Daerah

Pertalite Sulit Didapat, Buruh Pabrik di Karanganyar Terpaksa Beli Pertamax: Gaji Pas-pasan Kian Terbebani

104
×

Pertalite Sulit Didapat, Buruh Pabrik di Karanganyar Terpaksa Beli Pertamax: Gaji Pas-pasan Kian Terbebani

Sebarkan artikel ini

Pertalite Hard to Find, Karanganyar Factory Worker Forced to Buy Pertamax as Rising Fuel Costs Strain His Limited Income

SPBU - Gambar ilustrasi AI
KARANGANYAR – Sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite membuat seorang buruh pabrik di Karanganyar, Jawa Tengah, harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan transportasi sehari-hari. Adi, yang bekerja sebagai buruh pabrik, mengaku terpaksa beralih membeli Pertamax ketika Pertalite sulit diperoleh akibat antrean panjang dan stok yang kosong.

Bagi Adi, membeli Pertamax bukanlah pilihan utama. Dengan penghasilan yang pas-pasan, ia harus mengatur keuangan secara cermat agar kebutuhan bahan bakar untuk bekerja tetap terpenuhi tanpa mengorbankan kebutuhan pokok lainnya.

“Sebenarnya saya ingin beli Pertalite karena harganya lebih murah. Tapi, kalau antreannya panjang dan stoknya kosong, mau tidak mau saya harus beli Pertamax,” ujar Adi, dikutip dari TribunStyle.com, Kamis (29/10/2026).

Biaya Transportasi Menggerus Penghasilan Buruh

Adi mengatakan, kondisi tersebut membuat pengeluaran untuk bahan bakar semakin membebani keuangannya. Padahal, BBM merupakan kebutuhan rutin yang sulit dihindari karena kendaraan digunakan untuk menunjang aktivitas bekerja.

BACA JUGA:  533 Buruh Pabrik Rokok Pailit di Blitar Segera Terima Tunggakan Upah Rp6,08 Miliar

Ketika Pertalite sulit diperoleh, Adi harus memilih antara menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengantre atau membeli Pertamax dengan harga yang lebih tinggi.

Situasi ini membuatnya harus menyusun ulang anggaran rumah tangga dan menekan pengeluaran lain yang masih bisa ditunda.

“Gaji saya sebagai buruh pabrik pas-pasan. Jadi, kalau harus beli Pertamax, pengeluaran lain terpaksa saya tekan supaya kebutuhan BBM tetap terpenuhi,” kata Adi.

Bagi pekerja dengan penghasilan terbatas, tambahan biaya transportasi dapat menjadi persoalan tersendiri. Pengeluaran yang meningkat untuk kebutuhan bahan bakar berpotensi mengurangi alokasi dana untuk kebutuhan sehari-hari.

Harga Pertalite dan Pertamax pada 29 Oktober 2026

Berdasarkan daftar harga BBM Pertamina yang tercantum dalam laporan TribunStyle.com, harga Pertalite berada di angka Rp10.000 per liter di berbagai wilayah Indonesia yang disebutkan dalam daftar tersebut.

BACA JUGA:  Bawa Laptop dan HP Perusahaan, Seorang Warga Bandung Dilaporkan ke Polisi di Batam

Sementara itu, harga Pertamax berbeda-beda menurut wilayah. Di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan sejumlah wilayah lainnya, harga Pertamax tercatat Rp15.950 per liter.

Dengan demikian, terdapat selisih harga Rp5.950 per liter antara Pertalite dan Pertamax di wilayah-wilayah tersebut.

Perbedaan harga itu dapat menambah beban pengeluaran pekerja apabila mereka harus membeli Pertamax karena Pertalite tidak tersedia.

Berikut sejumlah harga BBM yang tercantum dalam laporan tersebut untuk wilayah Jawa Tengah :

  • Pertamax Turbo: Rp19.600
  • Pertamax Green: Rp19.150
  • Pertamax: Rp15.950
  • Pertalite: Rp.10.000
  • Pertamina Dex: Rp25.200
  • Dexlite: Rp23.700
  • Pertamina Biosolar Nonsubsidi: –
  • Pertamina Biosolar Subsidi: Rp6.800

Harga BBM dapat berbeda berdasarkan wilayah. Masyarakat dapat memeriksa informasi harga terbaru melalui saluran resmi Pertamina Patra Niaga.

BACA JUGA:  Dinnakerin Banyumas Buka Pelatihan Vokasi Gratis bagi Pekerja Ter-PHK, Pendaftaran Ditutup 23 Oktober 2026

Ketersediaan BBM Jadi Perhatian Pekerja

Pengalaman Adi menggambarkan tantangan yang dihadapi pekerja berpenghasilan terbatas ketika bahan bakar yang lebih terjangkau sulit diperoleh. Di tengah kebutuhan untuk tetap bekerja dan mencari nafkah, ketersediaan BBM dengan harga yang sesuai kemampuan menjadi faktor penting dalam mengendalikan pengeluaran.

Bagi Adi, kebutuhan bahan bakar bukan sekadar persoalan pilihan jenis BBM, melainkan juga berkaitan langsung dengan kemampuan menjaga keseimbangan keuangan sehari-hari.

Ketika pengeluaran transportasi meningkat, pekerja seperti dirinya harus kembali menghitung anggaran agar kebutuhan lain tetap dapat dipenuhi.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya ketersediaan BBM yang memadai agar masyarakat dapat memperoleh bahan bakar sesuai kebutuhan dan kemampuan ekonominya. (Sumber : TribunNews.com)