Daerah

Bupati Bantaeng Temui Massa Solidaritas Helm Kuning, Bahas PHK di Huadi Group

123
×

Bupati Bantaeng Temui Massa Solidaritas Helm Kuning, Bahas PHK di Huadi Group

Sebarkan artikel ini

Bantaeng Regent Meets Yellow Helmet Solidarity Protesters, Discusses Layoffs at Huadi Group

Bupati Uji Nurdin Jelaskan Penyebab PHK Huadi Group _ Suara Lidik

BANTAENG — Bupati Bantaeng, M. Fathul Fauzy, menemui langsung massa aksi Solidaritas Helm Kuning Kawasan Industri Bantaeng (KIBA) atau Huadi Group yang menggelar demonstrasi di Kantor Bupati Bantaeng, Jumat (2/5/2025).

Dalam pertemuan tersebut, Bupati yang akrab disapa Uji Nurdin itu mengajak para demonstran duduk bersama di halaman kantor bupati. Ia mendengarkan langsung sejumlah tuntutan yang disampaikan massa terkait kondisi ketenagakerjaan di perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan industri tersebut.

Menanggapi tuntutan buruh, Uji Nurdin mengatakan dirinya juga tidak menginginkan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) di lingkungan Huadi Group. Namun, menurutnya, industri smelter nikel saat ini tengah menghadapi tekanan akibat penurunan harga nikel.

“Jauh sebelumnya, saya telah memanggil direksi PT Huadi terkait PHK ini. Rupanya bulan lalu pihak perusahaan rencana mau PHK sampai 200 orang terkait efisiensi karena harga nikel yang anjlok. Namun pemerintah punya batasan terkait intervensi, kami hanya bisa menahan, sehingga PHK kemarin tidak sebanyak itu,” ujar Uji Nurdin.

Ia menjelaskan, dampak penurunan harga nikel tidak hanya dirasakan oleh pekerja, tetapi juga berpengaruh terhadap pemerintah daerah. Penurunan aktivitas produksi, kata dia, turut berdampak terhadap penerimaan daerah.

“Kami pun dirugikan, semakin sedikit karyawan semakin sedikit produksi, retribusi daerah semakin sedikit juga. Jadi ini bukan hanya keresahan teman-teman, ini juga keresahan kami,” katanya.

Uji Nurdin berharap kondisi harga nikel yang mengalami penurunan tidak sampai mengancam keberlangsungan lima perusahaan yang beroperasi di lingkungan Huadi Group.

BACA JUGA:  Imbas Penurunan Kinerja, PT GNI Siapkan PHK Terhadap 1.900 Karyawan

Menurutnya, kondisi industri smelter di sejumlah daerah menunjukkan adanya risiko yang lebih besar apabila tekanan terhadap industri terus berlanjut. Ia mencontohkan sejumlah perusahaan smelter di Morowali yang menghentikan operasionalnya.

“Termasuk di Morowali, bahkan ada satu perusahaan 34 tungku tutup total. Sehingga bukan PHK lagi tapi pabriknya tutup. Di Bantaeng kita punya 10 tungku, yang beroperasi sisa 7. Kita tidak bisa apa-apa, karena memang kondisi nikel anjlok,” ungkapnya.

Buruh Soroti Hak dan Kondisi Kerja

Sementara itu, salah satu peserta aksi, Junedi, mengatakan demonstrasi tersebut dilatarbelakangi keprihatinan terhadap kondisi ketenagakerjaan di perusahaan-perusahaan yang berada di lingkup Kawasan Industri Bantaeng.

Menurut Junedi, para pekerja menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari kondisi kerja yang dinilai belum layak hingga dugaan pelanggaran hak-hak dasar dan praktik diskriminatif terhadap buruh.

“Kami menuntut pemenuhan hak-hak dasar pekerja sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kewajiban hukum yang harus ditegakkan oleh setiap perusahaan,” kata Junedi.

Ia menegaskan, perjuangan yang dilakukan melalui aksi tersebut tidak hanya berkaitan dengan kepentingan kelompok tertentu. Para buruh, kata dia, ingin mendorong terciptanya lingkungan kerja yang adil, manusiawi, dan bermartabat.

“Melalui aksi ini, kami menegaskan bahwa perjuangan untuk keadilan bukan hanya milik satu kelompok, melainkan kepentingan bersama untuk menciptakan tempat kerja yang adil, manusiawi, dan bermartabat,” pungkasnya.

(Sumber : suaralidik.com)

BACA JUGA:  Pemerintah Pacu Kawasan Industri Kendaraan Nasional di Subang, Siapkan Akses Tol untuk Dukung Pusat Manufaktur Kendaraan Listrik