Nasional

Enam Gunung Api Erupsi Bersamaan, PVMBG Tegaskan Tak Saling Memicu

77
×

Enam Gunung Api Erupsi Bersamaan, PVMBG Tegaskan Tak Saling Memicu

Sebarkan artikel ini

Six Indonesian Volcanoes Erupt Simultaneously, PVMBG Confirms They Are Not Triggering One Another

Gunung Semeru

JAKARTA — Perut bumi Nusantara kembali menunjukkan dinamika vulkanik yang tinggi. Enam gunung api di berbagai wilayah Indonesia tercatat mengalami erupsi pada hari yang sama, Senin, 31 Agustus 2026.

Fenomena tersebut sempat memicu kekhawatiran masyarakat karena erupsi terjadi hampir bersamaan, mulai dari Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Maluku Utara. Di media sosial, muncul pula spekulasi bahwa aktivitas salah satu gunung api berkaitan atau bahkan memicu erupsi gunung api lainnya.

Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan keenam erupsi tersebut merupakan dinamika vulkanik yang berlangsung secara independen.

Keenam gunung api yang mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026 adalah Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatra Utara.

Kepala PVMBG Badan Geologi, Siti Sumilah Rita Susilawati, menjelaskan bahwa setiap gunung api memiliki sistem magmatik masing-masing. Karena itu, erupsi yang terjadi dalam waktu berdekatan tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat antargunung.

“Kalau bahasa sederhananya dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri, begitu ya, dan proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya juga berbeda-beda,” kata Rita, seperti dikutip dari keterangan yang disampaikan PVMBG.

Menurut PVMBG, tidak ditemukan bukti adanya satu proses geologi yang menyebabkan seluruh gunung api tersebut mengalami erupsi secara bersamaan pada 31 Agustus.

BACA JUGA:  DPD KSPSI se-Sumatera Berkumpul di Batam, Perkuat Soliditas dan Perjuangan Pekerja

Enam Gunung Api Erupsi

Aktivitas vulkanik keenam gunung tersebut menunjukkan karakteristik yang berbeda-beda.

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, menjadi salah satu yang mengalami erupsi cukup signifikan. Pada 31 Agustus, kolom abu teramati mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak, atau sekitar 5.960 meter di atas permukaan laut.

Setelah peningkatan aktivitas tersebut, PVMBG menaikkan status Gunung Sinabung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) mulai pukul 12.30 WIB.

Sementara itu, Gunung Semeru di Jawa Timur juga mengalami beberapa kali erupsi. Kolom abu yang teramati mencapai sekitar 900 meter di atas puncak, dengan empat kali erupsi tercatat pada hari tersebut.

Di Nusa Tenggara Timur, aktivitas terjadi di Gunung Ili Lewotolok dan Gunung Lewotobi Laki-laki.

Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata mengalami erupsi pada sekitar pukul 11.28 WITA dengan kolom abu mencapai sekitar 700 meter di atas puncak.

Sedangkan Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur mengalami erupsi pada pukul 12.53 WITA. Kolom abu teramati sekitar 300 meter di atas puncak, dengan abu berwarna kelabu dan bergerak ke arah barat hingga barat laut.

Di Maluku Utara, Gunung Ibu di Halmahera Barat tercatat mengalami beberapa kali erupsi. Kolom abu tertinggi pada hari itu mencapai sekitar 600 meter di atas puncak.

Sementara di kawasan Selat Sunda, Gunung Anak Krakatau juga mengalami erupsi. Aktivitas gunung api ini kemudian terus dipantau secara intensif karena dinamika magmanya tetap tinggi.

BACA JUGA:  Menkeu Kaji Usulan Penghapusan Pajak JHT, Purbaya mengungkapkan hingga saat ini dirinya belum menerima surat usulan resmi dari Buruh

Bahkan beberapa hari setelah kejadian 31 Agustus, Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam, mulai Jumat, 4 September 2026 hingga Minggu, 6 September 2026. PVMBG tetap mempertahankan statusnya pada Level III (Siaga).

Mengapa Bisa Erupsi Bersamaan?

PVMBG menjelaskan bahwa kesamaan waktu erupsi tidak otomatis berarti keenam gunung tersebut memiliki hubungan langsung.

Indonesia memang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dan memiliki 127 gunung api aktif. Sebanyak 69 gunung api di antaranya dipantau secara efektif melalui jaringan pemantauan PVMBG.

Kondisi geologi tersebut membuat aktivitas vulkanik menjadi bagian dari dinamika alam Indonesia. Gunung-gunung api tersebar dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Maluku Utara hingga Sulawesi bagian utara dan Kepulauan Sangir-Talaud.

Badan Geologi menjelaskan bahwa proses tektonik dan magmatik di Indonesia berlangsung terus-menerus. Penunjaman lempeng dan proses pelelehan batuan menjadi bagian dari mekanisme pembentukan magma yang kemudian dapat naik ke permukaan melalui sistem gunung api.

Dengan demikian, enam gunung api dapat mengalami erupsi pada hari yang sama tanpa harus memiliki satu sumber magma atau satu mekanisme pemicu yang sama.

Erupsi Tidak Otomatis Dipicu Gempa

PVMBG juga meluruskan anggapan bahwa setiap gempa bumi yang terjadi di sekitar gunung api pasti menjadi penyebab letusan.

BACA JUGA:  Kebakaran Hebat Landa Kawasan Industri, Enam Bangunan Hangus

Rita menjelaskan bahwa gempa tektonik tidak otomatis memicu erupsi. Untuk menyimpulkan adanya hubungan, para ahli harus melihat berbagai parameter pemantauan internal gunung api, antara lain perubahan kegempaan, deformasi tubuh gunung, perubahan suhu, serta peningkatan pelepasan gas vulkanik.

Artinya, hubungan antara gempa dan erupsi harus dibuktikan berdasarkan data pemantauan, bukan hanya berdasarkan kedekatan waktu antara dua peristiwa.

Masyarakat Diminta Tidak Panik

Di tengah maraknya informasi mengenai aktivitas gunung api di media sosial, masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi yang tidak memiliki sumber jelas.

PVMBG mengimbau masyarakat untuk mengikuti perkembangan aktivitas gunung api melalui informasi resmi pemerintah dan tidak menyebarkan spekulasi yang dapat menimbulkan kepanikan.

Pemantauan gunung api dilakukan secara terus-menerus melalui pos pengamatan dan instrumen kegempaan. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk mengevaluasi tingkat aktivitas dan menentukan langkah mitigasi apabila terjadi peningkatan potensi bahaya.

Khusus untuk gunung api yang berada pada status Siaga maupun gunung api lain yang mengalami peningkatan aktivitas, masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana diminta mematuhi rekomendasi PVMBG serta pemerintah daerah.

Fenomena enam gunung api yang mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026 dengan demikian tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa Indonesia sedang mengalami satu rangkaian letusan yang saling berkaitan.

Enam gunung api tersebut memang erupsi pada waktu yang berdekatan, tetapi berdasarkan kajian PVMBG, masing-masing tetap memiliki sistem dan proses vulkaniknya sendiri.

(Sumber: AntaraNews.com)