DaerahEkonomi

Pabrik Biskuit Olympia: Menjaga Denyut Sejarah Industri Bandung Sejak 1928

111
×

Pabrik Biskuit Olympia: Menjaga Denyut Sejarah Industri Bandung Sejak 1928

Sebarkan artikel ini

Olympia Biscuit Factory: Keeping Bandung's Industrial History Alive Since 1928

ILUSTRASI - Kegiatan karyawan pabrik olimpia

BANDUNG — Di tengah pesatnya pertumbuhan industri modern, sebuah pabrik tua di sudut Jalan Cibadak, Kota Bandung, terus membuktikan ketahanannya. Pabrik Biskuit Olympia, yang didirikan pada tahun 1928, menjadi salah satu dari sedikit warisan industri masa kolonial yang masih aktif beroperasi hingga hari ini.

Hampir satu abad berdiri, Olympia telah melintasi berbagai babak penting dalam sejarah Indonesia—mulai dari era Hindia Belanda, peristiwa Bandung Lautan Api, dinamika politik nasional, hingga gempuran persaingan industri modern.

Lahir dari Kawasan Pecinan

Olympia lahir di tengah menggeliatnya aktivitas perdagangan kawasan Pecinan Bandung pada akhir dekade 1920-an. Generasi penerus Olympia, Liem Swie Hong, menceritakan bahwa pendirian pabrik ini diawali dari kejelian keluarga pendiri melihat tingginya permintaan biskuit di kalangan masyarakat Belanda.

“Nama Olympia diambil dari kata Olimpiade, sebagai simbol harapan agar produk yang kami hasilkan memiliki kualitas terbaik dan dikenal luas,” ungkap Liem.

Seiring berjalannya waktu, Olympia tumbuh menjadi salah satu pabrik biskuit terbesar di Bandung dengan sistem produksi terintegrasi secara mandiri.

“Kami pernah menjadi pabrik yang terintegrasi penuh. Kami membuat kaleng sendiri, mengolah bahan baku, bahkan memproduksi mesin untuk kebutuhan produksi sendiri,” lanjut Liem. Pada masa kejayaannya, Olympia mampu mempekerjakan sekitar 560 karyawan dan menjadi salah satu penggerak utama roda perekonomian Kota Bandung.

Menghadapi Tantangan Zaman dan Modernisasi

Perjalanan Olympia tentu tidak selalu mulus. Pabrik ini berulang kali diuji oleh peristiwa sejarah besar, termasuk peristiwa terbakar dan mengungsinya warga dalam Bandung Lautan Api hingga pergolakan sosial-politik pada awal 1960-an.

BACA JUGA:  Pemerintah Targetkan Cetak 500 Ribu Pekerja Migran Terampil hingga 2029 untuk Penuhi Kebutuhan Tenaga Kerja Global

Kini, tantangan terbesar Olympia bergeser pada usia fasilitas dan mesin produksi. Agar tetap relevan, langkah pembaruan menjadi hal yang tidak terhindarkan. Liem menegaskan bahwa modernisasi adalah kunci utama agar Olympia mampu bertahan di tengah persaingan industri pangan tanpa kehilangan identitasnya sebagai pabrik biskuit tertua di Indonesia.

Lebih dari Sekadar Tempat Bekerja

Bagi para pekerjanya, Olympia memegang ikatan emosional yang mendalam. Nono, seorang karyawan yang telah setia bekerja sejak tahun 1980, menjadi saksi hidup perjalanan panjang pabrik ini selama lebih dari empat dekade.

“Saya mulai bekerja di Olympia sejak tahun 1980. Banyak perubahan yang saya saksikan, tetapi saya bersyukur Olympia masih tetap bertahan hingga sekarang,” tutur Nono.

Bagi Nono dan masyarakat sekitar, keberadaan Olympia adalah bukti nyata bahwa warisan sejarah industri Kota Bandung masih memiliki ruang untuk bertahan di tengah era yang terus berubah.

BACA JUGA:  Pemerintah Pacu Kawasan Industri Kendaraan Nasional di Subang, Siapkan Akses Tol untuk Dukung Pusat Manufaktur Kendaraan Listrik

Sejarah yang Tetap Hidup

Keberlangsungan Pabrik Biskuit Olympia menjadi pengingat berharga bahwa sejarah tidak selalu tersimpan kaku di dalam museum. Di sudut Jalan Cibadak, sejarah itu terus bergerak dinamis bersama deru mesin produksi yang tak berhenti berputar—menjaga jejak panjang industri Kota Bandung agar tidak lenyap ditelan waktu.

(Sumber : idntimes.com)