KUPANG — Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga kini masih menghadapi krisis perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Selama bertahun-tahun, provinsi ini konsisten menjadi salah satu penyumbang terbesar pekerja migran nonprosedural—situasi yang terus memicu jerat eksploitasi, kekerasan fisik, hingga jatuhnya korban jiwa di luar negeri.
Upaya pencegahan bukannya tidak dilakukan. Berbagai langkah mulai dari rapat koordinasi antarinstansi, pembentukan regulasi daerah, hingga operasi penegakan hukum terhadap sindikat penyalur ilegal terus berjalan. Namun, berbagai tindakan tersebut belum mampu menekan angka korban secara signifikan.
Tingginya angka kemandatangan jenazah PMI ke tanah air menjadi bukti nyata belum selesainya persoalan ini. Sepanjang tahun 2024 hingga awal Agustus lalu, tercatat setidaknya 68 peti jenazah pekerja migran telah dipulangkan ke NTT.
Penjabat Gubernur NTT saat itu, Ayodhia G. Kalake, mengonfirmasi bahwa hampir seluruh korban yang dipulangkan dalam peti jenazah tersebut berstatus sebagai pekerja migran nonprosedural.
Tekanan Ekonomi dan Minimnya Kesempatan Kerja
Di balik terus mengalirnya arus migrasi ilegal ini, faktor sosial-ekonomi masyarakat memegang peranan paling mendasar. Di banyak daerah di NTT, lapangan kerja formal sangat terbatas, sementara angka kemiskinan masih menjadi beban kronis yang sulit diurai.
Kondisi terdesak ini dimanfaatkan oleh agen-agen ilegal untuk menawarkan pekerjaan di luar negeri, seperti Malaysia. Bagi warga lokal, iming-iming gaji besar di negeri orang tampak jauh lebih menjanjikan ketimbang bertahan di kampung halaman tanpa kepastian penghasilan.
Bahkan, tidak sedikit dari para calon pekerja tersebut yang sebenarnya sudah pernah bekerja secara ilegal sebelumnya. Mereka memilih kembali menempuh jalur berisiko yang sama karena tergiur perbandingan pendapatan yang dianggap jauh lebih tinggi dibandingkan opsi pekerjaan lokal yang ada.
Selama akar persoalan sosial-ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja di daerah belum terselesaikan, pemutusan rantai keberangkatan pekerja migran nonprosedural di NTT diperkirakan akan terus menghadapi jalan terjal.
(Sumber : kompas)











