Internasional

Dua Saudara Kembar Hapus 96 Database Pemerintah AS Usai Dipecat

96
×

Dua Saudara Kembar Hapus 96 Database Pemerintah AS Usai Dipecat

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI-Hacker

WASHINGTON — Pemerintah federal Amerika Serikat (AS) digemparkan oleh aksi dua saudara kembar, Muneeb Akhter dan Sohaib Akhter, yang diduga menghapus sekitar 96 database berisi informasi pemerintah federal hanya beberapa menit setelah keduanya dipecat dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Keduanya merupakan karyawan perusahaan kontraktor pemerintah berbasis di Washington DC, Opexus, yang menyediakan layanan bagi lebih dari 45 lembaga pemerintah AS. Kasus tersebut kini bergulir di pengadilan federal setelah aparat mengungkap rangkaian tindakan siber yang dilakukan kedua bersaudara tersebut.

Kasus ini menjadi sorotan karena Muneeb dan Sohaib ternyata memiliki riwayat kejahatan siber. Keduanya pernah berhadapan dengan hukum pada 2015 terkait peretasan situs web, pencurian data kartu kredit, serta upaya menjual informasi pribadi di darknet.

Sohaib juga disebut pernah mencuri data rekan kerja ketika bekerja di Departemen Luar Negeri AS dan memasang perangkat keras untuk memantau sistem pemerintah secara diam-diam.

Meski memiliki catatan kriminal, keduanya kembali bekerja di industri teknologi setelah menjalani hukuman penjara. Muneeb bergabung dengan Opexus pada 2023, sedangkan Sohaib menyusul pada 2024.

Kumpulkan Ribuan Username dan Password

Menurut dokumen pengadilan, dugaan pelanggaran kembali dilakukan ketika keduanya masih bekerja di Opexus.

Pada 1 Februari 2025, Muneeb meminta Sohaib mengambil password dalam bentuk teks biasa milik seseorang yang mengajukan keluhan melalui portal publik Equal Employment Opportunity Commission (EEOC).

Sohaib kemudian melakukan query terhadap database EEOC dan memberikan password tersebut kepada Muneeb. Password itu selanjutnya digunakan untuk mengakses email korban tanpa izin.

BACA JUGA:  Samsung Kurangi 739 Pekerja di New Jersey Jelang Pemindahan Kantor Pusat ke Texas

Penyelidikan juga menemukan bahwa Muneeb telah mengumpulkan sekitar 5.400 username dan password dari jaringan internal perusahaan. Ia kemudian membuat sejumlah skrip Python untuk menguji kombinasi kredensial tersebut pada berbagai layanan populer.

Salah satu skrip yang ditemukan bernama “marriott_checker.py”, yang digunakan untuk menguji akses ke jaringan hotel Marriott. Muneeb disebut berhasil masuk ke ratusan akun, termasuk akun DocuSign dan sejumlah akun maskapai penerbangan.

Dalam beberapa kasus, akses tersebut bahkan digunakan untuk memanfaatkan poin penerbangan milik korban.

Dipecat, Lalu Menghapus Database Pemerintah

Perusahaan kemudian mengetahui riwayat kriminal keduanya pada Februari 2025. Pada 18 Februari, Muneeb dan Sohaib yang tinggal bersama di Virginia dipanggil mengikuti rapat melalui Microsoft Teams.

Keduanya kemudian langsung dipecat. Rapat berakhir sekitar pukul 16.50 waktu setempat.

Lima menit kemudian, Sohaib mencoba mengakses jaringan perusahaan, tetapi akses VPN dan akun Windows miliknya telah diblokir. Namun, akun Muneeb ternyata masih aktif.

Kelalaian tersebut kemudian dimanfaatkan Muneeb.

Sekitar pukul 16.56, Muneeb mengakses salah satu database pemerintah yang dikelola perusahaan. Ia terlebih dahulu menjalankan perintah untuk memblokir pengguna lain agar tidak dapat terhubung atau melakukan perubahan pada database.

Dua menit kemudian, pada pukul 16.58, ia menghapus database milik Departemen Keamanan Dalam Negeri AS dengan menjalankan perintah “DROP DATABASE dhsproddb.”

