Internasional

Kebangkrutan Perusahaan di Jerman Capai Level Tertinggi dalam Dua Dekade

72
×

Kebangkrutan Perusahaan di Jerman Capai Level Tertinggi dalam Dua Dekade

Sebarkan artikel ini

German Corporate Bankruptcies Hit Highest Level in Two Decades

Bendera Jerman

JERMAN, Jumlah kebangkrutan perusahaan di Jerman mencapai level tertinggi dalam dua dekade pada kuartal II 2026, mencerminkan tekanan yang masih membayangi perekonomian negara tersebut setelah mengalami stagnasi selama tiga tahun berturut-turut.

Berdasarkan studi Halle Institute for Economic Research (IWH) yang dilansir The Washington Post, tercatat sebanyak 4.996 kasus kebangkrutan perusahaan kemitraan dan perusahaan terbuka sepanjang kuartal II 2026. Jumlah tersebut meningkat 9% dibandingkan kuartal I 2026.

Capaian itu menjadi angka tertinggi untuk periode kuartal II sejak 2005, ketika Jerman mencatat 5.295 kasus kebangkrutan perusahaan. Tren tersebut menunjukkan bahwa dunia usaha masih menghadapi tekanan besar akibat lemahnya aktivitas ekonomi dan tingginya biaya operasional.

BACA JUGA:  Delegasi Buruh Indonesia Hadiri Sidang Tahunan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) di Jenewa untuk Memperjuangkan Hak, Kepentingan dan Kesejahteraan Pekerja/Buruh Dunia

Pada Juni 2026 saja, jumlah kebangkrutan perusahaan melonjak 20% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 1.702 kasus. Angka tersebut juga sekitar 80% lebih tinggi dibandingkan rata-rata kebangkrutan pada bulan Juni selama periode sebelum pandemi, yakni 2016 hingga 2019.

Kepala Riset Kebangkrutan IWH, Steffen Mueller, menilai situasi tersebut menunjukkan kondisi ekonomi yang masih rapuh dan berpotensi memburuk dalam beberapa bulan mendatang.

“Kondisinya serius. Kebangkrutan memengaruhi perekonomian di berbagai lini. Banyak sektor dan wilayah terdampak. Pada kuartal III 2026, kami memperkirakan jumlah kebangkrutan akan kembali lebih tinggi dibandingkan tahun lalu,” ujar Mueller.

Meningkatnya jumlah perusahaan yang gulung tikar diperkirakan akan berdampak pada lapangan kerja, investasi, hingga rantai pasok di berbagai sektor industri. Kondisi ini juga menjadi sinyal bahwa pemulihan ekonomi Jerman masih menghadapi tantangan besar meskipun inflasi mulai mereda.

BACA JUGA:  Selat Hormuz Tetap Zona Perang, Risiko Kapal Tinggi Meski Gencatan Senjata Iran–AS Berlaku

Sebelumnya, Kantor Statistik Federal Jerman (Destatis) melaporkan bahwa sektor transportasi dan pergudangan menjadi penyumbang terbesar pengajuan kebangkrutan perusahaan, disusul sektor konstruksi dan perhotelan. Ketiga sektor tersebut dinilai paling rentan terhadap perlambatan ekonomi, tingginya biaya pembiayaan, serta melemahnya permintaan domestik maupun global.

Dengan proyeksi kebangkrutan yang masih meningkat pada kuartal III 2026, dunia usaha di Jerman diperkirakan akan tetap menghadapi tekanan signifikan, sementara pemerintah dan pelaku ekonomi terus mencari langkah untuk mendorong pemulihan pertumbuhan ekonomi negara tersebut. (Sumber : beritasatu.com)