Daerah

Brondolan Sawit Jadi Tumpuan Hidup Warga Aceh Singkil, Buruh Harian Andalkan Upah per Kilogram

61
×

Brondolan Sawit Jadi Tumpuan Hidup Warga Aceh Singkil, Buruh Harian Andalkan Upah per Kilogram

Sebarkan artikel ini

Oil Palm Loose Fruits Sustain Livelihoods in Aceh Singkil as Daily Workers Depend on Piece-Rate Wages

ILUSTRASI-petani perkebunan sedang memungut brondolan buah kelapa sawit

ACEH SINGKIL – Aktivitas memungut dan memilah brondolan kelapa sawit masih menjadi salah satu sumber penghasilan bagi sebagian masyarakat di Kabupaten Aceh Singkil. Meski harus bekerja sejak pagi hingga sore dengan kondisi yang cukup berat, pekerjaan tersebut tetap menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Pantauan di salah satu lokasi penampungan sawit di wilayah Singkil memperlihatkan para buruh harian lepas (BHL) sibuk memisahkan brondolan dari tandan buah segar (TBS). Tumpukan TBS terlihat memenuhi area gudang, sementara brondolan yang telah dipisahkan dikumpulkan ke dalam ember dan baskom sebelum ditimbang untuk dijual.

Salah seorang buruh harian lepas di Kecamatan Singkil Utara, Edi Nasution, mengaku telah hampir satu tahun menggantungkan penghasilannya dari pekerjaan tersebut. Menurutnya, hasil yang diperoleh cukup membantu memenuhi kebutuhan keluarga meski bergantung pada banyaknya buah sawit yang masuk ke tempat penampungan.

“Sudah setahun inilah kerja ngetek brondolan. Kalau kerjanya dari pagi sampai sore, lumayan buat nambah-nambah. Kalau lagi banyak buah pulang dari pabrik bisa dapat empat sampai lima karung sehari,” ujar Edi Nasution, Rabu (22/7/2026).

Edi menjelaskan, jumlah brondolan yang berhasil dikumpulkan setiap hari sangat dipengaruhi oleh pasokan tandan buah segar dari kebun maupun pabrik. Ketika pasokan meningkat, pendapatan para buruh juga ikut bertambah.

BACA JUGA:  150 Pekerja Proyek Jagung di Cikalongwetan Mengaku Belum Dibayar, Tunggakan Capai Rp899 Juta

Sementara itu, seorang pemilik tempat penampungan sawit di lokasi tersebut mengatakan keberadaan buruh harian lepas sangat membantu kelancaran operasional gudang. Para pekerja bertugas memisahkan brondolan dari janjangan, menimbang hasilnya, hingga membantu proses pemuatan TBS ke atas truk sebelum dikirim ke pabrik pengolahan.

Menurutnya, sistem pengupahan diberikan berdasarkan jumlah kilogram brondolan yang berhasil dipisahkan setiap harinya. Skema tersebut dinilai mampu mendorong produktivitas para pekerja sekaligus mempercepat proses distribusi sawit.

“Alhamdulillah dengan adanya buruh lepas ini pekerjaan di gudang agak lebih ringan, mulai dari memisahkan berondolan dari janjangan hingga memuat sawit ke truk. Untuk gaji mereka kita hitung per kilogram dari hasil yang mereka kumpulkan,” katanya.

Bagi masyarakat di Aceh Singkil, pekerjaan sebagai pemilah brondolan sawit menjadi salah satu alternatif mata pencaharian di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan. Meski pendapatannya tidak menentu dan bergantung pada volume panen sawit, aktivitas ini tetap menjadi penopang ekonomi bagi banyak keluarga di daerah tersebut.

BACA JUGA:  Industri Batu Bara dan Sawit Masih Beroperasi di Kawasan Cagar Budaya Nasional Candi Muarajambi, Dinilai Ancam Kelestarian Situs

(Sumber : rri.co.id)