Nasional

B50 Jadi Tonggak Kemandirian Energi, Prabowo Targetkan Bangun Hingga 50 Pabrik Bioetanol

96
×

B50 Jadi Tonggak Kemandirian Energi, Prabowo Targetkan Bangun Hingga 50 Pabrik Bioetanol

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI - Prabowo Resmikan B50

JAKARTA – Program Biodiesel 50% (B50) dinilai menjadi tonggak baru dalam memperkuat kemandirian energi nasional. Selain mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor solar, keberhasilan pengembangan bahan bakar berbasis minyak kelapa sawit tersebut juga membuka jalan bagi percepatan pengembangan bioetanol sebagai energi alternatif di Indonesia.

Pemerintah menilai penguatan bauran energi berbasis sumber daya domestik akan menjadi salah satu fondasi ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan di tengah dinamika ekonomi global.

Mengutip keterangan resmi Presiden RI, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Indonesia berhasil menjaga stabilitas ekonomi sembari mendorong pembangunan berbagai sektor strategis, termasuk energi. Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Panen Raya Serentak di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).

Menurut Presiden, penguatan sektor energi tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas), tetapi juga melalui pengembangan energi terbarukan berbasis potensi dalam negeri.

BACA JUGA:  DPD KSPSI se-Sumatera Berkumpul di Batam, Perkuat Soliditas dan Perjuangan Pekerja

Prabowo menyoroti keberhasilan Indonesia menjadi negara pertama yang memproduksi biodiesel B50 secara komersial sebagai bukti kemampuan nasional dalam mengembangkan energi alternatif.

“Kita kemarin berhasil mulai produksi dan mulai pembangunan blok gas. Ini salah satu yang terbesar di kawasan kita setelah 28 tahun mangkrak. Sebelumnya, kita berhasil menjadi negara pertama di dunia yang menghasilkan B50 dan sekarang menghasilkan solar dari kelapa sawit,” ujar Prabowo.

Selain keberhasilan implementasi B50, Presiden juga mengungkapkan rencana pemerintah untuk mempercepat pengembangan industri bioetanol nasional.

Pemerintah menargetkan peningkatan pencampuran bahan bakar berbasis etanol hingga mencapai E20, yaitu campuran 20 persen bioetanol dan 80 persen bensin konvensional. Namun, untuk mencapai target tersebut diperlukan peningkatan kapasitas produksi bioetanol secara signifikan.

BACA JUGA:  Koalisi Besar Perjuangan Buruh Indonesia Dideklarasi, Tanpa Partai Buruh

Saat ini Indonesia baru memiliki satu pabrik bioetanol dengan kapasitas yang dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Karena itu, Presiden memutuskan untuk mempercepat pembangunan pabrik bioetanol dalam jumlah besar.

“Para petugas mengatakan, kita bisa sampai E20, tapi butuh pabrik. Saya putuskan, kita akan bangun minimal 30 pabrik, kalau perlu sampai 50. India sudah E20, Brasil sudah E100, masa Indonesia tidak bisa,” tegasnya.

Menurut Prabowo, pengembangan bioetanol akan menjadi langkah lanjutan setelah keberhasilan implementasi B50 sekaligus memperkuat diversifikasi energi nasional.

Tidak hanya sektor energi, Presiden juga menegaskan komitmen pemerintah memperkuat industri nasional melalui pengembangan kendaraan listrik produksi dalam negeri.

Ia optimistis Indonesia mampu menghasilkan sepeda motor dan mobil buatan anak bangsa sebagai bagian dari penguatan ekosistem manufaktur nasional.

“Kita akan punya motor dan mobil buatan anak-anak Indonesia,” katanya.

Di sektor pertahanan, Prabowo menilai kemampuan industri nasional juga semakin menunjukkan daya saingnya. Ia mencontohkan keberhasilan prajurit TNI meraih 12 kemenangan berturut-turut dalam kompetisi menembak internasional menggunakan senjata produksi dalam negeri.

“Itu pakai senjata buatan anak-anak Indonesia, senapan serbu dari kita, pistol dari kita,” ujar Presiden.

Pemerintah memandang penguatan sektor energi, industri manufaktur, dan industri pertahanan merupakan bagian dari strategi besar membangun kemandirian nasional. Apabila pembangunan 30 hingga 50 pabrik bioetanol dapat direalisasikan, Indonesia berpeluang mempercepat transisi energi, mengurangi impor bahan bakar, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional di tingkat global. (Sumber : afu.id)

BACA JUGA:  Industri Tekstil Masih Tertekan di Semester II 2026, Impor Murah dan Lemahnya Permintaan Jadi Tantangan