Nasional

Emiten Terafiliasi Kaesang Pangarep Terhimpit Modal Kerja, Terlilit Utang Hingga PHK Karyawan

76
×

Emiten Terafiliasi Kaesang Pangarep Terhimpit Modal Kerja, Terlilit Utang Hingga PHK Karyawan

Sebarkan artikel ini

Kaesang-Affiliated Listed Firm Faces Working Capital Crunch, Mounting Debt, and Layoffs

Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep-Suara.com

JAKARTA – PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), emiten pengolahan dan ekspor udang yang terafiliasi dengan Kaesang Pangarep, tengah menghadapi tekanan keuangan akibat keterbatasan modal kerja dan tingginya beban pinjaman perbankan yang nilainya mencapai triliunan rupiah.

Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen PMMP mengungkapkan bahwa kondisi modal kerja yang terbatas membuat perseroan hanya mampu mengoperasikan satu fasilitas produksi (plant), yakni yang berlokasi di Situbondo, Jawa Timur.

Manajemen menyebutkan, kebutuhan modal kerja untuk mendukung operasional perusahaan saat ini diperkirakan mencapai sekitar US$15 juta.

“Kegiatan operasional Perseroan saat ini masih di segmen udang dengan mengoperasikan 1 unit plant di lokasi Situbondo. Selain itu sementara ini perseroan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan pembayaran di belakang setelah hasil ekspor diterima oleh Perseroan,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi yang dikutip Rabu (8/7/2026).

Di tengah tekanan likuiditas tersebut, PMMP juga masih melanjutkan proses restrukturisasi utang dengan sejumlah perbankan. Restrukturisasi pinjaman dengan PT Bank Permata Tbk telah memasuki tahap penandatanganan perjanjian kredit berdasarkan Letter of Offer Nomor 137/BP/LOO/CRC-SBY/COMM/XII/2025 tertanggal 22 Desember 2025.

BACA JUGA:  Dugaan Upah di Bawah UMP dan Iuran BPJS Tak Dibayar, BEM Fakultas Universitas Muhammadiyah Buton Desak Investigasi

Sementara itu, proses restrukturisasi pinjaman dengan PT Bank Resona Perdania, PT Bank SMBC Indonesia Tbk, PT Bank Maspion Indonesia Tbk, PT Bank Central Asia Tbk (BCA), serta Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) masih menunggu persetujuan dari komite kredit masing-masing lembaga.

Berdasarkan rincian kreditur, pinjaman terbesar PMMP berasal dari PT Bank Permata Tbk dengan nilai outstanding mencapai US$53,12 juta dan Rp5,49 miliar.

Selain itu, perusahaan juga memiliki kewajiban kepada:

  • Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebesar US$30,71 juta.
  • PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebesar US$40,29 juta dan Rp834,87 juta.
  • PT Bank SMBC Indonesia Tbk sebesar US$22,80 juta.
  • PT Bank Maspion Indonesia Tbk sebesar US$7,21 juta.
  • PT Bank Resona Perdania sebesar US$5,99 juta.
BACA JUGA:  Enam Tahun Menanti, 422 Eks Pekerja PT Master Wovenindo Label Segera Terima Pesangon

Jika dikonversikan ke dalam rupiah dengan asumsi kurs sekitar Rp16.300 per dolar AS, total kewajiban dalam mata uang dolar tersebut setara lebih dari Rp2,6 triliun, belum termasuk pinjaman yang telah tercatat dalam rupiah.

Untuk memperbaiki struktur permodalan dan menjaga keberlangsungan usaha, PMMP telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Perseroan berencana melakukan rights issue guna memperoleh tambahan modal dari pemegang saham. Selain itu, perusahaan juga akan mengonversi sebagian utang usaha menjadi saham melalui mekanisme mandatory convertible note (MCN) sebagai bagian dari upaya memperkuat neraca keuangan.

Langkah restrukturisasi dan penambahan modal tersebut diharapkan dapat meningkatkan likuiditas perusahaan, mengembalikan kapasitas produksi, serta memperkuat posisi keuangan PMMP di tengah tantangan industri pengolahan hasil perikanan dan ekspor udang yang masih menghadapi tekanan pasar global. (Sumber : cnbcindonesia.com)

BACA JUGA:  Kemenaker Telusuri Isu PHK Karyawan TikTok dan Tokopedia