Nasional

Batam Kian Diperhitungkan, IMOX 2026 Hadirkan Pelaku Industri Maritim dari 20 Negara

25
×

Batam Kian Diperhitungkan, IMOX 2026 Hadirkan Pelaku Industri Maritim dari 20 Negara

Sebarkan artikel ini
Group CEO Fireworks Trade Media, Kenny Yong

BATAM – Batam semakin diperhitungkan sebagai salah satu pusat industri maritim di kawasan. Hal itu tercermin dari kehadiran lebih dari 220 perusahaan dari sedikitnya 20 negara dalam ajang Indonesia Marine & Offshore Expo (IMOX) 2026 di Radisson Golf & Convention Center Batam, Rabu (5/8/2026) hingga Jumat (7/8/2026).

Kehadiran ratusan perusahaan internasional tersebut menjadi sinyal kuat meningkatnya daya tarik Batam bagi industri perkapalan dan sektor lepas pantai. Selain menjadi pusat industri galangan kapal nasional, Batam juga dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai pusat pengembangan teknologi dan bisnis maritim di masa depan.

IMOX 2026 yang memasuki penyelenggaraan ke-9 mengusung tema “Batam: Indonesia’s Future Hub for Smart Shipbuilding & Offshore Transformation”. Pameran ini menargetkan nilai transaksi hingga 20 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp325 miliar.

Group CEO Fireworks Trade Media, Kenny Yong, mengatakan jumlah peserta dan negara yang terlibat menunjukkan tingginya perhatian pelaku industri maritim global terhadap perkembangan sektor perkapalan di Batam.

“Tahun ini ada lebih dari 220 perusahaan dari berbagai negara yang ikut ambil bagian. Ada 20 negara yang ikut serta,” kata Kenny, Rabu (5/8).

BACA JUGA:  Jaringan Judi Online Filipina-Kamboja Beroperasi di Perumahan Mewah Batam, Tiga Orang Diciduk

Sejumlah negara yang berpartisipasi antara lain Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, Korea Selatan, China, India, Jerman, Italia, Prancis, Inggris, Amerika Serikat, serta sejumlah negara lainnya.

Menurut Kenny, IMOX tidak hanya menjadi ajang untuk mempertemukan produsen dan pelaku industri, tetapi juga membuka ruang kolaborasi bisnis, pertukaran teknologi, serta pengembangan jaringan industri maritim.

Berbagai perusahaan menampilkan inovasi terbaru, mulai dari peralatan galangan kapal, sistem otomasi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), perangkat lunak, mesin, hingga teknologi keselamatan kerja dan industri lepas pantai.

“Kami sudah masuk ke era AI. Teknologi yang dipamerkan membuat proses pembangunan kapal menjadi lebih cepat, lebih aman, dan lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Pengunjung juga dapat melihat dan mencoba secara langsung sejumlah teknologi serta peralatan yang dipamerkan. Konsep tersebut diharapkan dapat memperluas peluang kerja sama sekaligus mempercepat adopsi teknologi baru di sektor maritim.

Kenny menilai Batam memiliki posisi yang sangat strategis dalam industri galangan kapal Indonesia. Saat ini, sekitar 60 persen produksi kapal nasional dikerjakan di Batam.

BACA JUGA:  Sembilan Tokoh Jadi Tim Formatur Kongres Kembali ke UUD 1945 Asli

Menurutnya, posisi tersebut menjadi salah satu alasan kuat banyak perusahaan internasional memilih Batam sebagai lokasi kegiatan operasional dan pengembangan industri.

Ia menjelaskan, sejumlah perusahaan menempatkan kantor pusat di Singapura, sementara fasilitas produksi dan kegiatan operasional galangan kapal berada di Batam.

Kedekatan geografis dengan Singapura, status kawasan perdagangan bebas, ketersediaan lahan, serta biaya operasional yang kompetitif menjadi keunggulan tersendiri bagi Batam.

“Head office banyak berada di Singapura, tetapi operasionalnya di Batam. Itu menjadi keunggulan Batam dalam industri ini,” katanya.

Selain memiliki posisi strategis, industri galangan kapal di Batam juga terus menunjukkan pertumbuhan. Sejumlah perusahaan bahkan mengaku menghadapi tingginya permintaan dari pasar internasional hingga harus membatasi penerimaan pesanan baru.

“Ada perusahaan yang mengatakan order mereka sangat banyak sampai harus menghentikan penerimaan pesanan baru sementara waktu untuk menyelesaikan kontrak yang sudah ada,” ungkap Kenny.

Kondisi tersebut, menurut dia, menunjukkan industri galangan kapal Batam masih memiliki prospek yang kuat dan terus menarik perhatian pasar global.

BACA JUGA:  8,6 Juta Orang Indonesia Pernah Berhenti Bekerja, 3,1 Juta Masih Menganggur

Meski demikian, Kenny mengakui industri saat ini menghadapi sejumlah tantangan. Kondisi tersebut membuat sebagian perusahaan lebih memprioritaskan pemeliharaan dan perawatan dibandingkan investasi untuk pembelian peralatan baru.

Namun, pihaknya tetap optimistis target transaksi IMOX 2026 sebesar 20 juta dolar AS dapat tercapai karena kebutuhan industri maritim dan perkapalan masih cukup tinggi.

“Namun, kami tetap optimistis karena kebutuhan industri masih tinggi. Kami melihat industri perkapalan di Batam luar biasa,” jelasnya.

Masuknya investasi asing juga dinilai memberi dampak positif terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di Batam. Kehadiran perusahaan internasional membawa standar kompetensi, teknologi, dan program pelatihan yang dapat meningkatkan kesiapan tenaga kerja lokal dalam memenuhi kebutuhan industri global.

Kenny mengapresiasi dukungan BP Batam, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), asosiasi industri, serta pelaku usaha terhadap penyelenggaraan IMOX.

“Kami menilai IMOX terus berkembang dan mampu menghadirkan pelaku industri maritim dari berbagai negara setiap tahunnya,” pungkasnya. (mri)