Nasional

Lebih dari 200 Lamaran Belum Berbuah Hasil, Penyandang Tuli Soroti Dunia Kerja yang Belum Inklusif

64
×

Lebih dari 200 Lamaran Belum Berbuah Hasil, Penyandang Tuli Soroti Dunia Kerja yang Belum Inklusif

Sebarkan artikel ini

More Than 200 Job Applications, Yet No Opportunity: Deaf Job Seeker Highlights Lack of Workplace Inclusion

Galuh (28) penyandang tuli yang mencari pekerjaan di Job Fair Jakarta Selatan - kompas.com

JAKARTA,Galuh (28), seorang penyandang tuli asal Semarang, datang dengan penuh harapan ke Job Fair Jakarta Selatan yang digelar di Gedung Nyai Ageng Serang, Setiabudi, Jakarta Selatan. Di tengah ramainya pencari kerja yang memadati area pameran, ia menyusuri satu per satu stan perusahaan sambil didampingi penerjemah bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan para perekrut.

Di tangan kirinya, Galuh membawa sebuah iPad dan sejumlah brosur yang baru diterimanya dari perusahaan peserta job fair. Ia berhenti di beberapa stan, menanyakan peluang kerja yang terbuka bagi penyandang disabilitas, sebelum kembali melanjutkan pencariannya ke stan berikutnya.

Galuh mengaku datang ke bursa kerja tersebut karena kontraknya sebagai desainer grafis telah berakhir. Ia berharap dapat menemukan perusahaan yang memberikan kesempatan kerja secara setara bagi penyandang disabilitas.

BACA JUGA:  Enam Tahun Menanti, 422 Eks Pekerja PT Master Wovenindo Label Segera Terima Pesangon

Namun, harapan itu kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa masih sedikit perusahaan yang membuka pintu bagi pencari kerja disabilitas.

“Di sini ada perusahaan yang menerima disabilitas, tapi hanya tiga perusahaan. Tapi ada perusahaan lain selain tiga itu yang belum menerima disabilitas. Saya jadi bertanya-tanya, apakah karena kedisabilitasan saya atau bagaimana. Itu kesulitan yang saya hadapi,” ujar Galuh kepada Kompas.com di lokasi, Rabu (8/7/2026).

Perjalanan Galuh mencari pekerjaan juga bukan hal yang singkat. Selama beberapa tahun terakhir, ia mengaku telah mengirimkan lebih dari 200 lamaran kerja ke berbagai perusahaan. Namun, hingga kini kesempatan yang diharapkan belum juga datang.

“Saya kira-kira sudah 200 lebih tempat lamaran kerja yang saya coba. Saya merasa capek karena saya terus berusaha, tapi perusahaan belum inklusif dalam menerima penyandang disabilitas untuk bekerja di sana,” tuturnya.

BACA JUGA:  Kuli Sindang, Pekerja Sunyi di Balik Wajah Modern Jakarta

Tak hanya menghadapi minimnya perusahaan yang membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas, Galuh juga mengaku pernah menemui lowongan pekerjaan yang secara terbuka mencantumkan penolakan terhadap pelamar disabilitas.

“Pernah ditolak karena disabilitas. Bahkan di website lowongan kerja ada tulisan yang langsung menolak disabilitas. Respons saya pasti kecewa, capek, dan saya sampai menangis waktu itu,” ungkapnya.

Kisah Galuh menjadi potret bahwa tantangan penyandang disabilitas di dunia kerja masih besar. Meski pemerintah dan berbagai pihak terus mendorong terciptanya pasar kerja yang inklusif, praktik diskriminasi serta terbatasnya perusahaan yang membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas masih menjadi hambatan nyata dalam memperoleh pekerjaan yang layak. (Sumber: Kompas.com)

BACA JUGA:  Polresta Barelang Bongkar Penipuan Jual Beli Titik SPPG MBG di Batam, Korban Rugi Rp400 Juta