Internasional

TikTok PHK Ratusan Karyawan Tokopedia, Operasi Teknologi Dialihkan ke China

114
×

TikTok PHK Ratusan Karyawan Tokopedia, Operasi Teknologi Dialihkan ke China

Sebarkan artikel ini

TikTok PHK Hundreds of Tokopedia Employees, Shifts Technology Operations to China

ilustrasi- Market place tik-tok marger tokopedia

MARKET PLACE, Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali terjadi di tubuh Tokopedia setelah berada di bawah kendali TikTok. Kali ini, lebih dari 450 karyawan di divisi teknologi dikabarkan terdampak dalam gelombang PHK terbaru, sementara sebagian besar operasional teknologi platform kini disebut telah dialihkan ke China.

Berdasarkan informasi yang dihimpun CNBC Indonesia dari sejumlah narasumber, jumlah karyawan teknologi Tokopedia kini tersisa sekitar 35 orang. Sebelum diakuisisi TikTok melalui ByteDance, divisi teknologi Tokopedia memiliki sekitar 1.100 karyawan.

“Dulu sebelum diambil ByteDance, karyawan teknologi sekitar 1.100 orang. Dalam batch terakhir, sekitar 500 karyawan teknologi terkena PHK. Sekarang yang tersisa hanya 35 orang,” ujar salah satu narasumber.

BACA JUGA:  Anak Buruh Tani Asal Mojokerto Bangun Jembatan Kerja Jarak Jauh ke Amerika Serikat

Secara keseluruhan, gelombang PHK terbaru disebut menyisakan sekitar 10 persen dari total sekitar 2.500 karyawan Tokopedia yang ada saat perusahaan e-commerce tersebut diakuisisi dari GoTo. Karyawan yang masih bertahan mayoritas berasal dari unit bisnis, trust and safety, serta sebagian kecil tim teknologi.

Narasumber lain menyebut seluruh pengembangan dan pengelolaan teknologi di balik platform Tokopedia maupun TikTok Shop kini ditangani oleh tim ByteDance di China.

“Dulu disampaikan akan tetap hidup berdampingan dan membantu talenta Indonesia. Namun sekarang, semua yang mengelola teknologi Tokopedia sudah bukan di Indonesia lagi, melainkan di China,” kata sumber tersebut.

Menanggapi kabar PHK, Juru Bicara TikTok membenarkan adanya penyesuaian organisasi di Tokopedia. Menurut perusahaan, langkah tersebut merupakan bagian dari penyelarasan fungsi riset dan pengembangan (R&D) agar lebih efektif dalam mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.

BACA JUGA:  Mengenal Komite Perumusan Standar ILO tentang Pekerjaan Layak dalam Ekonomi Platform (CNP)

“Penyesuaian ini dilakukan dengan menyelaraskan fungsi R&D pada area yang dinilai mampu mendukung pertumbuhan berkelanjutan bagi bisnis perusahaan, komunitas kreator, serta para penjual di platform kami,” ujar juru bicara TikTok.

Di tengah restrukturisasi tersebut, persaingan e-commerce di Asia Tenggara juga menunjukkan dinamika baru. Berdasarkan data Gross Merchandise Value (GMV) 2025, Tokopedia mencatat nilai transaksi sekitar US$9 miliar, terendah di antara platform e-commerce utama di kawasan.

Sementara itu, Shopee masih memimpin dengan GMV mencapai US$83,2 miliar, disusul TikTok Shop sebesar US$45,6 miliar, dan Lazada sekitar US$18 miliar.

Meski GMV Tokopedia relatif kecil, TikTok Shop justru menjadi platform dengan pertumbuhan tercepat. Nilai transaksi platform tersebut tercatat melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2024. Jika digabungkan dengan Tokopedia yang kini berada di bawah kendalinya, total GMV bisnis e-commerce TikTok di Asia Tenggara telah mencapai sekitar 65,7 persen dari GMV Shopee, memperkuat posisinya sebagai salah satu pesaing utama di pasar regional. (Sumber: CNBC)

BACA JUGA:  Delegasi Buruh Indonesia Hadiri Sidang Tahunan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) di Jenewa untuk Memperjuangkan Hak, Kepentingan dan Kesejahteraan Pekerja/Buruh Dunia