Tak berhenti di situ, sekitar pukul 16.59, Muneeb mulai mencari cara untuk menghapus jejak aktivitasnya dengan bantuan chatbot AI. Ia mencari cara menghapus system logs dari SQL Server setelah database dihapus serta cara menghilangkan event dan application logs dari Microsoft Windows Server 2012.

BACA JUGA:  318 Pekerja di Sleman Terkena PHK, Ekonomi Melemah Jadi Pemicu

Dalam waktu sekitar satu jam, sekitar 96 database yang menyimpan data Freedom of Information Act (FOIA) dan berbagai dokumen investigasi federal berhasil dihapus.

Selain itu, Muneeb juga disebut mengunduh sekitar 1.805 file milik EEOC ke USB drive dan mengambil informasi pajak federal milik sedikitnya 450 orang.

Sempat Membahas Cara Menghancurkan Jejak

Dokumen pengadilan juga mengungkap percakapan antara kedua saudara tersebut ketika aksi penghapusan data berlangsung.

Sohaib sempat menyadari bahwa saudaranya sedang menghapus database dan menyebut bahwa Muneeb tengah membersihkan backup database perusahaan.

Muneeb tampak menganggap kerusakan tersebut masih dapat dipulihkan karena perusahaan memiliki cadangan data. Namun, keduanya kemudian membahas kemungkinan tindakan yang lebih jauh, termasuk menghapus filesystem dan membuat semacam “kill script”.

Sohaib juga sempat membicarakan kemungkinan memeras perusahaan untuk mendapatkan uang. Muneeb menolak gagasan tersebut karena khawatir tindakan itu justru menjadi bukti keterlibatan mereka.

Setelah menghapus database dan log sistem, kedua saudara itu bahkan memasang ulang sistem operasi pada laptop perusahaan dengan bantuan pihak ketiga yang identitasnya tidak disebutkan.

Digerebek dan Ditangkap

Sekitar tiga minggu setelah aksi penghapusan database, aparat federal menggerebek rumah keduanya di Alexandria, Virginia.

BACA JUGA:  Komunitas Hardcore Seoul dan Metal Jepang Galang Solidaritas untuk Pekerja Indonesia

Dalam penggeledahan tersebut, aparat menyita berbagai perangkat teknologi dan tujuh senjata api. Kepemilikan senjata oleh Sohaib menjadi persoalan tambahan karena ia dilarang memiliki senjata api berdasarkan riwayat kriminal sebelumnya.

Keduanya kemudian ditangkap pada 3 Desember 2025 dan menghadapi sejumlah dakwaan pidana federal.

Muneeb menandatangani kesepakatan pengakuan bersalah pada April 2026. Namun, belakangan ia berusaha mencabut pengakuan tersebut melalui surat tulisan tangan dari penjara. Ia mengklaim mendapatkan bantuan hukum yang tidak efektif dan menyatakan keinginan untuk membela dirinya sendiri di pengadilan.

Sementara itu, Sohaib memilih menjalani persidangan.

Pada 7 Mei 2026, juri federal menyatakan Sohaib bersalah atas konspirasi penipuan komputer, perdagangan password, serta kepemilikan senjata api secara ilegal.

Opexus Akui Ada Kelalaian

Kasus tersebut turut menyoroti prosedur keamanan internal Opexus. Perusahaan mengakui telah melakukan pemeriksaan latar belakang sebelum merekrut kedua bersaudara tersebut. Namun, pemeriksaan tambahan dinilai seharusnya dilakukan.

Opexus juga mengakui bahwa proses pemecatan tidak ditangani dengan semestinya. Salah satu kelalaian paling fatal adalah akun Muneeb yang masih aktif setelah dirinya diberhentikan.

Akun yang seharusnya segera dinonaktifkan tersebut justru menjadi celah yang memungkinkan Muneeb mengakses jaringan perusahaan dan menghapus puluhan database pemerintah federal AS.

Kasus ini sekaligus menjadi peringatan mengenai pentingnya pengamanan akses digital, terutama ketika perusahaan yang menangani sistem pemerintah melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan yang memiliki akses istimewa ke database dan infrastruktur teknologi.

(Sumber : kompas.com)