SYDNEY — Pekerja gig economy di Australia memasuki babak baru setelah pengantar makanan berbasis aplikasi seperti Uber Eats dan DoorDash mulai mendapatkan standar upah minimum setidaknya AU$31,30 per jam atau sekitar Rp400 ribu.
Kebijakan yang berlaku sejak Senin (17/8) tersebut menjadi perubahan bersejarah bagi pekerja pengantaran makanan berbasis aplikasi di Australia. Besaran tersebut lebih tinggi dibandingkan upah minimum nasional Australia yang berada di angka AU$26,44 per jam, atau lebih dari Rp330 ribu.
Sekitar 250.000 pengemudi dan kurir makanan diperkirakan terdampak perubahan tersebut. Selain memperoleh standar penghasilan minimum yang lebih tinggi, mereka juga mendapatkan perlindungan berupa asuransi.
Salah satu pekerja gig asal Indonesia yang tinggal di Sydney, Alvien Arief, menyambut perubahan tersebut. Ia selama ini bekerja sebagai kurir makanan bersama Uber Eats untuk mendapatkan penghasilan tambahan di tengah tingginya biaya hidup di Australia.
Menurut Alvien, pendapatan sebagai pengemudi ojol sebelumnya sangat tidak menentu. Dalam kondisi tertentu, ia bisa memperoleh lebih dari AU$32 per jam, tetapi pada waktu lain penghasilannya bisa jauh lebih rendah.
“Pendapatan tergantung order, jam kerja, dan kondisi di lapangan,” ujar Alvien.
Ia berharap standar minimum tersebut dapat memberikan kepastian pendapatan yang lebih baik bagi pekerja gig.
“Dengan adanya perubahan ini, kami sebagai gig workers jadi bisa merasakan pendapatan yang lebih mendekati pekerja pada umumnya, terutama karena ada kepastian mengenai minimum earnings per hour,” kata Alvien.
Menurut dia, kepastian pembayaran per jam membuat waktu yang digunakan untuk bekerja menjadi lebih terjamin kompensasinya.
“Dengan adanya minimum payment yang lebih pasti, setidaknya sekarang kami punya kepastian bahwa setiap jam yang kami habiskan untuk bekerja akan mendapatkan bayaran yang lebih layak,” ujarnya.
Kurir Tak Lagi Hanya Dibayar Berdasarkan Pesanan
Pekerja Indonesia lainnya di Melbourne, Sammy, juga menyambut kebijakan tersebut. Menurutnya, perubahan itu dapat meningkatkan kesejahteraan pengemudi makanan berbasis aplikasi.
Ia menyoroti persoalan waktu tunggu yang sebelumnya tidak selalu diperhitungkan dalam pendapatan pekerja.
“Terutama karena sebelumnya driver tidak dibayar untuk waktu tunggu di restoran atau saat drop off yang kalau diakumulasikan jumlahnya bisa cukup banyak,” kata Sammy.
Meski demikian, Sammy belum tertarik menjadikan pekerjaan sebagai kurir makanan sebagai pekerjaan penuh waktu.
Ia mengatakan pekerjaan lain yang dijalaninya masih menawarkan penghasilan lebih tinggi. Selain faktor pendapatan, Sammy juga mempertimbangkan peluang pengembangan karier serta kemungkinan mendapatkan status permanent resident (PR) di Australia.
“Karena almost impossible saya bisa mendapatkan PR di Australia apabila bekerja sebagai full time food delivery driver,” ujarnya.
Alvien juga belum berencana menjadi kurir makanan secara penuh waktu. Ia masih ingin melihat bagaimana sistem baru tersebut diterapkan di lapangan.
Selain persoalan pendapatan, menurut Alvien, kurir makanan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari menunggu pesanan, menghadapi restoran yang ramai, hingga berinteraksi dengan pelanggan.
Ia sendiri menggunakan sepeda listrik sehingga pekerjaan tersebut secara fisik cukup melelahkan.
Reformasi Pekerja Gig Berlangsung Hampir Satu Dekade
Perubahan standar bagi pekerja gig tersebut merupakan bagian dari reformasi yang diperkenalkan pemerintah federal Australia sekitar dua tahun lalu. Reformasi memberikan kewenangan kepada Fair Work Commission untuk menetapkan standar minimum bagi pekerja berbasis platform agar memperoleh perlindungan yang lebih menyerupai pekerja pada umumnya.
Sebelumnya, sebagian besar pekerja pengantaran makanan berstatus kontraktor independen sehingga tidak memperoleh perlindungan kerja seperti karyawan.
Sekretaris Nasional Transport Workers Union (TWU), Michael Kaine, mengatakan perubahan tersebut merupakan hasil perjuangan panjang yang telah berlangsung selama sekitar satu dekade.
“Ini benar-benar sejarah yang sedang dibuat, bukan hanya di Australia, tetapi di seluruh dunia,” kata Michael.
Aspek keselamatan juga menjadi perhatian serikat pekerja. Menurut TWU, sedikitnya 25 pekerja lepas telah meninggal sejak 2017 dalam konteks pekerjaan tersebut.
Platform Tetap Pertahankan Fleksibilitas
Di sisi lain, perusahaan platform menyatakan reformasi tersebut tetap berupaya mempertahankan fleksibilitas yang menjadi daya tarik utama pekerjaan gig.
Direktur Pelaksana Uber Eats Australia dan Selandia Baru, Ed Kitchen, mengatakan standar baru tersebut memberikan jaring pengaman bagi pekerja sekaligus mempertahankan fleksibilitas.
“Standar ini memberikan jaring pengaman yang terjamin sekaligus melindungi fleksibilitas yang menurut para pengantar makanan adalah hal yang paling mereka hargai,” kata Ed.
Juru bicara DoorDash juga menilai standar minimum baru merupakan hasil kompromi antara industri dan serikat pekerja.
Menurutnya, regulasi tersebut dapat memberikan perlindungan lebih baik kepada pekerja tanpa menghilangkan fleksibilitas yang sejak awal membuat pekerjaan pengantaran makanan menarik bagi banyak orang.
Dengan diberlakukannya standar baru tersebut, pekerja gig di Australia kini memiliki jaring pengaman pendapatan yang lebih jelas. Namun, pengalaman Alvien dan Sammy menunjukkan bahwa keputusan menjadikan pekerjaan kurir makanan sebagai pekerjaan utama tetap dipengaruhi oleh faktor pendapatan, kondisi kerja, pengembangan karier, hingga peluang mendapatkan status tinggal tetap di Australia.
(Sumber : detik.com)











