SAMARINDA – Kemarau ekstrem yang berlangsung sekitar tiga bulan membuat debit Sungai Mahakam di Kalimantan Timur terus menyusut. Kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas transportasi sungai, termasuk pelayaran kapal logistik menuju wilayah hulu hingga pekerjaan buruh bongkar muat di Dermaga Sungai Kunjang, Samarinda.
Menyusutnya debit air membuat sejumlah titik alur Sungai Mahakam semakin dangkal. Kapal yang melintas harus lebih berhati-hati mencari jalur yang masih memungkinkan untuk dilewati.
Nakhoda kapal logistik Akbar Amanda 4, Muhammad (56), mengatakan kondisi sungai sudah mengalami penyusutan selama sekitar tiga bulan.
“Sudah tiga bulan kondisi begini,” kata Muhammad saat ditemui di Dermaga Sungai Kunjang, Rabu (2/9/2026).
Menurut dia, kedalaman air di sejumlah titik bahkan hanya sekitar satu meter. Kondisi tersebut membuat navigasi kapal tidak sepenuhnya dapat mengandalkan peralatan.
Nakhoda harus mengandalkan pengalaman untuk membaca alur sungai dan menentukan jalur yang aman.
“Kalau ini betul-betul manual. Kita bekerja berdasarkan alur dan pengalaman,” ujarnya.
Selain semakin dangkal, alur pelayaran juga menyempit. Akibatnya, dua kapal yang berpapasan di titik tertentu tidak selalu dapat melintas bersamaan.
Nakhoda harus bergantian melewati bagian sungai yang dangkal, terutama ketika berhadapan dengan kapal berukuran besar atau membawa muatan berat.
“Nggak bisa lewat lah gitu, ya maksa. Jadi ya kadang-kadang itu berusaha juga,” kata Muhammad.
” Ada gantian-gantian memang maksa gitu,” lanjutnya.
Risiko paling besar terjadi ketika kapal besar seperti tongkang batu bara melintasi bagian sungai yang kedalamannya tidak mencukupi. Kapal bisa kandas dan terpaksa menunggu air pasang jika tidak memungkinkan ditarik.
“Kalau potong-potong ini berarti dia nyangkut, sudah diam di sini aja deh. Nggak ditarik, nggak ada apa-apa,” ujarnya.
“Ada yang bisa ditarik, ada yang nggak. Jadi nunggu aja deh. Nunggu air pasang,” sambung Muhammad.
Frekuensi Kapal ke Mahulu Berkurang
Surutnya Sungai Mahakam juga berdampak terhadap distribusi logistik ke wilayah pedalaman, termasuk Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu).
Muhammad mengatakan perjalanan kapal dari Samarinda menuju Mahulu yang sebelumnya lebih rutin kini hanya sekitar dua kali dalam sebulan.
“Sebulan dua kali ya. Paling dibutuhkan berarti di Mahulu,” katanya.
Jika kondisi air terus menyusut, frekuensi pelayaran dikhawatirkan kembali turun menjadi hanya sekali dalam sebulan.
“Kalau kondisi begini terus, bisa satu bulan sekali,” ujar Muhammad.
Padahal, kapal logistik menjadi salah satu jalur penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah pedalaman. Barang yang dibawa antara lain beras, telur, dan mi.
“Kebutuhan beras, telur, mie, harga beras di sana sudah Rp1.300.000 per karung 25 kg, mau tidak mau harus kita bawa,” katanya.
Selain membawa barang, kapal juga mengangkut penumpang. Namun, kondisi sungai membuat kapasitas dan cara pengangkutan harus disesuaikan.
Kapal biasanya berangkat dari Samarinda sekitar pukul 07.00 WITA. Ketika menghadapi bagian sungai yang terlalu dangkal, barang dan penumpang dapat dipindahkan ke kapal yang lebih kecil.
“Kalau kapal nggak nyata, harus pakai kapal kecil. Kapal kecilnya harus pakai mobil,” ujar Muhammad.
Kondisi tersebut membuat biaya angkutan meningkat. Muhammad menyebut pembengkakan biaya dapat mencapai sekitar Rp7.300 per unit beban.
Buruh Dermaga Kehilangan Penghasilan
Gangguan pelayaran tidak hanya dirasakan nakhoda dan pemilik kapal. Para buruh bongkar muat di Dermaga Sungai Kunjang juga ikut terkena dampaknya.
Ahmad Gozali (51), buruh angkut yang telah bekerja di dermaga sejak 1997, mengatakan jumlah kapal yang dapat mereka tangani mengalami penurunan signifikan.
“Kalau dulu itu masih ada kapal bisa jalan kita. Memang pendapatan berkurang. Seminggu itu mungkin ada empat-lima kapal,” kata Ahmad.
“Sekarang ini seminggu paling ada dua kapal yang bisa kita kelola,” lanjutnya.
Menurut Ahmad, berkurangnya jumlah kapal secara langsung mengurangi kesempatan buruh mendapatkan penghasilan. Sebab, mereka tidak menerima gaji tetap dan hanya memperoleh upah ketika ada kapal serta barang yang harus dibongkar atau dimuat.
“Pendapatan buruk. Bukan berkurang, hampir tidak ada. Kemarin dapatnya cuma Rp40.000,” katanya.
Dalam kondisi normal, Ahmad mengaku bisa memperoleh sekitar Rp20.000-Rp30.000 sehari. Pada hari tertentu, pendapatan dapat mencapai Rp40.000-Rp60.000.
