MOROWALI — Proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di Morowali, Sulawesi Tengah, resmi memasuki babak baru. Hal ini ditandai dengan tibanya autoclave—peralatan utama dalam proses pengolahan nikel—di lokasi proyek yang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) pengembangan industri nikel terintegrasi tersebut.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan bahwa kehadiran proyek HPAL Sambalagi menjadi bukti konkret bahwa hilirisasi di Indonesia telah memasuki tahap yang jauh lebih maju. Langkah ini tidak hanya mendongkrak nilai tambah mineral, tetapi juga memperkuat ekosistem industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang terintegrasi, berdaya saing, dan berkelanjutan.
“Sambalagi HPAL menetapkan standar baru, bukan sekadar mengikuti standar yang sudah ada. Proyek ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok dapat berjalan selaras dengan kepentingan nasional, yaitu membangun kedaulatan sumber daya, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Rosan dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/7/2026).
Autoclave Terbesar di Dunia & Kolaborasi Tiga Negara
Peralatan utama berupa autoclave yang tiba di lokasi memiliki kapasitas raksasa sebesar 1.268 m³. Berdasarkan data dari GEM Co., Ltd. selaku pelaksana konstruksi, unit generasi terbaru ini merupakan autoclave dengan kapasitas terbesar yang pernah diterapkan pada fasilitas HPAL di dunia.
Proyek strategis ini dikembangkan oleh PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI), yang merupakan bentuk kolaborasi lintas negara antara:
-
PT Vale Indonesia Tbk (Indonesia)
-
GEM Co., Ltd. (Tiongkok)
-
EcoPro (Korea Selatan)
Detail Operasional & Dampak Ekonomi
Berlokasi di Indonesia Green Industrial Park (IGIP) Morowali, fasilitas ini dirancang untuk mengolah bijih nikel kadar rendah (limonit) menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yang merupakan bahan baku utama komponen baterai EV.
| Parameter | Detail Proyek |
| Lokasi | Indonesia Green Industrial Park (IGIP), Morowali, Sulawesi Tengah |
| Produk Utama | Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) |
| Kapasitas Produksi | ~90.000 ton kandungan nikel per tahun |
| Serapan Tenaga Kerja (Konstruksi) | ~6.000 tenaga kerja |
| Serapan Tenaga Kerja (Operasional) | ~3.600 tenaga kerja (penambangan & pengolahan) |
Rosan menegaskan bahwa keberadaan fasilitas HPAL Sambalagi merupakan pilar penting dalam strategi pemerintah melengkapi rantai nilai industri nikel nasional secara menyeluruh—mulai dari MHP, nickel sulfate, precursor, cathode active material, hingga menjadi unit baterai kendaraan listrik utuh.
“Klaster industri hijau sudah kita rancang dari hulu ke hilir, dan HPAL adalah gerbang pertamanya,” tegas Rosan.
Berkelanjutan dan Berbasis Riset Lokal
Tak hanya berfokus pada hasil tambang, proyek HPAL Sambalagi dirancang ramah lingkungan menuju Net Zero Emissions sejak tahap perencanaan. Operasional fasilitas ini bakal memanfaatkan sistem waste heat recovery serta energi surya demi mendukung transisi industri rendah karbon.
Di samping itu, investasi ini juga membawa dampak sosial dan transfer teknologi yang signifikan:
-
Pengembangan Masyarakat: Pembangunan infrastruktur lokal, fasilitas sosial, dan pelatihan tenaga kerja daerah.
-
Inovasi & Teknologi: Pembangunan HPAL Research Center di mana seluruh inovasi yang dihasilkan akan dipatenkan di Indonesia.
-
Pendidikan: Penyediaan program beasiswa bidang metalurgi bagi talenta muda Indonesia serta kerja sama laboratorium riset dengan perguruan tinggi dalam negeri.
“Kita sedang membangun ekosistem hilirisasi yang lengkap dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Sulawesi Tengah dan Indonesia. Inilah makna sesungguhnya dari hilirisasi, yaitu menciptakan nilai, menciptakan kesempatan, dan menciptakan harapan,” pungkas Rosan. (Sumber : Detik.com)











