Nasional

Pencari Kerja Keluhkan Persaingan Makin Ketat di Job Fair, Fresh Graduate dan Batas Usia Jadi Tantangan

70
×

Pencari Kerja Keluhkan Persaingan Makin Ketat di Job Fair, Fresh Graduate dan Batas Usia Jadi Tantangan

Sebarkan artikel ini

Job Seekers Complain About Increasingly Fierce Competition at Job Fairs, with Fresh Graduates and Age Limits a Challenge

Seorang ibu menemani anaknya dalam mencari pekerjaan di Job Fair yang berlangsung di Kuningan, Jakarta Selatan-CNBC Indonesia

JAKARTA– Ajang Jakarta Selatan Career Fest & Bazaar 2026 menjadi secercah harapan bagi ribuan pencari kerja yang ingin kembali memasuki dunia kerja. Salah satunya Egi (27), warga Petukangan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, yang datang bersama ibunya untuk mencari peluang kerja baru setelah memiliki pengalaman di berbagai sektor industri.

Egi mengaku telah bekerja di sejumlah perusahaan, mulai dari jaringan bioskop XXI hingga industri ritel. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi modal untuk bersaing memperebutkan lowongan pekerjaan yang tersedia di job fair.

“Saya sih marketing, pengalaman saya juga ada di restoran, marketing juga ada. Yang mana aja,” kata Egi kepada CNBC Indonesia, Rabu (8/7/2026).

Ia menjelaskan, setelah bekerja di XXI, kariernya lebih banyak berkecimpung di sektor ritel. Salah satu pengalaman yang paling diingat adalah ketika bekerja di Sport Station sebagai penjual produk resmi klub sepak bola Liverpool.

BACA JUGA:  Kemnaker dan HM Sampoerna Gelar Pelatihan bagi Korban PHK dan Pencari Kerja

“Dari XXI itu ke sini-sininya saya ke retail. Waktu itu sempat di Sport Station Liverpool, jual jersey dan merchandise Liverpool,” ujarnya.

Meski telah memiliki pengalaman kerja di berbagai bidang, Egi menilai mencari pekerjaan saat ini jauh lebih sulit dibanding beberapa tahun lalu. Menurutnya, persaingan semakin ketat karena banyak perusahaan lebih memilih merekrut lulusan baru, sementara sebagian lainnya masih menerapkan batas usia dalam proses seleksi.

“Iya mungkin di umur saya yang segini saingannya fresh graduate. Sekarang kebanyakan perusahaan menerima fresh graduate. Dulu waktu saya baru lulus malah nyarinya yang sudah pengalaman. Sekarang saya sudah pengalaman, malah yang dicari yang muda-muda,” tuturnya.

BACA JUGA:  Ratusan Buruh PT NNI Laporkan Dugaan Pelanggaran Ketenagakerjaan ke Disnaker

Keluhan serupa juga disampaikan sang ibu, Rianti Siarafaris, yang sengaja mendampingi putra bungsunya menghadiri bursa kerja tersebut. Ia menilai kondisi pasar tenaga kerja saat ini jauh lebih menantang dibanding ketika dirinya masih berada di usia produktif.

“Oh, susah sekarang. Dulu lebih gampang. Waktu Ibu masih muda cari kerja itu lebih mudah. Sekarang kebanyakan kontrak enam bulan atau setahun,” kata Rianti.

Menurutnya, sistem ketenagakerjaan juga mengalami perubahan signifikan. Jika dahulu pekerja dapat bertahan dalam satu perusahaan selama bertahun-tahun hingga memutuskan mengundurkan diri, kini banyak perusahaan menerapkan sistem kontrak jangka pendek sehingga kepastian kerja menjadi lebih terbatas.

“Dulu lama. Kalau enggak kita yang mengundurkan diri, ya tetap bekerja. Sekarang kontraknya enam bulan, ada yang setahun, bahkan ada yang tiga bulan, tergantung perusahaannya,” ujarnya.

BACA JUGA:  Kemnaker Revisi Aturan Outsourcing, Hanya Empat Bidang Pekerjaan yang Diizinkan

Cerita Egi dan Rianti mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak pencari kerja saat ini. Di tengah tingginya persaingan, preferensi perusahaan terhadap tenaga kerja muda serta masih adanya batas usia dalam rekrutmen menjadi hambatan tersendiri bagi para pencari kerja yang telah memiliki pengalaman. Bagi mereka, job fair bukan sekadar ajang mencari lowongan, tetapi juga menjadi harapan untuk kembali memperoleh pekerjaan yang memberikan kepastian karier. (Sumber:CNBC Indonesia)