JAMBI – Pemerintah Provinsi Jambi mencatat realisasi investasi hingga triwulan II tahun 2026 mencapai Rp4,2 triliun. Investasi yang berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) tersebut didominasi oleh sektor perkebunan, tanaman pangan, dan peternakan yang memberikan kontribusi hampir 25 persen dari total investasi.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jambi, Agus Sunaryo, mengatakan bahwa investor dari Tiongkok dan Prancis menjadi penyumbang investasi asing terbesar di daerah tersebut.
“Total investasi berasal dari PMDN dan PMA. Tiongkok dan Prancis merupakan penyumbang terbesar,” ujar Agus di Kota Jambi, Rabu, 6/8/2026
Berdasarkan sektor usaha, investasi pada sektor tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan hingga Juli 2026 mencapai Rp1,006 triliun, menjadikannya sektor dengan nilai investasi tertinggi.
Di posisi berikutnya, sektor industri makanan mencatat investasi sebesar Rp795 miliar, disusul sektor kehutanan sebesar Rp403 miliar. Sementara itu, sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi menempati urutan keempat dengan nilai investasi mencapai Rp411 miliar.
Dari sisi wilayah, Kabupaten Muaro Jambi menjadi daerah dengan realisasi investasi terbesar hingga triwulan II 2026, yakni mencapai Rp780 miliar. Posisi kedua ditempati Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan nilai investasi sebesar Rp758 miliar, diikuti Kabupaten Tebo sebesar Rp723 miliar, serta Kota Jambi senilai Rp633 miliar.
Selanjutnya, realisasi investasi di daerah lainnya meliputi Kabupaten Bungo sebesar Rp608 miliar, Sarolangun Rp214 miliar, Tanjung Jabung Timur Rp168 miliar, Kota Sungai Penuh Rp154 miliar, Batang Hari Rp124 miliar, Kabupaten Merangin Rp53 miliar, dan Kabupaten Kerinci sebesar Rp12 miliar.
Agus menambahkan, realisasi investasi tersebut memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja. Hingga triwulan II 2026, investasi yang masuk telah menciptakan lapangan pekerjaan bagi 8.090 orang, yang terdiri dari tenaga kerja lokal serta 11 tenaga kerja asing.
Meski demikian, Pemerintah Provinsi Jambi mencatat adanya perlambatan investasi pada triwulan II. Nilai investasi pada periode tersebut mencapai Rp1,7 triliun, lebih rendah dibandingkan realisasi pada triwulan I yang mencapai Rp2,5 triliun.
“Secara periodik, triwulan II mengalami perlambatan dengan nilai investasi sebesar Rp1,7 triliun, lebih rendah ketimbang triwulan I yang mencapai Rp2,5 triliun. Harapannya pada semester II tahun ini nilai investasi Jambi terus meningkat,” kata Agus.
Pemerintah Provinsi Jambi optimistis tren investasi akan kembali meningkat pada paruh kedua tahun 2026 seiring upaya pemerintah dalam memperkuat iklim investasi, mempercepat pelayanan perizinan, serta mendorong pengembangan sektor-sektor unggulan yang memiliki daya saing tinggi. (Sumber : AntaraNews.com)











