JAKARTA – Aktivitas buruh pengupas bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, menjadi potret nyata kerasnya perjuangan pekerja sektor informal. Seorang buruh tampak mengayak bawang merah sebelum mengupas kulitnya, sementara tumpukan bawang yang telah bersih dijajakan di lapak-lapak pasar.
Upah buruh pengupas bawang di pasar tersebut berkisar antara Rp1.500 hingga Rp3.500 per kilogram. Dengan rata-rata kemampuan mengupas 50 kilogram bawang merah per hari, penghasilan mereka hanya mencapai Rp75 ribu hingga Rp175 ribu per hari. Angka ini jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup di ibu kota.
Rutinitas Berat di Tengah Aroma Menyengat
Pekerjaan mengupas kulit bawang merah bukanlah pekerjaan ringan. Selain harus berhadapan dengan aroma menyengat yang membuat mata perih, buruh juga dituntut bekerja cepat agar mampu mencapai target harian.
Di sela-sela kesibukan, buruh terlihat memindahkan bawang merah dari karung ke wadah pengupasan, lalu menguliti satu per satu hingga bersih. Tumpukan bawang yang sudah dikupas kemudian dijual kembali oleh pedagang dengan harga lebih tinggi.
Realitas Upah Buruh
Meski pekerjaan ini memerlukan ketelitian dan ketahanan fisik, upah yang diterima buruh masih sangat rendah. Perbandingan antara tenaga yang dikeluarkan dan penghasilan yang diperoleh menyoroti ketimpangan kesejahteraan pekerja sektor informal.
Fenomena ini kembali mengingatkan publik akan pentingnya perhatian pemerintah terhadap nasib buruh kecil dan harga pangan yang terus menjadi isu sensitif di masyarakat.
Potret Pasar Tradisional
Pasar Induk Kramat Jati bukan hanya pusat distribusi bawang merah, tetapi juga simbol denyut ekonomi rakyat. Aktivitas buruh pengupas bawang menjadi bagian tak terpisahkan dari rantai pasok pangan di Jakarta.
Namun, di balik tumpukan bawang merah yang rapi, tersimpan cerita tentang ketahanan hidup buruh yang bekerja keras demi penghasilan yang pas-pasan.
(Sumber : Tempo.co)











