Nasional

Badai PHK Mengintai: 20 Ribu Pekerja Terancam Kehilangan Pekerjaan Akibat Rupiah Melemah dan Krisis Global

17
×

Badai PHK Mengintai: 20 Ribu Pekerja Terancam Kehilangan Pekerjaan Akibat Rupiah Melemah dan Krisis Global

Sebarkan artikel ini
Istimewa

JAKARTA – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) diperkirakan kembali menghantam Indonesia pada kuartal II 2026. Center of Reform on Economics Indonesia (CORE) memprediksi sebanyak 15,3 ribu hingga 20,3 ribu pekerja berpotensi kehilangan pekerjaan akibat tekanan ekonomi global yang semakin berat.

Sektor manufaktur menjadi yang paling rentan terdampak. Kenaikan biaya impor bahan baku, pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus Rp17.400 per dolar AS, serta terganggunya jalur distribusi dunia akibat konflik di Timur Tengah disebut menjadi pemicu utama ancaman PHK massal tersebut.

Dalam laporan bertajuk “Badai PHK (Belum) Berlalu”, CORE memperkirakan sektor manufaktur bisa menyumbang PHK terbesar, yakni mencapai 8,7 ribu hingga 12,1 ribu pekerja.

BACA JUGA:  Pemerintah Perkuat Koordinasi Cegah PHK

Sementara sektor jasa diperkirakan kehilangan 3,3 ribu–4,5 ribu tenaga kerja, dan sektor pertanian sekitar 3,3 ribu–3,6 ribu pekerja.

CORE menjelaskan, perusahaan manufaktur kini menghadapi lonjakan biaya produksi akibat mahalnya bahan baku impor.

Jika gangguan distribusi di Selat Hormuz terus berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, tekanan terhadap industri nasional diperkirakan semakin berat.

Dalam skenario terburuk, perusahaan yang mengalami kenaikan biaya input produksi lebih dari 1,5% diprediksi memangkas output hingga 0,15%. Dampaknya, efisiensi besar-besaran hingga PHK dinilai sulit dihindari.

Tak hanya itu, CORE juga menyoroti kondisi pasar tenaga kerja Indonesia yang dinilai semakin rapuh.

Per Februari 2026, jumlah pekerja informal telah mencapai 87,74 juta orang atau sekitar 59,42% dari total tenaga kerja aktif nasional.

BACA JUGA:  Kawah Candradimuka Pemimpin Bangsa, Presiden Prabowo Resmikan Museum dan Perpustakaan Seskoad

Data tersebut menunjukkan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan formal akhirnya terpaksa beralih ke sektor informal dengan pendapatan yang tidak menentu dan minim perlindungan kerja.

Lebih memprihatinkan lagi, jumlah angkatan kerja baru yang berhasil terserap sebagai pekerja pada Februari 2026 hanya mencapai 38 ribu orang anjlok 86% dibanding rata-rata periode sebelumnya.

CORE menilai kondisi ini menjadi alarm serius bagi ketahanan ekonomi dan pasar kerja Indonesia di tengah tekanan global yang belum mereda.

 

sumber: detikfinance