SOLO, JAWA TENGAH – Antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk pembelian Pertalite masih terlihat ramai. Pantauan di SPBU Banyuagung, Solo, pada Sabtu (18/7/2026), menunjukkan antrean kendaraan masih terjadi, terutama pada jam-jam sibuk menjelang aktivitas kerja.
Kondisi tersebut membuat sebagian pengguna kendaraan memilih beralih ke bahan bakar nonsubsidi agar tidak kehilangan waktu di antrean.
Salah satunya adalah Adi (32), warga Kabupaten Karanganyar yang setiap hari bekerja di wilayah Kota Solo. Ia mengaku kini lebih sering menggunakan Pertamax dibandingkan Pertalite demi memastikan dirinya dapat tiba di tempat kerja tepat waktu.
“Sebenarnya ingin tetap Pertalite karena lebih murah. Tapi kalau beli pagi sebelum kerja, antreannya sering panjang. Saya takut malah terlambat masuk kantor,” ujar Adi saat ditemui di SPBU Banyuagung, Solo, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Adi, perjalanan harian dari Karanganyar menuju Solo membuat ketepatan waktu menjadi prioritas. Karena itu, ia rela mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli Pertamax agar tidak perlu menghabiskan waktu mengantre.
“Kalau pakai Pertamax memang terasa lebih mahal, tapi waktunya lebih aman. Saya tidak perlu datang lebih pagi hanya untuk antre bensin,” katanya.
Meski demikian, keputusan beralih ke BBM nonsubsidi membuat pengeluaran bulanannya meningkat. Untuk menjaga kondisi keuangan tetap stabil, Adi mengaku harus mengurangi sejumlah pengeluaran yang dianggap tidak terlalu mendesak.
Salah satu kebiasaan yang kini ia kurangi adalah membeli kopi sebelum berangkat bekerja.
“Dulu hampir setiap hari beli kopi. Sekarang paling seminggu sekali atau kalau sedang ingin saja. Uang buat kopi itu saya alihkan untuk tambahan biaya bensin,” ungkapnya.
Adi memperkirakan biaya bahan bakar yang dikeluarkannya setiap bulan kini lebih tinggi dibandingkan saat masih rutin menggunakan Pertalite. Namun, menurutnya, tambahan biaya tersebut sebanding dengan kepastian waktu dan kenyamanan saat berangkat bekerja.
Baginya, risiko terlambat masuk kantor akibat harus mengantre panjang untuk mendapatkan Pertalite jauh lebih merugikan dibandingkan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli Pertamax.
Fenomena antrean Pertalite yang masih terjadi di sejumlah SPBU menunjukkan bahwa bahan bakar bersubsidi tetap menjadi pilihan utama masyarakat karena harganya yang lebih terjangkau. Namun, bagi sebagian pekerja dengan mobilitas tinggi, efisiensi waktu menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting dalam menentukan pilihan bahan bakar. (Sumber : TribunNews,com)