Namun, ketika aktivitas kapal sepi, penghasilannya bahkan bisa hanya Rp10.000.
“Pendapatan ya uang-uang rokok, uang-uang kopi. Daripada di rumah saja kita. Pengeluaran saja,” ujarnya.
“Kalau bisa makan. Makan kami saja untuk di rumah apa?” lanjut Ahmad.
Kondisi tersebut telah berlangsung hampir dua bulan. Para buruh kini lebih banyak menunggu kedatangan kapal sembari mencari pekerjaan lain.
“Kalau ada, kita angkat. Mudah-mudahan ada,” katanya.
Kelompok buruh tempat Ahmad bekerja memiliki sekitar 31 anggota. Namun, hanya 21 orang yang saat ini tercatat aktif.
Sebagian anggota lainnya memilih mencari pekerjaan sampingan, seperti menjadi pekerja bangunan, ketika aktivitas dermaga sepi.
“Mungkin ada kerja lain di rumah, ikut bangunan atau apa. Tukang-tukang begitu,” ujarnya.
Pendapatan Turun, Kebutuhan Keluarga Tetap Berjalan
Ahmad mengatakan sekitar 70-75 persen anggota kelompok buruhnya telah berkeluarga. Ia sendiri memiliki istri dan tiga anak yang harus dinafkahi.
Turunnya pendapatan semakin terasa karena salah seorang anaknya baru masuk kuliah di Politeknik Negeri Samarinda. Tabungan yang selama ini dikumpulkan harus digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan awal kuliah.
“Yang bikin surut modal saya ini karena anak-anak baru masuk kuliah. Bayar semua biaya-biayanya. Sudah terbentur, bayar ke sana semua, habislah,” ujarnya.
Di tengah penghasilan yang tidak menentu, kebutuhan rumah tangga dan kewajiban membayar utang tetap berjalan.
Karena itu, ketika tidak ada kapal yang harus ditangani, Ahmad memilih tetap berada di sekitar dermaga sambil mencari pekerjaan lain.
“Ya, pintar-pintar cari. Sambil-sambil. Pintar-pintar menghemat,” katanya.
Kabut Asap Ikut Ganggu Pelayaran
Persoalan transportasi Sungai Mahakam tidak hanya disebabkan air yang surut. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi gangguan bagi pelayaran.
Muhammad mengatakan asap terkadang muncul di sepanjang jalur sungai sehingga mengurangi jarak pandang nakhoda.
“Kalau kita melintas itu memang banyak asap di sungai itu, karena efek kebakaran lahan,” katanya.
Menurut Muhammad, kondisi tersebut membuat pelayaran semakin berisiko karena jarak pandang terbatas. Ia menduga sebagian pembakaran lahan berkaitan dengan pembukaan perkebunan kelapa sawit.
“Mau nanam sawit. Karena masih dibakar dulu kan,” ujarnya.
Dengan demikian, pelayaran di Sungai Mahakam saat ini menghadapi sejumlah persoalan sekaligus, mulai dari debit air yang menyusut, alur yang dangkal dan sempit, risiko kapal kandas, hingga gangguan kabut asap.
Berharap Hujan Turun di Hulu
Para pelaku transportasi sungai dan buruh dermaga berharap debit Sungai Mahakam segera kembali normal.
Namun, hujan yang paling diharapkan bukan sekadar hujan di Samarinda, melainkan hujan di kawasan hulu Mahakam.
Ahmad mengatakan hujan di wilayah hulu akan menghasilkan limpasan air yang kemudian mengalir menuju Sungai Mahakam dan membantu menaikkan debit sungai.
“Kalau di sini hujan, enggak apa-apa. Yang penting hulu hujan,” katanya.
“Kalau di Melak atau di mana pun hujan, enggak ada pengaruhnya. Airnya kalau masih di Kubar saja, tidak ada pengaruh,” lanjutnya.
Menurut Ahmad, limpasan air dari hulu yang mengalir ke hilir akan membantu mengembalikan ketinggian air.
“Yang pengaruh limpahannya. Kalau limpahannya hujan deras, aman sudah, air naik. Kan larinya ke sini,” ujarnya.
Meski demikian, ia juga mengingatkan hujan yang terlalu deras dalam waktu lama dapat menimbulkan persoalan baru berupa banjir.
“Cuma kalau hujan deras sampai lima hari misalnya, enggak bisa lagi,” katanya.
“Kalau kebanyakan banjir, tenggelam rumah orang, tidak ada penampungan barang lagi,” lanjutnya.
Karena itu, yang diharapkan para pelaku transportasi sungai adalah kondisi air kembali normal agar kapal dapat berlayar dan kegiatan bongkar muat kembali berjalan.
Muhammad juga berharap hujan turun di kawasan hulu Mahakam.
“Harapannya malam hujan aja. Kalau hujan itu harus di atas, jangan di Samarinda,” ujarnya.
Bagi pelaku transportasi sungai, naiknya debit Sungai Mahakam berarti terbukanya kembali jalur distribusi kebutuhan pokok ke wilayah pedalaman. Sementara bagi buruh dermaga seperti Ahmad, kembali ramainya kapal berarti kembali terbukanya kesempatan untuk bekerja dan membawa penghasilan pulang ke keluarga.
(Sumber : kompas.com)











