Nasional

Sekolah Rakyat Ditargetkan Putus Mata Rantai Kemiskinan, Lulusan Punya Dua Pilihan

69
×

Sekolah Rakyat Ditargetkan Putus Mata Rantai Kemiskinan, Lulusan Punya Dua Pilihan

Sebarkan artikel ini

People’s Schools Targeted at Breaking the Cycle of Poverty, Graduates Given Two Options

JAKARTA — Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan program Sekolah Rakyat diarahkan untuk memutus mata rantai kemiskinan. Pemerintah menyiapkan dua jalur bagi lulusan Sekolah Rakyat jenjang pendidikan menengah atas, yakni melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau memasuki dunia kerja sebagai pekerja terampil.

“Yang penting saya sampaikan adalah hilirisasi. Arahan Bapak Presiden cukup jelas, lulusan Sekolah Rakyat tidak boleh menganggur. Pilihannya hanya dua, menjadi pekerja terampil atau meneruskan kuliah,” kata Gus Ipul dalam keterangan tertulis, Selasa (8/9/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Gus Ipul dalam kegiatan Penyampaian Hasil Collective Action–Relaksasi RPL bagi Pejabat Manajerial Jenjang Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Madya Tahun 2026 yang digelar secara daring melalui Zoom dari Kantor Kementerian Sosial (Kemensos), Jakarta.

Kegiatan yang diselenggarakan Lembaga Administrasi Negara (LAN) bekerja sama dengan Kemensos tersebut mengangkat tema “Orkestrasi Kebijakan Lintas Sektor dalam Pengentasan Kemiskinan”. Pembahasan berfokus pada tiga subtema, yakni integrasi data, bantuan sosial adaptif, dan Sekolah Rakyat.

BACA JUGA:  Perusahaan Garmen di Semarang Diambang Penutupan, 800 Pekerja Terancam PHK

Lulusan SMA Tak Boleh Menganggur

Gus Ipul menjelaskan, sebelum memasuki tahap hilirisasi, para siswa Sekolah Rakyat harus terlebih dahulu menyelesaikan seluruh jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP hingga SMA.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, siswa akan diberikan pilihan sesuai dengan minat, kemampuan, dan potensinya.

Bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan memenuhi persyaratan, pemerintah akan memberikan dukungan melalui program beasiswa.

“Kalau kuliah dia harus belajar sungguh-sungguh, ya, kita pakai tes DNA talent ke mana dia sebaiknya kuliah. Setelah itu nanti ikut KIP, akan ikut biaya beasiswa dari pemerintah,” ujar Gus Ipul.

Sementara itu, siswa yang memilih langsung bekerja akan diarahkan mengikuti berbagai pelatihan keterampilan sesuai minat dan potensinya.

BACA JUGA:  Koalisi Besar Perjuangan Buruh Indonesia (KBPBI) Resmi Dorong RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Baru ke DPR RI

Kemensos, kata Gus Ipul, telah menjalin kerja sama dengan sejumlah kementerian dan lembaga, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), untuk memberikan pelatihan sekaligus memperkuat keterampilan para siswa.

“Sekaligus juga menampung lulusan-lulusan Sekolah Rakyat. Kita dorong mereka menjadi pekerja terampil luar negeri,” jelasnya.

Tekankan Kolaborasi Lintas Sektor

Gus Ipul mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mendukung penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Menurutnya, keberhasilan program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut membutuhkan kerja sama lintas kementerian dan lembaga.

Ia menekankan pentingnya menghilangkan ego sektoral agar program pengentasan kemiskinan dapat berjalan efektif.

“Yang penting dalam eksekusi Sekolah Rakyat ini, kita menekankan betul pentingnya kebersamaan, kolaborasi. Ego sektoral harus dihilangkan,” tegasnya.

Adapun kegiatan Relaksasi RPL Jenjang JPT Madya tersebut diikuti 28 Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dari 15 instansi pemerintah. Kegiatan itu merupakan bagian dari upaya pemenuhan kompetensi manajerial bagi pejabat JPT Madya.

BACA JUGA:  Kisah Aji Bayu Ramadhan: Anak Buruh Bangunan Asal NTT yang Jadi Lulusan Terbaik IPDN 2026

Para peserta diwajibkan menyusun Collective Action sebagai wadah untuk mengintegrasikan perspektif dan pemikiran dalam merumuskan alternatif solusi terhadap berbagai persoalan sesuai tema pembelajaran.

Hasil Collective Action tersebut diharapkan dapat menjadi landasan untuk memperkuat sinergi dan aksi bersama lintas sektor dalam upaya pengentasan kemiskinan.

Dengan konsep tersebut, pemerintah menargetkan Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi sarana pendidikan bagi masyarakat kurang mampu, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi.

(Sumber : Kumparan.com)