BERLIN — Produsen mobil mewah asal Jerman, Porsche, berpotensi melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 4.100 karyawan sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran di lingkungan Volkswagen Group.
Rencana pengurangan tenaga kerja tersebut dilaporkan media Jerman Handelsblatt dan dikutip pada Minggu (20/9/2026). Langkah itu dilakukan ketika Porsche menghadapi tekanan bisnis, terutama akibat melemahnya penjualan di China serta perubahan strategi perusahaan dalam pengembangan kendaraan listrik (EV).
Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap kinerja Volkswagen. Perseroan sebelumnya menurunkan proyeksi laba tahunannya setelah menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan Porsche, termasuk tingginya biaya untuk menyesuaikan strategi elektrifikasi.
Berdasarkan dokumen terkait kesepakatan terbaru dewan pengawas Volkswagen, Porsche berencana mengurangi sekitar 4.100 posisi pekerjaan. Pengurangan tersebut disebut ditujukan untuk menutup kekurangan biaya operasional sekitar 700 juta euro atau setara dengan sekitar US$803,8 juta.
Menurut laporan Handelsblatt, rencana pengurangan tenaga kerja terbaru itu berada di luar kesepakatan PHK yang sebelumnya telah dicapai antara manajemen Porsche dan perwakilan pekerja.
Pada Juli 2026, manajemen Porsche bersama perwakilan pekerja telah menyepakati tambahan pengurangan sekitar 5.000 karyawan. Jumlah tersebut merupakan tambahan dari sekitar 4.000 PHK yang telah disepakati sebelumnya.
Dengan demikian, jumlah pengurangan tenaga kerja yang telah disepakati sebelumnya mencapai sekitar 9.000 karyawan.
Jika rencana pengurangan sekitar 4.100 karyawan terbaru tersebut juga direalisasikan, jumlah tenaga kerja Porsche yang terdampak restrukturisasi akan meningkat secara signifikan.
Restrukturisasi ini menjadi bagian dari upaya Porsche dan Volkswagen menekan biaya di tengah perubahan kondisi industri otomotif global. Produsen kendaraan premium tersebut menghadapi tantangan berupa perubahan permintaan konsumen, persaingan kendaraan listrik yang semakin ketat, serta perlambatan pasar China.
China selama ini menjadi salah satu pasar penting bagi Porsche. Namun, penurunan penjualan di negara tersebut memberikan tekanan terhadap pendapatan dan kinerja perusahaan.
Di sisi lain, transisi menuju kendaraan listrik membutuhkan investasi besar. Porsche harus mengalokasikan dana untuk pengembangan teknologi, model baru, serta penyesuaian strategi produksi ketika permintaan kendaraan listrik berkembang tidak sesuai dengan ekspektasi sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat perusahaan melakukan penyesuaian terhadap struktur biaya dan tenaga kerja.
Sebelumnya, rencana pengurangan sekitar 9.000 karyawan yang telah disepakati Porsche setara dengan sekitar seperlima dari total tenaga kerja perusahaan. Apabila tambahan sekitar 4.100 posisi kembali dikurangi, skala restrukturisasi akan semakin besar.
Langkah tersebut menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi Porsche dalam melakukan penyesuaian bisnis di tengah transformasi industri otomotif dari kendaraan bermesin pembakaran internal menuju kendaraan listrik.
Bagi pekerja, rencana tersebut berpotensi memperbesar dampak restrukturisasi terhadap lapangan pekerjaan di perusahaan. Sementara bagi Volkswagen Group, pengurangan biaya menjadi salah satu langkah yang ditempuh untuk memperbaiki kinerja Porsche dan menjaga stabilitas keuangan grup.
Namun, besaran akhir pengurangan tenaga kerja serta waktu pelaksanaannya tetap bergantung pada proses pembahasan antara manajemen, dewan pengawas, dan perwakilan pekerja.
Restrukturisasi Porsche menjadi perhatian karena perusahaan merupakan salah satu merek utama Volkswagen Group. Perubahan strategi dan kinerja Porsche tidak hanya berdampak pada perusahaan tersebut, tetapi juga dapat memengaruhi kinerja keseluruhan grup otomotif terbesar Jerman tersebut.
(Sumber : handelsblatt.com)











