Internasional

Puluhan Ribu Buruh Hyundai Motor Korea Selatan Mogok, Tuntut Usia Pensiun Naik dan Perlindungan dari AI

101
×

Puluhan Ribu Buruh Hyundai Motor Korea Selatan Mogok, Tuntut Usia Pensiun Naik dan Perlindungan dari AI

Sebarkan artikel ini

Tens of Thousands of Hyundai Motor Workers in South Korea Strike, Demand Higher Retirement Age and Protection from AI

Potret Puluhan Ribu Buruh Hyundai Mogok, Produksi Mobil Korea Terancam-CNBC Indonesia

SEOUL — Serikat pekerja Hyundai Motor di Korea Selatan melakukan pemogokan kerja total selama satu hari pada Jumat (21/8/2026). Aksi tersebut menjadi pemogokan penuh pertama serikat pekerja Hyundai Motor dalam 10 tahun setelah perundingan upah dengan manajemen menemui jalan buntu.

Aksi mogok melibatkan sekitar 40.000 anggota serikat pekerja Hyundai Motor. Selain pekerja Hyundai, aksi juga diikuti pekerja dari perusahaan afiliasi Kia Corp serta sejumlah pemasok suku cadang.

Para pekerja menggelar unjuk rasa di depan kantor pusat Hyundai Motor di Seoul. Mereka mengenakan ikat kepala merah, meneriakkan slogan, serta mengepalkan tangan sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan perusahaan yang dinilai mengancam keberlangsungan pekerjaan.

BACA JUGA:  Kisah Aji Bayu Ramadhan: Anak Buruh Bangunan Asal NTT yang Jadi Lulusan Terbaik IPDN 2026

Salah satu tuntutan utama serikat pekerja adalah kenaikan batas usia pensiun dari 60 tahun. Mereka juga meminta adanya perlindungan terhadap pekerja dari dampak perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi di industri otomotif.

Selain itu, pekerja dari perusahaan pemasok suku cadang menuntut agar mereka dapat melakukan perundingan upah secara langsung dengan produsen kendaraan.

Pemimpin Serikat Pekerja Hyundai, Lee Jong-cheol, mengatakan pekerja yang telah mengabdikan diri selama puluhan tahun kini menghadapi ancaman perubahan status pekerjaan.

“Pekerja-pekerja kunci yang menjadikan Hyundai dan Kia sebagai perusahaan terkuat di dunia selama 35 atau 40 tahun kini justru digeser ke posisi pekerja kontrak,” ujar Lee.

Aksi mogok total tersebut merupakan kelanjutan dari serangkaian pemogokan parsial yang dilakukan sejak akhir Juli 2026. Berdasarkan perkiraan Kantor Berita Yonhap, aksi-aksi sebelumnya telah mengganggu produksi sekitar 55.200 kendaraan dengan nilai lebih dari 2,3 triliun won atau sekitar US$1,67 miliar.

BACA JUGA:  Perluas Karier Kader, FSP LEM SPSI Mulai Genjot Pelatihan dan Sertifikasi

Dalam aksi di Seoul, sekitar 1.200 hingga 1.300 anggota serikat Hyundai dijadwalkan hadir. Setelah serikat pekerja lain ikut bergabung, jumlah peserta unjuk rasa diperkirakan mencapai sekitar 3.000 orang.

Gelombang aksi tersebut menunjukkan meningkatnya ketegangan antara pekerja dan perusahaan otomotif Korea Selatan. Perselisihan juga mencerminkan kekhawatiran buruh terhadap perubahan struktur pekerjaan akibat otomatisasi dan penerapan teknologi AI.

Isu perlindungan pekerja dari dampak otomatisasi menjadi semakin penting di tengah transformasi industri otomotif global. Serikat pekerja menilai peningkatan produktivitas melalui teknologi harus tetap disertai dengan jaminan keberlangsungan pekerjaan dan perlindungan hak-hak pekerja.

Pemogokan Hyundai juga berlangsung di tengah perubahan politik Korea Selatan setelah Lee Jae-myung, yang dikenal memiliki agenda pro-buruh, terpilih sebagai presiden tahun lalu.

BACA JUGA:  British American Tobacco (BAT) Pangkas 5.500 Pekerja Global, Percepat Transformasi Digital dan AI

(Sumber : CBNC indonesia)