BABEL – Menjadi calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pada upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi pengalaman berharga bagi Muhammad Furqoen Nul Hakim, siswa SMA Negeri 1 Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung.
Di tengah padatnya latihan yang menuntut kedisiplinan, ketepatan waktu, dan kesiapan fisik, Furqoen membawa tekad untuk menjadi generasi muda yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Lebih dari itu, ia ingin suatu hari dapat membahagiakan kedua orang tuanya.
“Cita-cita saya menjadi Paskibraka yaitu saya ingin menjadi anak muda yang berjiwa Pancasila, yang bernilai Pancasila dan ingin menjadikan generasi muda lebih bijak dalam mengambil keputusan,” ujar Furqoen saat ditemui InfoPublik dalam kegiatan latihan Paskibraka HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kantor Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Furqoen, salah satu pelajaran penting yang ia dapatkan selama mengikuti pelatihan adalah disiplin waktu. Setiap kegiatan harus dijalankan sesuai jadwal, mulai dari waktu makan, ibadah, hingga rangkaian latihan.
Rutinitas tersebut menjadi pengalaman baru bagi pelajar asal Belitung Timur itu. Ia harus mampu mengatur waktu sekaligus menjalankan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab sebagai bagian dari persiapan menjadi Paskibraka tingkat nasional.
Anak Buruh Penambang Timah
Di balik perjuangannya menjadi calon Paskibraka nasional, Furqoen berasal dari keluarga sederhana di Belitung Timur. Ia merupakan putra Abdul Rahman, seorang buruh harian yang sehari-hari bekerja mencari timah.
“Ayah saya seorang pekerja buruh harian. Sehari-hari mengambil timah, kurang lebih menambang timah di tempat seperti hutan,” kata Furqoen.
Ia menjelaskan, ayahnya menjalankan pekerjaan tersebut secara mandiri dengan menggunakan mesin untuk mencari timah. Namun, pekerjaan itu kini semakin sulit karena ketersediaan timah yang semakin terbatas.
“Sekarang mencari timah juga susah karena timah sudah langka,” tuturnya.
Sementara itu, sang ibu sehari-hari berperan sebagai ibu rumah tangga. Kondisi keluarga tersebut tidak membuat Furqoen menyerah. Sebaliknya, keadaan itu menjadi motivasi baginya untuk terus belajar, berlatih, dan mengejar cita-cita.
Furqoen berharap perjuangan yang dijalaninya saat ini dapat menjadi bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik dan membalas kerja keras kedua orang tuanya.
“Semoga di beberapa tahun ke depan saya bisa membahagiakan kedua orang tua saya,” ujarnya.
Ingin Membawa Nilai Pancasila
Bagi Furqoen, menjadi Paskibraka bukan sekadar kesempatan untuk bertugas dalam upacara kenegaraan. Ia memandang pengalaman tersebut sebagai proses untuk membentuk karakter sekaligus memperkuat rasa kebangsaan.
Ia ingin pengalaman selama mengikuti pelatihan membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih disiplin, bertanggung jawab, dan mampu mengambil keputusan secara bijak.
Semangat tersebut sejalan dengan pembinaan Paskibraka yang tidak hanya menekankan kemampuan baris-berbaris dan kesiapan fisik, tetapi juga pembentukan karakter, penghayatan terhadap Pancasila, serta penguatan wawasan kebangsaan.
Bagi siswa asal Belitung Timur tersebut, perjalanan menjadi calon Paskibraka nasional menjadi pembuktian bahwa keterbatasan latar belakang keluarga bukanlah penghalang untuk memiliki cita-cita besar.
Dari keluarga sederhana, Furqoen membawa harapan untuk mengukir prestasi di tingkat nasional sekaligus mewujudkan impian sederhana: membuat kedua orang tuanya bangga dan bahagia. (Sumber : infopublik.id)











