Daerah

Penutupan Permanen PGS Solo Berdampak Luas, Sekitar 90 Pekerja Kena PHK dan Ekonomi Lokal Terpukul

71
×

Penutupan Permanen PGS Solo Berdampak Luas, Sekitar 90 Pekerja Kena PHK dan Ekonomi Lokal Terpukul

Sebarkan artikel ini

Permanent Closure of Solo Wholesale Center Leaves Around 90 Workers Jobless, Deals Heavy Blow to Local Economy

Penutupan permanen Pusat Grosir Solo (PGS) sejak 31 Juli 2026, berdampak ke puluhan pekerja yang terpaksa gigit jari akibat PHK-TribunStyle.com

SOLO – Penutupan permanen Pusat Grosir Solo (PGS) sejak 31 Juli 2026 memicu gelombang dampak ekonomi yang semakin meluas. Pusat perbelanjaan grosir yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu ikon perdagangan di Kota Solo itu kini benar-benar berhenti beroperasi, meninggalkan kerugian besar bagi para pedagang, pekerja, hingga pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidup pada aktivitas di kawasan tersebut.

Hingga Rabu (5/8/2026), suasana di dalam gedung PGS tampak lengang. Deretan kios telah dikosongkan dan seluruh aktivitas perdagangan berhenti total. Kondisi tersebut berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap puluhan pekerja yang selama ini mengelola operasional pusat grosir tersebut.

Mantan Manajemen PGS, Bachtiar Ibnu Fadzil, mengungkapkan bahwa sekitar 90 pekerja di bawah naungan PT Putera Griya Sentosa terdampak langsung akibat penutupan permanen PGS. Jumlah tersebut meliputi pegawai manajemen serta tenaga alih daya (outsourcing), seperti petugas keamanan dan kebersihan.

“Kalau dari manajemen sekitar ada 45 orang. Di under manajemen masih ada outsourcing seperti security dan cleaning service, total semua ada sekitar mungkin 90-an. Iya pastinya sudah (di-PHK),” ujar Fadzil kepada awak media, Rabu (5/8/2026).

Menurut Fadzil, dampak kepailitan dan penutupan PGS tidak hanya dirasakan oleh para karyawan maupun ratusan penyewa kios. Efek domino juga menjalar ke berbagai sektor usaha yang selama ini bergantung pada ramainya aktivitas perdagangan di kawasan tersebut.

BACA JUGA:  Komisi IX DPR Terima Aspirasi Buruh Soal RUU Ketenagakerjaan, 16 Poin Utama Jadi Bahasan Panja

Berhentinya operasional PGS menyebabkan pelaku usaha mikro, pedagang kaki lima (PKL), jasa angkut barang, penarik becak, hingga juru parkir di kawasan Galabo kehilangan sumber pendapatan yang selama ini berasal dari aktivitas pengunjung dan pedagang PGS.

“Kalau kita berbicara efek dari kepailitan ini kan berarti kita berbicara tenant yang menyewa di PGS, karyawan tenant. Dan efek domino di lingkungan. Kalau kita berhenti beroperasi termasuk PKL-PKL di luar area kami, tukang becak sampai parkir di Galabo itu juga pasti terimbas,” lanjutnya.

Penutupan PGS menjadi pukulan berat bagi perekonomian lokal Kota Solo. Selama bertahun-tahun, pusat grosir tersebut menjadi salah satu penggerak utama aktivitas perdagangan yang menopang ribuan mata pencaharian, baik secara langsung maupun tidak langsung.

BACA JUGA:  Serikat Buruh Desak Pajak Pencairan JHT Dihapus: Jangan Ambil Untung dari Uang Pekerja

Dengan berhentinya operasional salah satu pusat perdagangan grosir terbesar di Solo tersebut, tantangan baru kini muncul bagi pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan untuk mencari solusi bagi para pekerja terdampak PHK serta memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada keberadaan PGS. (Sumber : TribunNews.com)