaha kecil menjadi salah satu pilihan untuk mempertahankan penghasilan.
“Ini karena tidak ada pilihan lain,” kata Elang.
Keterbatasan modal dan keterampilan juga membuat perdagangan makanan dan minuman menjadi salah satu sektor yang relatif mudah dimasuki oleh masyarakat yang baru memulai usaha.
Dorong UMKM Masuk Ekosistem Digital
Menghadapi persaingan yang semakin ketat, Forum UMKM Kota Tegal mendorong pelaku usaha untuk tidak hanya mengandalkan penjualan secara konvensional.
Digitalisasi menjadi salah satu strategi yang mulai dikembangkan. Para pelaku UMKM didorong memanfaatkan berbagai platform digital, termasuk menjadi affiliate marketer melalui TikTok maupun Shopee.
Strategi tersebut diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas sehingga pelaku usaha tidak hanya bergantung pada konsumen di sekitar tempat mereka berjualan.
Dengan memanfaatkan platform digital, produk UMKM Kota Tegal juga berpeluang dipasarkan ke konsumen di luar daerah.
Namun, upaya digitalisasi tersebut dinilai tetap membutuhkan dukungan berupa peningkatan kapasitas dan pendampingan agar pelaku UMKM mampu memanfaatkan teknologi secara optimal.
Minta Pemkot Tegal Tata Ruang Usaha
Selain penguatan kapasitas dan pemasaran digital, Forum UMKM juga berharap Pemerintah Kota Tegal memberikan perhatian terhadap penataan ruang usaha bagi UMKM dan PKL.
Elang berharap penataan dilakukan secara komprehensif dan tidak semata-mata berorientasi pada relokasi pedagang. Menurutnya, kebijakan penataan perlu mempertimbangkan kepastian berusaha, kenyamanan konsumen, akses masyarakat, serta pemerataan pusat-pusat keramaian.
Kepastian lokasi berjualan menjadi penting bagi pelaku UMKM agar mereka dapat menjalankan usaha secara berkelanjutan tanpa terus dihantui ketidakpastian.
Selain penataan ruang, keberadaan dan implementasi Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur UMKM dan PKL juga dinilai perlu diperkuat.
Regulasi tersebut diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai instrumen penertiban, tetapi juga menjadi landasan bagi perlindungan, penataan, serta pemberdayaan pelaku usaha kecil.
Di tengah tekanan ekonomi dan semakin ketatnya persaingan, UMKM membutuhkan ekosistem usaha yang mampu memberikan ruang untuk bertahan sekaligus berkembang. Jika tidak diikuti dengan kebijakan yang tepat, bertambahnya jumlah pelaku usaha di tengah melemahnya daya beli justru berpotensi memperbesar persaingan dan semakin menekan pendapatan pedagang.
Bagi para pelaku UMKM di Kota Tegal, dukungan pemerintah, perluasan pasar digital, serta kepastian ruang usaha menjadi sejumlah faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha mereka di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
(Sumber : jateng.disway.id)











